Minggu, 15 September 2019 |
Jurnal Publik

Pawai Pembangunan Itu untuk Siapa,?

Senin, 21 Agustus 2017 09:15:34 wib

KOPI RAINA-SEMARAK boleh kita sematkan dikerah Baju milik Pawai Pembangunan yang terangkum dalam rangkaian kegiatan dalam rangka meriahkan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, penuh atraksi, penuh warna komunitas dan beragam kemolekan dari Kendaraan Hias.

Pada Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-72 kali ini, Pawai pembangunan hadir dengan peserta yang lebih banyak jika kita melihat perbandingan di tahun 2016, jambidaily.com melansir bahwa ada 37 Peserta berbagai Komponen masyarakat, dan lainnya yang tidak terdata detail ditambah 39 Kendaraaan Hias, sementara tahun 2017 ada 104 Komponen Masyarakat dan 78 Kendaraan Hias, terlihat ada penambahan secara Kuantitas.

Hal tersebut dipertegas dengan pernyataan Ketua Pelaksana Kegiatan, Didin Sirojudin,S.Sn saat pawai Pembangunan berlangsung, (Sabtu,19/08)

"tahun ini, peserta semakin banyak terutama dari paguyuban Seni daerah maupun Seni Beladiri, lalu anak-anak Komunitas sepeda kita berikan Tema dengan berkostum Perjuangan. Ada 104 Peserta dari Berbagai Sekolah, Komunitas, Instansi dan lain-lain, itu jumlah peserta selain Kendaraan Hias, untuk kendaraan Hias yang terdaftar ada 58 peserta namun yang terdata dan datang pada hari ini ada 78 Peserta," Terang lelaki yang lebih dikenal dengan nama Didin Siroz.

Tidak menampik dari pernyataan Didin Siroz, secara kasat mata ada peningkatan dibuktikan dengan data, tentu ini suatu sajian dan hiburan tersendiri bagi warga kota Jambi yang hanya ada saat Momentum Perayaan hari Kemerdekaan, kita perlu acungkan jempol berikan Apresiasi.

Bahkan Pengunjung yang datang sampaikan pujiannya akan pawai, terlepas dari adanya peningkatan secara kuantitas untuk perhelatan kali ini. "ini bagus, menjadi hiburan tersendiri bagi kami warga kota Jambi, untuk saya pribadi minimal ya....ada tontonanlah," Tutur salah satu pengunjung yang malu-malu untuk menyebutkan namanya kepada jambidaily.com.

Saat, setelah saya bersiap untuk melaksanakan Tugas sebagai Jurnalis pada kegiatan pawai, sambil saya menikmati segelas Kopi Hangat, Raina bertanya seperti biasa dia lakukan ketika melihat saya sudah berpakaian rapi.

"ayah, mau kemana,? Kerja ya yah,?" saya menjawab datar pertanyaan Raina "iya nak, ayah pergi kerja, mau ngeliput Pawai" namun diapun kembali melancarkan pertanyaannya "Pawai,? itu apa yah, itu untuk siapa yah,?" saya pikir pertanyaan biasa, ketika ada kata untuk siapa,? menjadikan saya berpikir, iya juga ya...itu Pawai pembangunan untuk siapa,?

Saya Hanya menjawab tanya Raina dengan singkat itu untuk semua orang, lalu bergegas menuju titik terakhir pawai atau tepat di Depan Rumah Dinas Gubernur Jambi yang telah disiapkan semacam panggung untuk Sang Gubernur dan Tamu Kehormatan lainnya.

Sesampainya disana, saya Berputar-putar dan bolak-balik dengan kendaraan Roda Dua alias Motor untuk mencari Lokasi Parkir yang bisa membuat saya cepat menuju Titik Akhir dari Pawai. Saya memutuskan melewati Jalan yang melintas di depan Rumah Sakit Bhayangkara, tembus disebelah kiri dari Titik tersebut setelah parkir bergegas ternyata ada begitu banyak Penonton sehingga saya tidak  bisa meloloskan diri kedepan walaupun tubuh saya yang tergolong kurus.

Saya coba menunggu, mungkin ada peluang saya menembus tetapi bukannya bisa melewati, malah ada adegan Ibu-ibu marah ke Ibu lainnya dengan kata-kata kasar, dengan membawa Dua anaknya kisaran umur 5 dan 3 Tahun pergi kebelakang. Tertegun sesaat saya bingung, kenapa itu Ibu dengan penuh Emosi, Oh mungkin cuaca yang sudah mulai terasa Panas pada Pukul: 09.20 Wib sehingga gampang meledak amarahnya. Akhirnya saya coba memilih jalur lain, yang akan melewati tepat disamping Rumah Dinas Kapolda Jambi, dan saya pun parkirkan Kendaraan saya disana, lalu bergegas menuju Titik tersebut.

