Minggu, 08 Desember 2019 |
Ekonomi - Jurnal Publik

Peran Nyata Bank Indonesia Kembangkan Potensi Daerah, Kopi Arabika Kerinci Warnai Cita Rasa Dunia

Sabtu, 23 November 2019 15:06:55 wib
Hasil Produksi Kopi Koperasi Koerintji Barokah Bersama/Foto: Hendry Noesae/Jambidaily.com)

JAMBIDAILY JURNAL - Jika bicara Kopi maka tidak ada kata habisnya, kenikmatan keunikan rasa yang ditawarkan setiap daerah penghasil Komoditas ini menjadi buruan para penikmat, bukan hanya dalam negeri namun hingga ke seantero dunia. Kopi tidak hanya memiliki satu jenis saja, ada beragam spesies, ragam nama menurut daerah tumbuh, dimasa kini kopi juga dibedakan menurut cara pembuatan.

Kopi merupakan marga sejumlah tumbuhan berbentuk pohon yang beberapa diantaranya menjadi bahan dasar pembuatan minuman penyegar kopi. Genus ini memiliki sekitar 100 spesies, tetapi dari 100 spesies itu hanya dua yang memiliki nilai perdagangan penting sebagaimana dibeberkan sejumlah referensi, juga menyebut bahwa jenis kopi berdasar spesiesnya dan dikonsumsi orang-orang di penjuru dunia adalah: Arabika, Robusta atau canephora, Liberika. Lalu kopi dibedakan menurut daerah di mana tempatnya tumbuh, contoh di Indonesia, yaitu: Gayo, Kintamani, Flores, Jawa, Lanang, Luwak, Sidikalang, Mandailing, Java preanger, Kintamani, Toraja, Bajawa, Wamena dan lainnya. Kopi juga dibedakan menurut cara penyajian sehingga menjadi minuman. Jenis minuman kopi dibagi menjadi dua, espresso based dan manual brew. Beberapa jenis espresso based yang populer: Espresso, Americano, Cappuccino, Latte, Affogato. Kemudian beberapa jenis manual brew yang populer: Moka pot, Rok presso, Kopi tubruk, Pour over, Vietnam drip, dan lainnya.

Dari daerah-daerah penghasil Kopi di Indonesia dan telah memiliki nama tersohor tersebut, masih ada lagi yang kini menunjukan daya saing berkualitas tinggi dan mampu mewarnai cita rasa dunia. Berada di salah satu kabupaten dalam Provinsi Jambi, Indonesia, yaitu Kerinci. Kerinci ditetapkan sebagai Kabupaten sejak awal berdirinya Provinsi Jambi dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Pada tahun 2011, pusat pemerintahan berpindah ke Siulak. Nama kerinci berasal dari bahasa Tamil yaitu Kurinji, yang merupakan nama bunga yang tumbuh di daerah pegunungan india selatan.

Berjarak 452 Kilometer dari pusat provinsi Jambi, kabupaten Kerinci memiliki dataran tinggi dengan puncak Gunung Kerinci berada pada 3.805 Meter di atas Permukaan Laut (MDPL). Kerinci kaya wisata alam, juga kaya akan komoditas pertanian serta perkebunan, seperti Sayur mayur: tomat, cabai, kubis, labu, wortel, sawi, kol, buncis, kacang panjang, mentimun, kentang, Padi, Tebu, Tanaman hias, dan lain-lain. Kayu-kayuan: Sengon, Jabon. Maka tidak heran Industri turut tumbuh disana, seperti Industri teh; Industri makanan olahan (dodol kentang, keripik kentang, aneka camilan, dan lain-lain); Industri minuman olahan (Teh Kulit Kayu Manis/Teh Kayu Manis, Minuman Herbal dari rempahan, (seperti: Sari Kunyit Sirih, Sari Kunyit Putih, Sari Jahe Merah, Sari Temulawak), sirup kayu manis); Industri pemotongan & pengolahan kayu.

Tetapi tidak hanya itu, kini Kerinci kembali mencuri perhatian dunia lewat komoditas Kopi berjenis Arabika. Berada didataran tinggi, Kopi kerinci tumbuh berkembang sesuai sifat Arabika. Kopi arabika merupakan tipe kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Sebagian besar kopi yang ada dibuat dengan menggunakan biji kopi jenis Arabika. Kopi ini berasal dari Etiopia dan sekarang telah dibudidayakan diberbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India, dan Indonesia.

