Rabu, 18 Oktober 2017 |
Jurnal Publik

Segenggam Beras untuk Madrasah, Oleh Bahren Nurdin

Minggu, 24 September 2017 18:03:48 wib
Bahren Nurdin, MA/Photo: ist/Facebook.com

JURNAL PUBLIK - Artikel kecil ini saya tulis tepat sepulang dari menghadiri rapat pembangunan madrasah di kampung halaman saya di Desa Paseban, Kecamatan VII Koto Ilir, Kabupaten Tebo. Saya sangat bahagia melihat semangat masyarakat desa yang menggelora untuk memberikan perhatian terhadap pendidikan agama anak-anak mereka. 

Dari pertemuan yang dihadiri perangkat desa, BPD, Lembaga Adat, pegawai syara’, dan tokoh-tokoh masyarakat, saya menyaksikan ada kesadaran yang menggeliat. Agaknya mereka benar-benar baru terbangun dari mimpi panjang bahwa mereka selama ini telah ‘lalai’ membenahi pendidikan agama anak-anak desa itu. Mereka kaget alang kepalang menemukan fakta bahwa banyak diantara anak-anak kampung mulai terserang narkoba. 

Saya pertegas, jika bentengnya sudah dibongkar, maka musuh boleh masuk dari mana saja. Madrasah adalah benteng kokoh yang melindungi anak-anak kita dari serangan zaman. Nakoba, pergaulan bebas, pencurian, pembunuhan dan lain-lain adalah musuh nyata bagi mereka. Tanpa benteng, pasti kalah! 

Tidak dapat ditutupi bahwa selama ini mereka tidak peduli. Jika dilihat perjalanan waktu, saya meninggalkan kampung halaman itu sekira tahun 1997. Sejak tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya ‘hijrah’ dari dusun dan ‘mengembara’ di dunia Allah yang luas ini. Ketika saya SD dan SMP, madrasah ini masih berjalan dengan baik. Pada sore hari masih dapat menyaksikan anak-anak berlarian atau naik sepeda pulang dari madrasah dengan riang gembira.

Tidak lama setelahnya, sekira tahuan 2000an madrasah mulai ditinggalkan dan bangunannya dibiarkan begitu saja. Jadilah gedung madrasah ini kandang ternak gratis. Kondisinya kemudian sangat memprihatinkan. Atap bocor, kayu-kayu penyangga lapuk, dinding-dinding rapuh, jendela-jendela dimamah rayap, lantai pun pecah dan bolong. Hancur!

Sampai beberapa waktu lalu, beberapa tokoh masyarakat tergerak kembali menghidupkan yang telah mati, membangkitkan yang lama terendam. Mereka bersepakat dengan segala upaya yang ada madrasah tersebut harus kembali menjadi pusat belajar anak-anak kampung itu. Tapi, dari mana biaya perbaikan gedung dan operasional madrasah itu?

Tentu, saya dan kawan-kawan yang ‘dipanggil’ pulang kampung, tidak membawa sekarung uang. Maka dengan musyawarah mufakatlah solusi-solusi dapat dicari. Memang harus disadari bahwa selama ini masyarakat cenderung manja dan cengeng. Dikit-dikit ‘merengek’ kepada pemerintah. Dikit-dikit nunggu sumbangan donatur. Mereka melupakan nilai-nilai juang dan gotong royong yang sebenarnya menjadi nadi tatanan kehidupan masyarakat pedesaan.

Maka pada pertemuan itu, saya kembali mengingatkan akan pentingnya kebersamaan dan nilai-nilai gotong royong untuk menciptakan kemandirian. Hal ini juga dipertegas oleh para pendiri madrasah ini bahwa dulu mereka membangun madrasah itu dengan mendiri tanpa banyak bantuan dari pihak luar. Masyarakat desa itu bisa membangun sekolah tanpa harus ‘meminta-minta’.

Banyak cara yang bisa dilakukan. Contoh sederhana dengan konsep segenggam beras untuk pendidikan. Caranya, setiap kali ibu-ibu akan memasak nasi di rumahnya, maka dia akan menyisihkan satu genggam beras sebagai ‘tabungan’ pendidikan. Jika masak sebanyak tiga kali sehari, itu artinya sehari sudah dihasilkan tiga genggam. Jika ada 200 kk, satu hari sudah menghasilkan 600 genggam beras. Jika dikalikan selama satu bulan, hasilnya akan menakjubkan. Dari segenggam beras ini saya yakin sudah bisa membayar gaji guru. 

Atau skema ‘koin untuk pendidikan’. Caranya juga sama, setiap kali ibu-ibu pulang dari pasar atau dari warung belanja sayur, berapa pun koin-koin yang tersisa harus dimasukkan ke dalam tempat khusus untuk sumbangan pendidikan. Jika dikumpulkan dalam kurun waktu tertentu, jumlahnya sangat banyak.

Begitu juga dengan bapak-bapak. Karena sebagian besar bapak-bapak (maaf) merokok, hanya dengan menyisihkan 1000 rupiah setiap membeli satu bungkus, maka akan terkumpul ratusan ribu per pulan. Jika satu bungkus seharga 20rb untuk dibakar begitu saja, maka1000 rupiah yang menjadi tabungan untuk dunia dan akhirat. Tidak berat, yakinlah!

Sekali lagi, kuncinya kebersamaan dan menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong. Bantuan dari berbagai pihak tentunya sangat dinantikan, tapi jangan pula masyarakat melupakan potensi yang mereka miliki. Mandiri jauh lebih baik dan mendatangkan barokah dari Allah. 

Akhirnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak mereka, khususnya di pedesaan harus terus didukung dan harus mendapat perhatian dari semua pihak, dari pemerintah sampai pihak swasta. Namun masyarakat tidak perlu ‘cengeng’ karena sesungguhnya memiliki potensi untuk mandiri. Kebersamaan dan kegotongroyongan menjadi kata kunci untuk mencapai semua itu. Jayalah madrasah!

 


Oleh: Bahren Nurdin, MA
Sumber: diambil dari dialog Grup Whatsapp Taman Puisi
Penulis: Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

KOMENTAR DISQUS :

Top