Selasa, 25 September 2018 |
Ekonomi

Siaran Pers BI Jambi: Laporan Inflasi Daerah di Provinsi Jambi periode Maret 2018

Rabu, 04 April 2018 13:29:18 wib
ilustrasi/kota Jambi/Foto: eloratour.files.wordpress.com

JAMBIDAILY EKONOMI - Provinsi Jambi pada Maret 2018 terpantau mengalami inflasi 0,60% (mtm) atau 4,17% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional 0,20% (mtm) atau 3,40% (yoy). Perkembangan inflasi Provinsi Jambi disumbang oleh Kota Jambi yang tercatat mengalami inflasi 0,63% (mtm) dengan inflasi tahunan 4,28% (yoy), dan Kabupaten Bungo dengan inflasi 0,32% (mtm) atau 3,15% (yoy).

Inflasi Kota Jambi terutama disebabkan kenaikan harga komoditas volatile food yaitu cabai merah, bawang merah, bayam, daging ayam ras, udang basah, bawang putih, kangkung dan sawi hijau. Disamping itu, juga dipengaruhi oleh kenaikan harga mobil pada kelompok inti dan bensin pada kelompok administered price.

Sejalan dengan kondisi di Kota Jambi, inflasi Kabupaten Bungo didorong terutama oleh komoditas volatile food dan kelompok inti. Komoditas volatile food penyumbang utama inflasi adalah cabai merah, bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, dan cabai rawit. Sementara, komoditas inti yang mendorong inflasi adalah nasi dengan lauk, biaya jaringan saluran TV, sabun detergen bubuk/cair, siomay dan sepatu.

Mempertimbangkan perkembangan harga terkini serta proyeksi kebijakan penetapan harga oleh pemerintah maupun pelaku usaha, inflasi Provinsi Jambi pada April 2018 diperkirakan berada pada kisaran 0,11%-0,51% (mtm) dengan inflasi tahunan pada kisaran 3,70%-4,10% (yoy), atau masih berada dalam sasaran inflasi nasional 3,5±1%. Inflasi akan didorong oleh kelompok administered price terutama bahan bakar minyak non subsidi seiring meningkatnya harga energi primer di pasar internasional, serta komoditas rokok menyusul penyesuaian tarif cukai rokok yang meningkat 10,04% mulai Januari 2018. Selain itu, menguatnya daya beli masyarakat yang berimbas dari kenaikan harga komoditas dunia dan penyesuaian upah minimum tahun 2018 diperkirakan akan mendorong inflasi inti (core inflation). Musim panen yang berlangsung pada Maret-April 2018 diperkirakan dapat menahan laju inflasi volatile food terutama untuk komoditas beras.

Ke depan, risiko yang dapat menyebabkan tekanan inflasi lebih tinggi dari perkiraan (upside risk) antara lain adalah curah hujan tinggi yang berpotensi menyebabkan gagal panen dan menghambat proses distribusi ke wilayah Jambi, serta kenaikan harga bahan bakar non subsidi  yang dapat mendorong kenaikan komoditas lainnya (second round effect).        

Mencermati tantangan dan potensi risiko inflasi tahun 2018, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jambi telah melakukan rapat koordinasi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam rangka memantau pelaksanaan pengendalian inflasi tahun 2018. Selain itu, TPID Provinsi Jambi juga telah menyelesaikan penyusunan program kerja pengendalian inflasi tahun 2018.

1. Provinsi Jambi tercatat mengalami inflasi sebesar 0,60% (mtm) 
pada Maret 2018, lebih tinggi dibandingkan nasional yang tercatat inflasi sebesar 0,20% (mtm) dan melebihi rata-rata inflasi 2 tahun terakhir yang tercatat deflasi sebesar 0,02% (mtm). Selain itu, secara tahunan inflasi Provinsi Jambi pada Maret 2018 mencapai 4,17% (yoy), juga lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,40% (yoy). Perkembangan IHK Provinsi Jambi pada Maret 2018 disumbangkan oleh 2 kota sampel inflasi nasional yaitu Kota Jambi dan Kabupaten Bungo.

2. Kota Jambi mengalami inflasi sebesar 0,63% (mtm) 
pada Maret 2018, lebih tinggi dibandingkan Ferbruari 2018 yang tercatat deflasi sebesar 0,83% (mtm). Secara tahunan inflasi Kota Jambi mengalami peningkatan dari 3,95% (yoy) pada Februari 2018 menjadi 4,28% (yoy) di Maret 2018. Andil terbesar yang mendorong inflasi di Kota Jambi berasal dari komoditas volatile foods terutama produk hortikultura, komoditas inti yaitu mobil dan bensin pada komoditas administered price.

  • Kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 2,32% (mtm), jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 4,83% (mtm). Atau, secara tahunan kelompok ini mengalami inflasi sebesar 5,39% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Februari 2018 yang tercatat inflasi sebesar 3,51% (yoy).