Dikutip dari wikipedia.org, Sejarah mencatat bahwa penemuan kopi sebagai minuman berkhasiat dan berenergi pertama kali ditemukan oleh Bangsa Etiopia di benua Afrika sekitar 3000 tahun (1000 SM) yang lalu. Kopi kemudian terus berkembang hingga saat ini menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat. Indonesia sendiri telah mampu memproduksi lebih dari 400 ribu ton kopi per tahunnya.

Secara umum, kopi ini tumbuh di negara-negara beriklim tropis atau subtropis. Kopi arabika tumbuh pada ketinggian 600–2000 Mdpl. Memiliki ciri-ciri morfologi tanaman sebagai berikut: kopi arabika memiliki perakaran yang lebih dalam, daunnya tipis, percabangan tanaman yang lentur, dapat tumbuh hingga 3 meter bila kondisi lingkungannya baik serta membutuhkan waktu 9 bulan untuk berbunga dan berbuah. Suhu tumbuh optimalnya adalah 18-26 derajat celcius, biji kopi yang dihasilkan berukuran cukup kecil dan berwarna hijau hingga merah gelap.

(Fasilitas Rumah Pengering atau Dome bantuan Bank Indonesia/Foto: Hendry Noesae/Jambidaily.com)

Potensi ini menarik perhatian Bank Indonesia perwakilan provinsi Jambi, untuk hadir ditengah-tengah masyarakat Kerinci bersinergi dengan dinas perkebunan provinsi Jambi dan Pemerintah kabupaten Kerinci, bersama mengembangkan komoditas Kopi. Peran nyata tersebut sejalan dengan Visi Bank Indonesia "Menjadi bank sentral yang berkontribusi secara nyata terhadap perekonomian Indonesia dan terbaik diantara negara emerging markets"

"Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jambi, masuk membina Koperasi Koerintji Barokah Bersama, pada akhir tahun 2017. Bank Indonesia sangat konsen pengembangan komoditas unggulan di provinsi Jambi, salah satunya kopi. Kenapa Bank Indonesia sangat Konsen,? Salah satu permasalahan perekonomian kita adalah karena adanya defisit transaksi berjalan yang disebabkan besarnya impor dari pada ekspor. Komoditas kopi sangat berpotensi sebagai komoditas ekspor, sehingga diharapkan dengan meningkatnya komoditas ekspor dapat mengurangi defisit transaksi berjalan kita," Terang Didit Wahyu Pradipta selaku Asisten Manager fungsi koordinasi dan komunikasi kebijakan Bank Indonesia perwakilan Jambi (Selasa, 19/11/2019) disela-sela kegiatan Media Gathering.

Penjelasan itu menjadi gambaran Implementasi Misi Bank Indonesia, yaitu:

  • Mencapai dan memelihara stabilitas nilai Rupiah melalui efektivitas kebijakan moneter dan bauran kebijakan Bank Indonesia.
  • Turut menjaga stabilitas sistem keuangan melalui efektivitas kebijakan makroprudensial Bank Indonesia dan sinergi dengan kebijakan mikroprudensial Otoritas Jasa Keuangan.
  • Turut mengembangkan ekonomi dan keuangan digital melalui penguatan kebijakan sistem pembayaran Bank Indonesia dan sinergi dengan kebijakan Pemerintah serta mitra strategis lain.
  • Turut mendukung stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia dengan kebijakan fiskal dan reformasi struktural pemerintah serta kebijakan mitra strategis lain.
  • Memperkuat efektivitas kebijakan Bank Indonesia dan pembiayaan ekonomi, termasuk infrastruktur, melalui akselerasi pendalaman pasar keuangan.
  • Turut mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di tingkat nasional hingga di tingkat daerah.
  • Memperkuat peran internasional, organisasi, sumber daya manusia, tata kelola dan sistem informasi Bank Indonesia.

(Kebun Kopi Koperasi Koerintji Barokah Bersama dan Petani bernama Suryanti/Foto: Hendry Noesae/Jambidaily.com)

Sejak 22 Maret 2018 Bank Indonesia, memberikan dukungan dan penggalangan komitmen kepada 22 orang anggota Koperasi Koerintji Barokah Bersama. Bank Indonesia mengarahkan aspek peningkatan produksi, kualitas produksi dan diversifikasi produk yang dijual. Hingga oktober 2019 tercatat bantuan mengalir berupa pelatihan Q-Grader, fasilitas promosi dalam dan luar negeri, 9 Unit fasilitas rumah pengering, 1 Unit mesin penggiling basah, 1 Unit gudang kopi (dalam proses konstruksi), serta mendorong untuk pengembangan produk berupa bubuk kopi siap jual bahkan produk kompos dari limbah kulit kopi.

