Sabtu, 20 Oktober 2018 |
Wisata & Budaya

Sejarah Pasar Muara Tembesi dan Kiparahnya

Senin, 30 Mei 2016 10:46:41 wib
Pasar Tembesi

JAMBIDAILY BUDAYA-Hari ini adalah proses dari masa lalu, dan masa depan adalah refleksi masa kini, itulah salah satu ungkapan bijak agar kita tidak melupakan sejarah.

Seperti sejarah Pasar Muara Tembesi pada Era 1975 ternyata memiliki peran penting dalam perdagangan dan pertumbuhan wilayah tersebut, yang perlu mendapat perhatian saat ini.

Seperti yang dituturkan, Saleh AR (63) salah satu warga Desa Rambutan Masam, Kecamatan Muara Tembesi kepada wartawan ini, tentang cupilkan peran dan kondisi pasar Muara Tembesi yang lebih dikenal oleh masyarakat Kabupaten Batanghari Pasar Tembesi pada era 1975 sebagai pusat perdagangan setempat.

Pasar Tembesi pada masa itu, pasar yang paling ramai pengunjungnya datang dari berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Batanghari, seperti Kecamatan Mersam, Sungai Rengas yang kini dikenal Kecamatan Marosebo Ulu, Bajubang Batin XXIV, Muara Bulian dan daerah lainnya.

Saleh menyebutkan, pada masa itu sepanjang sungai Batanghari, mulai dari Kecamatan Marosebo Ulu, Mersam hingga ke Tembesi ribuan warga pergi ke Pasar Tembesi untuk berbelanja pada setiap hari Jum'at.

Warga saat itu masih mengunakan tranportasi tradisional melalui jalur sungai dengan perahu getek.

"Sekitar tahun 1980 rame nian di sungai  batanghari kalau pada hari Jum'at, warga dari arah mudik pergi ke Pasar Tembesi naik motor ketek. Kalau dari Mersam saya ingat ketek Derani setiap hari ke pasar,"ungkap Soleh, Minggu 29 Mei 2016.

Sebagaimana  diketahui Tembesi juga merupakan sejarah, hal ini terbukti dari bangunan banyak yang kuno. Selain itu bangunan-bangunan  peningalan belanda masih kokoh saat ini, seperti gedung bioskop yang pertama kali di dirikan di Kabupeten Batanghari sekitar tahun 1950, benteng belanda dan bangunan lainnya.

Namun sangat disayangkan kondisinya sangat memprihatin, tidak disentuh oleh Pemerintah setempat.

Seiring dengan pergantian waktu, Tembesi yang katanya kota bersejarah dilupakan. Dan beberapa pedagang yang dulunya meramaikann Tembesi kini sudah hanya tinggal kenangan.

Melihat kondisi Pasar Tembesi, ibarat orang tua dilupakan oleh anak-anaknya. Kalau dilihat dari sejarah banyak putra-putra asal Tembesi yang jadi orang hebat di negeri ini yang sudah memiliki segudang ilmu. Namun apakah mereka mau memikirkan untuk kemajuan Pasar Tembesi.

"Kalau seorang tua diabaikan anaknya, tentu kita akan merasa iba. Itulah ibarat Kota Tembesi,"gugat Saleh.

Masyarakat berharap Pasar  Tembesi bisa bangkit kembali seperti tahun 1980 dulu lagi.

"Semoga pemimpin daerah ini, baik dari pihak Pemkab maupun dewan terketuk hatinya untuk memikirkan Tembesi dengan serius,"pungkasnya.(jambidaily.com/RED)

KOMENTAR DISQUS :

Top