Disana saya mengamati baik dari Pawainya maupun penontonya, dan kembali timbul dipikiran tentang pertanyaan Raina saat saya menikmati segelas Kopi seduhan Sang Istri.

Jika kita singgung masalah biaya, saya pikir ya lumayan besar untuk membuat kegiatan sekelas pawai Pembangunan, tetapi berapa ya,? Saya juga tidak tau, Ujang Hariadi selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi, mengaku tidak mengetahui biaya yang dikeluarkan.

"wah, kalau itu saya tidak mengetahui, karena kami dari Dinas Pariwisata hanya mengkoordinir kegiatan, selebihnya bukan," Tuturnya saat mendampingi peserta yang berasal dari Dinas Pariwisata saat Uji Tampil jelang keberangkatan menuju Pawai Budaya secara Nasional, 25 Agustus 2017 di Kota bandung, Jawa Barat.

Kita lihat dari Suguhan Pawai, walau ada penambahan banyaknya peserta tetapi tampilan tidak jauh berbeda, Judulnya adalah Pawai pembangunan, Justru Kesimpulan dari pertunjukkan ini terletak pada Kendaraan Hias, disanalah terlihat dari Dinas-dinas, Perusahaan Swasta, dari Kabupaten dan Kota, lebih menunjukkan bagaimana asal mereka. Lantas yang lainnya, ya...saya pikir ada beberapa yang tidak mengena dengan Pawai Pembangunan, jikalah memang itu juga adalah bagian dari Pembangunan, mengapa terkesan kurang berkonsep,? Alangkah baiknya, Misalkan, misalkan Lho ya bukan menggurui, yaitu Ada Pawai Seni dan Budaya, Pawai Pelajar, Pawai Drum band, Pawai Olahraga karena terlihat lumayan banyak peserta dari Perguruan macam-macam Beladiri di pawai pembangunan dan pawai-pawai lainnya. 

Jika menilik di luar sana mengapa mereka ketika Pawai atau Karnaval itu benar-benar ditunggu, bahkan wisatawan luar juga rela datang jauh-jauh, karena memiliki konsep yang baik, menarik, unik dan berkesan, misalkan Karnaval Lemon, semua isi di dalam karnaval tersebut bertema lemon, Mobil bentuk lemon, Gedung bentuk lemon, apapun itu bentuknya lemon, berbahan lemon. Lah Pawai Pembangunan kita ada sepeda, ada Beladiri dengan atraksi Mecahkan Genteng, kaca, bahkan lempengan besi patah, ada Mobil tak berhias hanya pakai Spanduk Tulisan dan banyak lagi. Selain itu juga ada Karnaval Ikan Tuna di Australia dan banyak lagi. 

Atau kejauhan lihat Negara orang lain, di Negara kita seperti Karnaval Fashion di Jember yang telah masuk dalam agenda Nasional bahkan dikenal dunia, masih jauh juga,? Naahh....kita juga bisa belajar di Provinsi sendiri yaitu Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci di Kabupaten Kerinci, kan juga masuk agenda nasional, ya iyalah karena jelas konsep dan tujuannya, Wisata dan budaya menjadi kemasan. 

Tentu Pawai pembangunan ada tujuan yang ingin dicapai dari semua Sisi, harapannya kedepan bisa membawa Wisatawan luar Provinsi Jambi untuk datang, nanti lah ya mikirkan wisatawan luar Negeri, yang lokal saja sudah bagus jika mereka sudi datang untuk menyaksikan. Ya hemat saya, Pawai Pembangunan setiap tahun memiliki tema Khusus atau judul kecilnya, sehingga dengan harapan dapat menggiurkan wisatawan datang Ke Kota Jambi saat kegiatan, tentunya akan memberikan pemasukan, susah lho supaya orang mau mengeluarkan uangnya dari dompet, apalagi lagi ngutang, hahahaha.....

Upzzz kok jadi ketawa, ya udah kita lanjutkan kali ini Melihat dari Jalur yang dilintasi Pawai Pembangunan, dimulai dari Jalan Gatot Subroto, lalu Jalan Dr.Wahidin dan sampai di Jalan Sultan Thaha Pasar kota Jambi kemudian Menuju Rumah Dinas Gubernur. Kawasan jalan Dr.Wahidin adalah Pasar yang padat dan memiliki Jalan tidak besar, saat pawai yang memakan durasi waktu 4 s.d 5 jam tentu membuat konsumen akan terganggu, jelas akan sedikit merugikan omset penjualan pedagang disana, belum lagi di Jalan Sultan Thaha, yaitu Pasar Tradisional terbesar yaitu Pasar Angso Duo, Wiltop Hotel, dan Pusat Perbelanjaan WTC Batanghari.