Di sisi lain, Rikolto sebagai salah satu NGO yang berwawasan lingkungan memberikan dukungan dalam hal penatalaksanaan hulu hingga hilir produksi kopi agar dengan perinsip kelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Beberapa kegiatan antara lain peningkatann produktivitas dengan membuat kebun contoh berwawasan budidaya berkelanjutan, usaha bisnis Coffe Shop dan Roastery, pemberdayaan petani muda supaya menerapkan prinsip pelestarian lingkungan hingga mendorong digitalisasi dan inklusi bisnis.

"Pada awalnya koperasi ini masih banyak kekurangan, Bank Indonesia membina dari sisi teknis, seperti pelatihan, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan manajemen keuangan dan sebagainya maupun sisi non teknis berupa bantuan material, seperti fasilitas pengering, gudang dan sebagainya dengan harapan dapat berefek pada meningkatnya kapasitas produksi," Tambah Didit Wahyu Pradipta.

Didit, menerangkan peran Bank Indonesia perwakilan provinsi Jambi, membina Koperasi Koerintji Barokah Bersama, selama dua tahun dapat menunjukan kemajuan signifikan pada produksi dengan semakin besarnya kapasitas ekspor mencapi 100 persen.

"Sebelum Bank Indonesia masuk membina Koperasi ini, awalnya kapasitas produksi 40 ton per tahun. Alhamdulillah kurang lebih 2 tahun Bank Indonesia membina, kapasitas produksinya saat ini menjadi 80 ton per tahun, artinya ada peningkatan sekitar 100 persen dari sebelum Bank Indonesia membina. Bank Indonesia hanya menargetkan 2 tahun masa pembinaan dan Opsi 1 tahun perpanjangan. Target kedepan terus mendukung peningkatan kapasitas produksi karena permintaan ekspor di koperasi koerintji barokah bersama, sangat tinggi bahkan belum mampu melayani permintaan lebih besar karena adanya keterbatas produksi. Diharapkan kedepan semakin meningkat kapasitas produksi sehingga dapat memenuhi permintaan kebutuhan dalam negeri dan luar negeri," Pungkas Didit Wahyu Pradipta.

(Didit Wahyu Pradipta/Foto: Hendry Noesae/Jambidaily.com)

Koperasi Koerintji Barokah Bersama terletak di Desa Jernih Kecamatan Gunung Tujuh, kebun kopi yang terhampar seluas 140 Hektar, menyejukkan setiap pengunjung yang datang. Tumbuhan hijau berbuah kemerahan serta kokohnya gunung kerinci tersaji tepat didepan mata. Tentunya dapat juga menarik minat pengunjung menjadi salah satu tujuan Agrowisata selain Kebun Teh Kayu Aro.

Triyono selaku ketua Koperasi Koerintji Barokah Bersama, memberikan kesempatan pada 25 orang peserta media gathering Bank Indonesia, melihat secara dekat kebun kopi, lalu fasilitas pengering kopi, proses penggilingan bantuan dari Bank Indonesia perwakilan provinsi Jambi, dan tidak ketinggalan peserta dapat merasakan hangat dan nikmatnya seduhan kopi.

"Ini jenis kopi arabika, kita berkoperasi sudah memasuki tahun ketiga sejak Juni 2017 sebelumnya bukan koperasi. Kami mendapat pendampingan Bank Indonesia sudah 2 Tahun, Bank Indonesia memberikan bantuan sangat fleksibel dan sesuai keinginan kami, seperti membantu fasilitas rumah penjemuran/pengeringan kopi (dome). Membantu tempat ini, Bank Indonesia memberikan bahan bakunya, untuk merancang bangunan diserahkan pada kami. Kami kini bisa menghasilkan 6-7 Ton per bulan Green Bean sebelumnya 1-2 ton per bulan dengan luas lahan 140 Hektar, dari 110 petani tahun 2018 kini 270 petani dari 8 kelompok tani. Selain dari Bank Indonesia ada juga NGO lain seperti Rikolto berupa peningkatan sumber daya manusia. Produksi kami mampu menembus pasar Luar Negeri seperti Belgia, Amerika, California dan Australia. Untuk dalam negeri seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bali dan lainnya," Jelas Triyono, kepada jambidaily.com (Selasa, 19/11/2019).

Triyono meyakini, Kopi Kerinci memiliki cita rasa berbeda dengan kopi lainnya. Hal itu dibuktikan adanya Sertifikasi Indikasi Geografis (IG) sebagai pengakuan bahwa kopi Kerinci itu berbeda. Hasilnya raihan juara di kompetisi nasional, juga Internasional mampu didapatkan Koperasi Koerintji Barokah Bersama.