Komoditas volatile foods yang memberikan andil paling besar terhadap inflasi adalah cabai merah, bawang merah, bayam, daging ayam ras, udang basah, bawang putih, kangkung, dan sawi hijau. Kenaikan inflasi aneka cabai dan bawang disebabkan oleh gangguan pasokan akibat cuaca buruk. Komoditas cabai merah mengalami fluktuasi sepanjang Maret 2018 dan berada pada kisaran harga cukup tinggi (di atas Rp40.000,-) serta menunjukkan tren kenaikan menjelang akhir Maret 2018. 

Komoditas bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan terutama pada akhir Maret 2018, dengan lonjakan harga rata-rata mencapai 20% dibandingkan bulan sebelumnya. Lonjakan harga juga terjadi pada kelompok sayuran yaitu bayam dan kangkung. Tingginya harga komoditas terutama disebabkan oleh berkurangnya pasokan akibat curah hujan yang tinggi. Kondisi cuaca mengakibatkan gangguan pada proses produksi, distribusi, dan proses penyimpanan karena produk hortikultura rentan busuk apabila kadar air tinggi/basah.

Gangguan distribusi akibat curah hujan tinggi juga menjadi faktor penyebab berkurangnya pasokan mengingat produk hortikultura berasal dari luar daerah yaitu Jawa, Lampung, dan Sumatera Barat. Hal yang sama terjadi pada komoditas udang basah, dimana curah hujan tinggi menyebabkan tingkat kematian udang tambak meningkat. Perkembangan harga komoditas tersebut sejalan dengan hasil survei harga pangan strategis yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia pada Maret 2018.

Beberapa jenis bahan pangan menunjukkan kenaikan harga dibandingkan Februari 2018, antara lain cabai merah (22,32% mtm), bawang merah (22,88 mtm) dan bawang putih (20,09% mtm).

  • Kelompok administered price mengalami inflasi sebesar 0,38% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,01% (mtm), atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 6,47% (yoy). Komponen administered price yang mendorong inflasi adalah bensin, disebabkan kenaikan harga Pertalite sebesar Rp200/liter pada 24 Maret 2018.  Selain itu, dampak kenaikan harga Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing sebesar Rp300/liter, Rp500/liter, Rp600/liter dan Rp750/liter sesuai ketetapan Pertamina pada 24 Februari 2018 masih berlanjut pada Maret 2018.

Kenaikan harga tersebut seiring dengan harga minyak dunia yang mencapai USD 63,41/barrel. Risiko naiknya bahan bakar minyak juga tercermin dari inflasi solar, meskipun relatif kecil sebesar 0,002 yang dapat menimbulkan second round effect berupa naiknya biaya transportasi umum sehingga memberikan tekanan inflasi di bulan berikutnya.

  • Inflasi inti (core inflation) pada Maret 2018 tercatat deflasi 0,001% (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 2,76% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,60% (mtm). Komoditas penyumbang utama inflasi inti adalah mobil sejalan dengan tingginya permintaan di tengah gencarnya penawaran produk baru pada awal tahun. Hal ini didorong oleh naiknya pendapatan masyarakat seiring meningkatnya harga komoditas internasional di bulan Maret 2018.
  • Ekspektasi inflasi mengalami peningkatan. Hasil survei Konsumen Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi pada Maret 2018 memperkirakan harga barang dan jasa secara umum pada 3 bulan kedepan akan mengalami kenaikan (indeks sebesar 191,0). Sebagian besar konsumen menilai peningkatan harga akan terjadi pada hampir seluruh komoditas, yaitu non makanan (indeks 187.9), peralatan rumah tangga (indeks 156,0), perumahan (indeks 128,6) serta jasa (indeks 135,2).

Meningkatnya perkiraan harga barang dan jasa pada 3 bulan mendatang disebabkan adanya pengaruh hari raya keagamaan (72,0%) yaitu puasa dan Lebaran. Sebagian konsumen Jambi (50%) menyatakan yakin bahwa target inflasi pada tahun berjalan akan tercapai.

3. Laju inflasi Kabupaten Bungo pada Maret 2018 , tercatat sebesar 0,32% (mtm), lebih tinggi dibandingkan Februari 2018 yang mengalami deflasi 0,13% (mtm). Secara tahunan, Kabupaten Bungo mengalami inflasi sebesar 3,15% (yoy) turun dibandingkan Februari 2018 sebesar 3,55% (yoy). Inflasi di Kabupaten Bungo didorong oleh kenaikan harga komoditas volatile food yaitu cabai merah, bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, dan cabai rawit. Selain itu, inflasi Kabupaten Bungo juga disumbang oleh komoditas inti yaitu nasi dengan lauk, biaya jaringan saluran TV, sabun detergen bubuk/cair, siomay dan sepatu.

Beberapa komoditas penyumbang terbesar inflasi Maret 2018, tercatat menjadi penyumbang inflasi bulan sebelumnya, seperti cabai merah, daging ayam ras, dan cabai rawit. Seperti halnya di Kota Jambi, tingginya harga komoditas pertanian, peternakan dan berkurangnya pasokan akibat terganggunya proses produksi, distribusi, dan penyimpanan akibat cuaca buruk selama Maret 2018. Meningkatnya ekspektasi pendapatan yang diterima masyarakat menyusul tingginya harga komoditas unggulan daerah Jambi di pasar internasional menyebabkan tingginya permintaan dan konsumsi komoditas kelompok inti. Selain itu, kenaikan harga pertalite pada 24 Maret 2018 juga menjadi faktor pendorong inflasi di Kabupaten Bungo, dimana bensin tercatat sebagai komoditas penyumbang inflasi pada urutan ke-11.

