Kamis, 21 Juni 2018 |
Suaro Wargo

Rahma: Peran Sekolah dan Pemerintah Dalam Mengatasi Kekerasan Pada Anak di Sekolah

Rabu, 13 Juni 2018 08:10:08 wib
JAMBIDAILY SUAROWARGO - Pendidikan  adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dipelukan dirinya dan masyarakat, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
 
Didalam sebuah pendidikan terdapat unsur yang menjalankan proses pendidikan yaitu Guru. Fungsi Guru di dalam pendidikan yang pertama guru sebagai pribadi, maksudnya adalah seorang guru harus memahami diri nya sendiri untuk menjadi guru yang memiliki kepribadian yang baik karena kepribadian baik seorang guru akan mempengaruhi kepribadian peserta didik ke  dampak yang lebih positif, yang kedua guru sebagai pengajar maksudnya guru yang memberikan pelajaran atau memberi materi pelajaran kepada semua siswanya berdasarkan kurikulum yang ditetapkan, yang ketiga guru sebagai pendidik maksudnya guru haru bisa memberi bantuan dan dorongan (supporter), pengawasan, pembinaan dan mendisiplinkan anak agar menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dam masyarakat, yang keempat guru sebagai pembimbing maksudnya guru harus memberi bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga dan masyarakat.
 
Didalam proses pendidikan banyak hal yang menghambat perkembangan pendidikan tersebut diantaranya adalah Bullying, dimana tindakan kekerasan marak terjadi di sekolah-sekolah yang bertujuan untuk menakuti-nakuti seseorang, fakta ini membenarkan  penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Plan International dan International Center For Research on Women yang dirilis tahun 2015. Data ini menunjukkan fakta mencengangkan terkait kekerasaan anak di sekolah. Terdapat 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka tersebut lebih tinggi dari tren di kawasan Asia yakni 70%. Bahkan, berdasarkan perhitungan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sedikitnya ada 1800 anak korban kekerasan tiap tahunnya di indonesia.
 
Adapun penyebab terjadinya bullying adalah karena adanya pengelompokan tipe-tipe teman sebaya, yaitu, teman yang populer, teman yang diabaikan, teman yang ditolak, dan teman yang kontroversial. Teman yang populer adalah teman yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman, anak yang seperti ini adalah salah satu penyebab terjadinya bullying karena dia merasa dirinya yang berkuasa sehingga dia bisa menindas  teman-teman yang ada disekitarnya. Teman yang diabaikan adalah teman yang  tidak dianggap tidak ada walaupun dia ada, anak seperti ini bisa memicu terjadinya bullying karena dia merasa dengan membully teman-teman  disekitarnya akan terfokus kepada dia. Teman yang ditolak adalah teman yang tidak diinginkan keberadaan sehingga anak tersebut merasa dirinya tidak dihargai dan membuat anak tersebut mencari cara supaya teman bisa menghargai diri nya dengan cara membully. Teman yang kontroversial adalah teman yang agresif dan suka marah-marah, hal tersebut yang membuat anak itu sering membully temannya karena dia tidak bisa mengontrol emosinya.
 
Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekerasaan pada anak di Sekolah adalah dengan cara sekolah harus membuat program anti bullying dengan cara mengiatkan pengawasan dan pemberian sanksi secara cepat kepada pelaku, atau melakukan kampanye melalui berbagai cara, memasukkan materi bullying kedalam pembelajaran akan berdampak positif bagi pengembangan pribadi para murud. Dalam hal ini pemerintah juga mengambil alih dalam mengatasi kekerasan pada anak dengan cara menegakkan instrumen hukum berupa sejumlah peraturan perundang-undangan yang melindungi anak dari tindakan kekerasan. Seperti UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti-kejahatan seksual terhadap anak, dan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
 
 
 
 
...
Ditulis Oleh
Nama: Rahma
Fakultas tarbiyah dan keguruan, 
Prodi tadris matematika, semester II
Universitas islam negeri sulthan thaha syaifuddin Jambi
 
 
 
 
 
 
 
 
*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top