Sabtu, 17 November 2018 |
Suaro Wargo

Muhammad Syafrizal Bakhtiar: Cara Mengatasi Kejenuhan Dalam Belajar Matematika

Selasa, 26 Juni 2018 18:27:53 wib

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Belajar adalah proses perubahan tingkah laku secara sadar sebagai akibat dari interaksi antara peserta didik dengan sumber-sumber atau objek belajar, baik yang sengaja dirancang ataupun tidak sengaja dirancang namun dimanfaatkan. Proses belajar tidak hanya terjadi karena adanya interaksi antara peserta didik dengan guru, tetapi dapat pula diperoleh lewat interaksi antara peserta didik dengan sumber-sumber belajar lainnya.

Pembelajaran matematika, salah satu diantara tujuannya adalah membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Untuk mencapai tujuan tersebut memang tidak mudah. Berbagai presepsi awal yang dimiliki siswa terhadap pelajaran matematika, telah membentuk sikap yang beragam. Ada yang memiliki minat yang tinggi terhadap matematika. Hal ini tentu dikarenakan pengalaman belajar yang pernah mereka rasakan.

Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap persepsi negatif siswa terhadap matematika adalah karena kejenuhan yang mereka alami selama belajar matematika. Sikap jenuh yang mereka rasakan bisa disebabkan karena ketidakmampuan mereka mengerjakan setiap soal yang diberikan, atau juga karena mereka sukar untuk memahami materi yang diajarkan. Kejenuhan ini juga sering ditimbulkan oleh guru pengajarnya. Karena guru kurang memiliki kemampuan dan tidak menguasai metode, strategi dan pendekatan belajar yang dapat membuat suasana belajar menjadi menyenangkan dan membangkitkan minat.

Sebelum kita mengatahui langkah langkah mengatasi kejenuhan lebih baik terlebih dahulu kita mengetahui penyebab kejenuhan itu terjadi pada siswa :

Faktor Siswa Tidak Menyukai Pelajaran Matematika

Sudah menjadi rahasia umum kalau pelajaran matematika merupakan pelajaran yang paling susah dan paling dibenci banyak murid di sekolah. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi mereka yang cinta mati dengan pelajaran tersebut dan untuk mereka yang menyukai tantangan dalam berhitung baik itu menghitung uang, memperkirakan potongan diskon, dan menghitung lainnya.

Mereka yang tidak menyukai pelajaran ini terkadang akan menganggap pelajaran ini adalah mimpi buruk yang membuat frustasi. Sehingga, mereka akhirnya tidak serius didalam belajar dan bermalas-malasan sehingga mendapatkan nilai jelek saat ujian.

Ada beberapa faktor yang membuat pelajaran ini berbeda dari yang lainnya dan membuat pelajaran ini menjadi tidak disukai. Selain soal hitung menghitung, pelajaran matematika juga harus memiliki logika yang kuat, menghafal rumus, dan berbagai faktor lainnya. Berikut beberapa faktor yang membuat pelajaran ini tidak disukai oleh murid.

1. Guru Yang Membosankan
Matematika adalah pelajaran angka. Jika seorang guru hanya terpaku pada angka dan rumus baku, maka jalannya proses belajar akan terasa membosankan. Kalau sudah begini, siswa akan bosan, mengantuk, dan tak lagi fokus pada pelajaran. Apalagi saat sekolah dasar (SD) dulu, satu guru mengajarkan banyak pelajaran, salah satunya matematika. Jika guru tersebut juga kurang suka matematika, bisa dipastikan suasana pembelajaran akan terasa membosankan. Padahal masa-masa SD adalah tahapan dasar untuk membentuk pondasi pola pikir dalam memandang suatu pelajaran.

2. Tidak Ada Jalan Ceritanya yang Ada Hanya Angka dan Angka
Setiap orang suka bercerita. Apalagi jika kisah itu bagus, pasti banyak orang yang mau mendengarkannya. Namun seringkali guru matematika tidak menabahkan cerita ketika sedang mengajar, Alhasil matematika terasa membosankan.

Membangun cerita ketika sedang mempelajari sesuatu adalah metode yang kerap dipakai untuk mengajar. Hampir semua mata pelajaran punya kisah yang dapat diceritakan. Namun matematika tetaplah pelajaran logika dan fakta, tidak semuanya mengandung cerita menarik. Terlebih jika diajarkan pada anak usia dini, mereka akan cepat bosan.

3. Ada Banyak Rumus untuk Memecahkan Soal Sederhana.
Untuk memperoleh angka 15 saja, ada banyak rumus yang bisa kamu pakai, misalnya 5x3, 10+5, atau 18-3. Maksudnya, untuk memecahkan persoalan matematika, kamu bisa memakai berbagai rumus untuk mendapatkan suatu jawaban yang sama. Inilah yang terkadang membuat siswa kebingungan. Belum lagi ada berbagai rumus dan turunannya. Dalam suatu kondisi, kamu pasti pernah merasa kebingungan memilih rumus yang hendak kamu gunakan.

4. Tidak Tahu Fungsi dan Korelasi Satu Sama Lain.
Tiada hari tanpa rumus, logika, dan konsep dalam matematika yang terkadang tidak memiliki keterkaitan satu topik dengan lainnya. Yang perlu kamu lakukan adalah memahami konsep, menemukan rumus yang tepat, kemudian menyelesaikan persoalan.

Pada akhirnya, meski kamu sudah benar dalam menjawab soal dan mendapat kepuasan batin, ada pertanyaan yang mungkin mengganjal di benakmu: Apakah rumus-rumus itu berguna untuk kehidupan sehari-hari? Jika iya, bagaimana penerapannya?

