Selasa, 19 Desember 2017 |
Wisata & Budaya

"Oleh-oleh" Dari Festival Kampung Penyengat Olak

Senin, 05 Desember 2016 07:46:36 wib
Tradisi membuat tepung beras

JAMBIDALY BUDAYA-Nilai-nilai luhur manajemen kepemimpinan dan  kekayaan budaya yang penting untuk dikembangkan. Mungkin itulah salah satu catatan dan "Oleh-oleh" penting dari Festival Kampung Penyengat Olak, 3-4 Desember 2016.

Dari perhelatan hasil penelitian LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Nurdin Hamzah Jambi dan dukungan Pemerintah Desa Penyengat Olak, terlihat bagaimana peran adat dan nilai-nilai gotong royong dapat menjadi salah satu strategi kepemimpinan.

Orasi Kampung Oleh Kades Ulya"Dengan kekuatan "Tiga Benang Sepilin"banyak persoalan di desa kami, dapat diselesaikan dengan baik. "Tiga benang sepilin" merupakan sinergitas tokoh adat, tokoh agama dan pemerintah desa,"ungkap Ulya, yang merupakan Kepala Desa Kades wanita pertama se-Kecamatan Jaluko Kabupaten Muaro Jambi.

Dalam "Orasi Kampung" yang dihadiri Budayawan Jambi, Jakfar Rassuh, tokoh-tokoh adat, Camat Jaluko dan sejumlah undangan lainnya, Kades dua periode itu menuturkan bagaimana peliknya di awal kepempinannya.

Namun karena dukungan tokoh-tokoh adat, para tuan guru, maka semangat kepempinan menjadi kuat.

Tak hanya Strategi kepemimpinan saja, melalui kegiatan tersebut, terlihat bagaimana kekayaan sejarah, pengembangan cagar budaya dan nilai-nilai gotong royong yang saat ini perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pembangunan bangsa.

Seperti terlihat dari pertunjukan tradisi tumbuk tepung dan sirih orek yang telah punah. Bagaimana nilai-nilai kebersamaan antar sesama dan hubungan dengan alam semesta, menjadi "energi" yang luar biasa.

Dulu, masyarakat kampung penyengat olak menggunakan lesung untuk membuat tepung dari padi.  Tapi kini tradisi tersebut telah punah, orang lebih memilih ke mesin penggilingan.

Padahal cara tradisional seperti ini lebih memiliki nilai gizi yang tinggi.
Proses menumbuk padi menjadi tepung tidak sembarangan, untuk mengambil padi yang akan ditumbuk, orang-orang tua harus duduk seperti bertahiyat untuk menghormati padi yang mengenyangkan kita.
  Baru kemudian dibawa kelesung, ditumbuk dan diayak serta disaring untuk mendapatkan tepung yang bagus.

Demikian pula tradisi sirih orek, tradisi yang memberi efek pada kesehatan gigi.  Sirih orek terdiri dari daun sirih, pinang, kapur, di orek menggunakan alat seperti bambu, kemudin baru dimasukkan kemulut untuk bersirih.

Tak hanya itu, melalui agenda Sejarah Kampung, yang disampaikan Guru Ayub, sebagai salah satu tokoh masyarakat Penyengat Olak, tergali, bagaimana asal mula desa mereka, dan tentu menambah pengetahuan bagi generasi muda mereka khususnya dan Provinsi Jambi. Bahkan di Desa ini juga terdapat rumah mantan penghulu yang saat ini telah berumur 350 tahun, yang tentunya dapat digagas sebagai cagar budaya.

Ketua Pelaksana, Wenny Ira Reverawaty, S.IP MHum, mengatakan,  Kegiatan ini sebagai upaya membantu lembaga adat dan pemeirntah Desa Penyengat Olak untuk melestarikan tradisi, budaya dan kearifan lokal Desa penyengat Olak.

"Ini setelah kita melakukan penelitian selama dua tahun melalui program officer  dan community Organizer, project Rural Community Development terhadap lembaga adat desa dan pemerintah desa,"jelas Magister Hukum UGM Yogyakarta ini.(*)


Penulis/Editor   : Hery FR

 

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

Top