Sabtu, 20 April 2019 |
Wisata & Budaya

Saksikan, Konflik Ekologi dalam Pertunjukan Teater yang Bertajuk Rawa Gambut

Jumat, 12 Oktober 2018 18:58:33 wib
Salah satu Pementasan/Dok. Teater Potlot

JAMBIDAILY SENI, Budaya - Teater Potlot yang berasal dari Palembang akan tampilkan konflik ekologi dalam pertunjukan teater yang bertajuk Rawa Gambut, pada Sabtu malam (13/10/2018) di Taman Budaya Jambi.

Penulis dan sutradara naskah Conie Sema, menuturkan karya itu lahir dari hasil mengumpulkan banyak teks di kawasan gambut Pesisir Pantai Timur Sumatera, tepatnya di beberapa titik kawasan yang mengalami konflik lingkungan dan budaya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Kami juga mengamati kebijakan pemerintah usai kebakaran besar lahan gambut tahun 2015 lalu. Memantau langkah-langkah pemerintah melalui program restorasi gambut yang dikerjakan BRG (Badan Restorasi Gambut), sebuah badan bertanggungjawab langsung kepada Presiden Joko Widodo,” tuturnya sebagaimana dilansir haluannews.com (Jum'at,12/10/2018).

Ia menguraikan, gerakan budaya dalam memantau pengelolaan bentang alam di negeri ini, setidaknya sebagai simbol mengaktualisasikan spirit ekologi dari Prasasti Talang Tuwo yang ditulis Raja Sriwijaya, Dapunta Hyang, pada 684 Masehi, saat mendirikan Taman Sriksetra.

“Saya menggiring penafsiran aktor serta playing space realisme yang dimainkan guna merangsang kesadaran intelektualnya (Theatre of Intelligent). Saat ini, reaalitas pengelolaan sumberdaya alam dari konversi hutan dan lahan gambut saat ini, cenderung berpihak kepada investasi dan keuntungan ekonomi semata,” paparnya.

Dalam pementasan itu, Conie mencoba mensimulasikan kenyataan tersebut dengan berbagai bentuk pengucapan teater yang mempertimbangkan banyak hal dalam mewujudkan nilai-nilai yang hendak disampaikan ke dalam realitas pentas. Kemudian memfokuskan fakta sosial dan nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari yang direfleksikan menjadi pesan-pesan moral yang estetik.

“Teks Rawa Gambut ini menjadi kumpulan fragmen seperti pecahan artefak masa lalu, yang mungkin menjadi tata replika masa depan. Mungkin dalam makna simbolik akan menjadi rupa tiga dimensi yang verbal. Atau sebaliknya, menjadi sosok yang absurd bisa dihidupkan, atau bisa juga dimatikan dalam bahasa estetik,” jelas pria berdarah Minang ini.

Sementara itu, Eso Pamenan, perwakilan dari Teater Tonggak Jambi, menyatakan kegembiraan dan rasa bangga dipercaya sebagai panitia pelaksana pertunjukan. Menurut Eso, pementasan Conie juga menyusun peta-peta kecil peninggalan sejarah dan jejak penandaan Sriwijaya, melalui artefak dan situs yang berhamburan di sekitar lokasi perkebunan sawit dan HTI akasia.

Diakhir wawancara Eso menyatakan, pertunjukan “Rawa Gambut” bisa ditonton secara gratis pada Sabtu dan Minggu di Taman Budaya Jambi.

“Teater Potlot juga akan berkolaborasi dengan Teater Tonggak Jambi dalam pertunjukan Tembang Anak Sialang karya Didin Siroz, pada Minggu (14/10/2018) Pukul 19.30 wib” katanya menutup wawancara.

Selain itu juga akan ada diskusi seni dan lingkungan bertema "Menjaga Bentang dAlam Melalui Gerakan Budaya" dengan pembicara Taufik Wijaya, Yoan Dinata dan Didin Siroz di kantor Redaksi Harian Pagi Tribun Jambi. Rencananya pukul 13.30 wib, hari Minggu, 14 Oktober 2018.

 

Editor: Hendry Noesae
Sumber: Haluanews.com

KOMENTAR DISQUS :

Top