5. Tidak Bisa Dihapalkan
Hampir semua pelajaran memiliki metode pembelajaran dengan hapalan, contohnya Sejarah, Biologi, Geografi, atau Bahasa Inggris. Lain halnya dengan matematika. Meskipun kamu sudah hapal rumus-rumusnya di luar kepala, belum tentu penerapannya berjalan mulus.

Setiap hari kamu mungkin sudah latihan menggunakan berbagai jenis rumus, namun ketika ujian tiba, kamu nggak bakal menemui soal yang sama. Rumus boleh sama, tapi soalnya beda. Itulah matematika.

6. Sulit Dipahami
Pemahaman konsep dasar dalam matematika sangatlah penting. Kalau kamu nggak bisa memahami konsep perkalian dasar atau perhitungan campuran, maka kamu bakal kesulitan memecahkan soal tingkat lanjut. Matematika dianggap sebagai mata pelajaran sulit salah satunya karena faktor ketidakpahaman konsep.

7. Terpengaruh Omongan Hater Matematika
Alasan utama kenapa banyak orang benci dengan matematika adalah karena mereka terpengaruh omongan orang lain. Secara tidak langsung, otakmu akan tersugesti oleh omongan negatif terhadap mata pelajaran ini.

Orang tuamu mungkin pernah bilang begini, "Ayah dulu pelajaran matematika cuma dapat nilai 5!" Sementara itu, kakakmu mengatakan," Guru matematikaku dulu killer dan pelit nilai banget." Ucapan-ucapan miring seputar matematika tersebut bakal membuatmu ikut-ikutan tidak suka kepada mata pelajaran yang satu ini.

8. Gampang Menyerah
Bagi anak-anak yang masih berusia dini, berhasil menorehkan prestasi memiliki kebahagiaan tersendiri. Mereka belum terbiasa dengan kegagalan. Ketika gagal, mereka akan gampang menyerah dan nggak akan mau mencoba lagi.

Sama halnya ketika mereka belajar matematika. Mereka akan kehilangan minat terhadap pelajaran ini ketika salah dalam menjawab soal. Oleh karenanya, sangat penting untuk memahami bahwa matematika bukan sekedar soal hitung- hitungan, tapi uji mental agar tidak gampang putus asa. 
      
Cara Mengatasi Kejenuhan Belajar

1. Memberikan Motivasi
Pemberian motivasi kepada siswa-siswa dalam kegiatan interaksi belajar mengajar merupakan suatu hal yang penting sekali. Dengan terangsangnya  motivasi siswa, maka siswa-siswa akan lebih giat sehingga dengan demikian dapatlah diharapkan prestasi belajar siswa akan menjadi lebih baik. Ada dua jenis motivasi yakni, Motivasi ekstrinsik dan Motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi karena adanya perangsang dari luar sepertinya misalnya orang yang belajar giat karena diberitahu bahwa sebentar lagi akan ada ujian, orang bekerja rajin karena mengharap upah dan sebagainya. Motivasi intrinsik, yaitu motif-motif yang berfungsinya tidak usah dirangsang dari luar, akan tetapi memang dari diri individu sendiri telah ada dorongan itu. Misalnya orang gemar membaca yang tidak usah merangsangnya telah mencari sendiri buku-buku untuk dibacanya, orang yang rajin dan bertanggung jawab yang tidak usah menanti komando sudah belajar sebaik-baiknya.

2. Membuat Lingkungan Belajar Lebih Menarik
Faktor yang dapat mempengaruhi nya antara lain:

  • Media pembelajaran yang cukup baik misalnya diruang kelas terdapat rumus rumus (Penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian ).
  • Guru yang baik seperti guru yang mengerti siswa nya tidak memarahi siswa nya karena pada usia peserta didik tersebut rawan sekali mengalami trauma dan penurunan mental saat ditegur sama guru secara berlebihan.
  • Teman yang mendukung, teman sangat berperan penting dalam lingkungan belajar ini sebab teman sumber penyemagat antar peserta didik.

3. Menciptakan Suasana Belajar Yang Menyenangkan

Suasana belajar yang menyenangkan merupakan salah satu cara untuk mengatasi kejenuhan dalam belajar dan menghindari belajar dengan suasana tegang atau kaku apalagi menakutkan dalam belajar, menyisipkan humor humor yang mendidik, tidak memberikan soal soal yang sulit, jika seorang guru mampu membuat suasana belajar sangat menyenangkan itu akan membuat para peserta didik lebih senang dalam belajar. 

4. Mengadakan Refresing
Untuk menghilangkan rasa jenuh, bosan dan penat dalam belajar, siswa diberikan suasana refreshing, caranya bisa dengan menyertakan musik dalam ruangan belajar, memberikan permainan-permainan, simulasi-simulasi yang terkait dengan materi belajar. Pada saat-saat tertentu, ajak siswa belajar diluar kelas, seperti di taman, di lapangan dan lain sebagainya.

5. Kemauan Kuat
Rasa jenuh dalam belajar matematika sering muncul, apalagi ketika sedang menghadapi soal yang belum menemukan solusi setelah beberapa kali mencobanya. Siswa yang pandai sekalipun pasti pernah mengalaminya. Rasa jenuh ini bisa diatasi dengan adanya kemauan atau tekad yang kuat, maka rasa jenuh akan hilang.

6. Jangan Dipaksakan
Segala sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa, tentu tidak akan mendapat hasil yang maksimal. Begitu pula dalam belajar matematika, hendaknya jangan dipaksakan bila tak sanggup. Hendaklah berhenti sejenak, lakukan kegiatan yang disenangi atau melaksanakan ibadah untuk menenangkan pikiran. 

 

...
Ditulis Oleh:
Nama: Muhammad Syafrizal Bakhtiar
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Prodi Tadris Matematika

 

 

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

Top