Sebelumnya pada garis awal yaitu di Jalan Gatot Subroto, Jalan ini adalah jantungnya Pasar kota Jambi, dan termasuk kawasan Bisnis dengan lalu lintas kendaraan yang padat pada Jam-jam pelaksanaan Pawai, disana menjadi penghubung seperti Hotel Grand Malioboro, Hotel Pundi Rejeki, Hotel Abadi, Abadi Suite Hotel dan Novita Hotel, Nahh...kali ini dilaksanakan pada Hari Sabtu, Hari yang notabene adalah Akhir Pekan, Kebutuhan Tamu mereka jika akan Menuju Bandara akan mencari Jalur yang memakan waktu, Benar kan,? 

Dengan ramainya kerumunan Penonton, sudah barang tentu dan sangat mustahil kendaraan dapat melintas layaknya hari tanpa pawai. Hal lainnya hari Sabtu, jangan disama ratakan dengan Para Pegawai Negeri Sipil yang Libur, Toh, Swasta itu pada umumnya tetap kerja mereka, ya mau diapain namanya juga karyawan. Apakah itu tidak menjadi pertimbangan lain,? Disana jalan-jalan yang tersita tentunya sedikit mengganggu Bisnis dan perekonomian Pedagang yang ada di Pasar, secara gitu loh....jantungnya pasar kota Jambi ada disana.

Jika memang Titik Akhir itu haruslah di depan Rumah Dinas Gubernur, atau karena sudah menjadi gambaran di Masyarakat bahwa setiap Pawai Pembangunan saat Perayaan Kemerdekaan disana, mungkin rutenya yang bisa menjadi pertimbangan berubah atau titik mulainya berganti.

Misalkan, ini lagi-lagi Misalkan ya bukan Menggurui para Tua-tua, nanti saya kualat. Di Jalan Dr.Setia Budhi yang melintasi Depan Rumah Sakit Budhi Graha, lalu melewati Jalan raden Pamuk melintasi Depot Pertamina menuju Rumah Dinas Gubernur Jambi, rasanya cukup baik. Disana jalan memiliki Dua Jalur dan luas, tentu bisa satu jalur untuk penonton lantas satunya untuk Lintasan pawai,  Volume kendaraan tidak terlalu banyak, hanya saja satu jalur dari Depot Pertamina Hingga simpang Sejinjang tidak diisi Penonton jadi bisa untuk Mobil Angkutan Pertamina lewat untuk keluar masuk, gawat juga jika tidak bisa lewat bisa pada mogok kendaraan kita. Berikut Peta jalur (Capture Google Map/Google.co.id) *Pertama Jalur yang dipakai; *Kedua Jalan Dr.Setia-Jalan Raden Pamuk;

Jalan Dr.Setia Budhi sangat panjang, itu bisa dimanfaatkan sebagai Kumpulnya peserta Pawai, selain itu Satu Jalur bisa berikan Tenda dengan jarak persekian meter, alangkah baiknya ada Tenda tanpa kursi dapat membuat penonton nyaman berteduh, kalau Tamu Kehormatan di depan Rumah Dinas ya tidak tau rasanya. Tenda itu juga untuk menciptakan tertibnya penonton agar tidak sibuk mencari tempat teduh. Bagaimana kebayang lah ya kira-kira,?

Andaikan pawai Pembangunan ini kedepannya benar-benar tersaji dengan baik, menarik, unik dan berkesan bagi siapa saja penonton yang datang, sudah barang tentu akan menjadi Agenda Nasional, harapannya dapat mendatangkan wisatawan, berimbas kepada perekonomian, pemasukan bagi pebisnis juga bagi pedagang.

Kalau begitu bagaimana dengan yang sudah terlaksana, untuk Siapa,? kata Raina. Dalam penglihatan saya, entah itu karena egois atau perasaan saya sendiri, Pawai Pembangunan hanya untuk memamerkan diri kepada Gubernur tentang keberadaan mereka, tidak peduli penonton yang ada, yang penting Cuma melintas di depan Gubernur Jambi, dapat melambaikan Tangan atau kalau beruntung bersalaman. Perlu diketahui tidak semua peserta Pawai melakukan atraksi sebelum sampai di depan Gubernur, kebanyakan mereka (Bukan semuanya ya) hanya lewat saja sesampainya di depan Gubernur barulah unjuk Gigi, walaupun terlihat ompong, ada juga terlihat bekas cabe mungkin sarapan lontong sebelum pawai sehingga tampak berkilau kena sinar Matahari.

Ya, cukup segitulah kita bahas bukan menghujat bukan juga menggurui, agar lebih baik agar baiknya lebih, untuk Siapa,? jawabannya ada di diri anda dan keinginan anda, Maju Terus negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Semoga Bermanfaat. Salam Kopi Raina,!


Penulis: Hendry Noesae

KOMENTAR DISQUS :

Top