(Triyono Ketua Koperasi Koerintji Barokah Bersama/Foto: Hendry Noesae/Jambidaily.com)

"Berdasarkan Indikasi Geografis, tentunya menjadi pembeda. Kopi ini punya ciri khas, unik yang berasal dari kaki gunung kerinci, membedakan dari kopi-kopi yang lain. Ditandai dengan sudah kami dapatkan Sertifikasi Indikasi Geografis sebagai pengakuan bahwa kopi Kerinci itu berbeda. Kami pernah ikut kompetisi Juara 1 Nasional tahun 2017 dan Juara 2 tahun 2018, namun 2019 tidak ikut kompetisi untuk lebih fokus ke produksi. Di Australia pernah mendapat Medali perak, di Paris mendapat penghargaan dan banyak lagi," Tambah Triyono.

Berdasarkan data yang tertera di Koerintji Barokah, Koperasi ini menghasilkan Natural 600 Kilogram, Honey 1,2 ton, BH 1,2 ton, wethull 2,4 ton dan Full wash 1,5 ton. Itu semua kata Triyono tak terlepas dari peran Bank Indonesia, memberikan kemudahan dahulu hanya tersedia kebun kopi dengan hasil volume yang kecil, kali ini sudah mampu melakukan pengemasan. Menariknya Koerintji Barokah sudah mengantongi izin ekspor dan terdaftar sebagai eksportir kopi.

"Kami tidak hanya jual Green Bean namun juga lainnya, Bantuan Bank Indonesia seperti fasilitas pengering ini ada 9 Unit. 4 Unit ada disini dan 5 Unit ada di kelompok tani. Disini kami bisa finishing green bean, pada saat ini kami juga bisa melakukan pengemasan. Bahkan Koperasi Koerintji Barokah Bersama telah memiliki izin ekspor, harapannya kedepan bisa ekspor sendiri. Saat ini masih mengirikan lewat Belawan-Medan, kami akan melakukan assesment dengan pihak provinsi terkait fasilitas di pelabuhan Talang duku, mengingat kopi sangat sensitif dengan aroma-aroma lain dan harus ada gudang khusus, tidak bisa dicampur. Jika pelabuhan Talang Duku memiliki fasilitas tersebut, tentu akan menghemat biaya pengiriman berdampak pada kami para petani disini," Uajr Triyono.

Ketika disinggung apakah awalnya belum menikmati ekspor, sebelum ada pembinaan Bank Indonesia,? Lelaki ramah dan besahaja ini menyatakan ada namun volume sangat kecil, fasilitas bantuan Bank Indonesia memberikan efek pada hasil produksi dengan peningkatan nyata adanya. 

"Tempat ini sebagai fasilitas pengering dan penyortiran kopi setelah panen dari kebun, penjemuran membutuhkan waktu 21-25 hari sampai kering, nanti warnanya akan kekuning-kuningan, kemudian bijinya keras. Lamanya proses pengeringan tentu sangat membutuhkan Fasilitas rumah pengeringan berkapasitas besar dan lebih banyak, Bank Indonesia menjawab kebutuhan kami. Sebelum ada pembinaan dari Bank Indonesia volume produksi untuk ekspor hanya 1-2 ton per bulan, berkat fasilitas rumah pengering produksi kami semakin besar, mencapai 6-7 ton per bulan," Pungkasnya.

Pada kesempatan ini, salah satu pemetik kopi, Suryanti (36) kepada jambidaily.com, di kebun Koperasi Koerintji Barokah Bersama. Hasil mencapai 200-250 kilogram per dua pekan panen. "Kopi di kebun ini, kami memetik satu bulan dua kali, bisa mencapai 200-250 kilogram. Untuk hasil tergantung dapatnya berapa ketika panen, kalau punya sendiri ya..hasilnya punya kita seharga 2500 rupiah per kilo, kalau punya orang lain kami dibagi hasil," Terang Ibu anak tiga tersebut.

Ingin berkunjung ke Kabupaten Kerinci, jangan lewatkan agrowisata ke kebun milik Koperasi Koerintji Barokah Bersama di Desa Jernih Kecamatan Gunung Tujuh, dengan latar Gunung Kerinci nan eksotis bersama hangatnya seduhan Kopi Arabika.

 

Ditulis Oleh: Hendry Nursal

 

 

 

 

Berita Terkait:

KOMENTAR DISQUS :

Top