Rabu, 15 Agustus 2018 |
Nasional

Perkembangan Inflasi Provinsi Jambi Mei 2018

Jumat, 08 Juni 2018 21:09:57 wib
ilustrasi/komoditas.co.id

JAMBIDAILY NASIONAL - Provinsi Jambi tercatat mengalami deflasi 0,09% (mtm) atau inflasi 3,40% (yoy) pada Mei 2018. Perkembangan inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,21% (mtm) atau 3,23% (yoy). Inflasi Provinsi Jambi disumbang oleh Kota Jambi yang tercatat mengalami deflasi  0,11% (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 3,45% (yoy), dan Kabupaten Bungo dengan inflasi sebesar 0,15% (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi 2,95% (yoy).

Laju deflasi Kota Jambi pada Mei 2018 terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas volatile food. Komoditas volatile food  yang menjadi penyumbang utama deflasi adalah cabai merah, bawang putih, udang basah, beras, bayam, sawi hijau, kentang, kangkung, dan dencis.

Sementara inflasi Kabupaten Bungo utamanya didorong oleh komoditas volatile food dan administered price. Kelompok volatile foodyang menjadi penyumbang utama inflasi diantaranya daging ayam ras, telur ayam ras, dan bayam. Selain itu, inflasi Kabupaten Bungo juga terutama didorong oleh kenaikan harga bahan bakar rumah tangga dan rokok kretek pada komoditas administered price.

Inflasi Provinsi Jambi pada Juni 2018 mendatang diperkirakan akan didorong oleh komoditas administered price seiring lonjakan permintaan angkutan udara menjelang dan selama periode Idul Fitri 1439 H. Beberapa kelompok bahan pangan bergejolak diperkirakan juga akan mengalami tekanan inflasi pada pertengahan bulan Juni seiring tingginya permintaan selama periode Idul Fitri 1439 H terutama untuk komoditas daging sapi/kerbau, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Namun demikian, kelompok bumbu-bumbuan seperti cabai merah dan bawang merah terpantau stabil dan mengalami tren menurun sehingga diperkirakan dapat menahan laju inflasi di bulan Juni. Masa Lebaran dan adanya tradisi mudik juga diperkirakan akan berdampak pada meningkatnya upah pembantu RT pada kelompok inti yang sudah terpantau meningkat pada Mei 2018. 

Ke depan, risiko yang dapat meningkatkan tekanan inflasi (upside risk) antara lain adalah anomali cuaca dan tingginya curah hujan yang berdampak pada produktivitas tanaman hortikultura serta proses distribusi termasuk bahan makanan lainnya a.l. cabai merah, bawang merah, bayam, dan udang basah. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar non subsidi dapat mendorong kenaikan komoditas lainnya (second round effect) akibat tingginya biaya distribusi dan tarif angkutan.       

Mencermati tantangan dan potensi risiko inflasi tahun 2018, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jambi telah melakukan High Level Meeting (HLM) dan rapat koordinasi bersama seluruh TPID Kabupaten/Kota, OPD dan instansi terkait serta pelaku usaha. Selain itu juga dilakukan rapat koordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Disperindag se-Provinsi Jambi dan pelaku usaha bahan pangan di Provinsi Jambi. HLM TPID dan Rapat Koordinasi tersebut dilakukan dalam rangka menentukan langkah-langkah strategis untuk stabilisasi harga menjelang dan selama periode Ramadhan/Idul Fitri tahun 2018 .(*/Rilis)

 

KOMENTAR DISQUS :

Top