4. Dalam rangka memperkuat koordinasi, mengumpulkan informasi dan melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap pengendalian inflasi daerah, Gubernur selaku Ketua TPID Provinsi Jambi telah mengarahkan Pemerintah Kabupaten/Kota dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk melakukan langkah-langkah strategis pengendalian inflasi. Peran dan fungsi TPID didorong untuk lebih diperkuat pada tahun 2018 dengan melakukan penguatan kelembagaan TPID, peningkatan sektor produksi, efisiensi tata niaga, stabilisasi harga dan penyediaan sarana/prasarana penunjang.

Sesuai arahan Ketua TPID Provinsi Jambi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi berkoordinasi dengan OPD terkait sedang menyusun roadmap pengendalian inflasi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang sebagai dasar acuan penyusunan program pengendalian inflasi. Terkait penyusunan roadmap tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi bekerja sama dengan OPD terkait sedang menyiapkan analisis karakteristik dan permasalahan struktur perekonomian dalam rangka rapat koordinasi penetapan roadmap pengendalian inflasi daerah. Selain itu, TPID Provinsi Jambi melalui seluruh OPD telah menyelesaikan penyusunan program kerja pengendalian inflasi tahun 2018. Program Kerja TPID Provinsi Jambi tahun 2018 tersebut telah disahkan oleh Ketua Harian TPID dan Wakil Ketua I TPID pada 29 Maret 2018.

Selanjutnya, aspek kelembagaan TPID telah diperkuat dengan penyesuaian SK TPID mengacu pada Perpres Nomor 23 Tahun 2017 tentang Susunan Keanggotaan TPID, penyediaan anggaran yang memadai untuk mendukung fungsi koordinasi dan peningkatan kapasitas SDM, serta perumusan mekanisme kerja sebagai pedoman pelaksanaan tugas dan fungsi TPID. Dari sisi produksi, OPD terkait diarahkan untuk merencanakan pola tanam yang berkelanjutan, mempercepat proses pengadaan bibit tanaman dan saprodi, mendorong penggunaan mesin pertanian untuk efisiensi, dan secara intensif melakukan kegiatan penyuluhan dan pendampingan kepada kelompok tani.

Sementara, efisiensi tata niaga diwujudkan dengan pengembangan pasar lelang agro, penerapan sistem resi gudang, optimalisasi Rumah Pangan Kita sebagai alternatif rantai distribusi pangan, dan pembinaan terhadap Pusat Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) sebagai tempat penjualan pangan murah. Selanjutnya, stabilisasi harga terus dilakukan melalui pengkinian data harga pangan, pemantauan harga dan pelaksanaan operasi pasar. Berbagai upaya tersebut juga didukung dengan penyediaan sarana/prasarana penunjang yang memadai.

Seluruh langkah strategis terkait pengendalian inflasi daerah tersebut, diarahkan untuk dituangkan dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, agar pelaksanaannya dapat berjalan secara efektif dan berkesinambungan.

5. Mencermati perkembangan inflasi terkini dan beberapa indikator harga komoditas, inflasi Provinsi Jambi pada April 2018 diperkirakan berada pada kisaran 0,11%-0,51% (mtm) dengan inflasi tahunan pada kisaran 3,70%-4,10% (yoy), atau masih dalam sasaran inflasi nasional 3,5±1%. Perkembangan inflasi terutama akan didorong oleh komoditas administered price seiring kenaikan harga pertalite pada 24 Maret 2018 yang berpotensi menimbulkan second round effect berupa kenaikan biaya pengangkutan.

Disamping itu, kelompok inflasi inti diperkirakan meningkat seiring kenaikan harga komoditas dunia dan penyesuaian upah minimum tahun 2018. Potensi inflasi juga bersumber dari kelompok bahan pangan khususnya hortikultura dipengaruhi oleh kondisi cuaca hujan yang masih tinggi pada April 2018, meskipun komoditas beras diperkirakan mengalami deflasi seiring masuknya panen raya. perikanan/kelautan di Kabupaten Bungo dipengaruhi oleh Selain itu, terdapat faktor yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap inflasi (upward risks) sebagai berikut:

(a). Cuaca yang diperkirakan mengalami la-nina hingga Mei 2018 meningkatkan intensitas curah hujan sehingga berpotensi menimbulkan bencana longsor dan banjir di beberapa wilayah Pulau Jawa, yang akhirnya akan mengganggu proses produksi dan distribusi.

(b). Lonjakan harga energi primer yaitu migas berisiko mendorong kenaikan harga bahan bakar terutama jenis non subsidi, yang selanjutnya berdampak pada tarif angkutan darat dan udara, serta biaya distribusi (second round effect).

(c). Tingginya harga komoditas dunia seperti CPO dan karet menyebabkan kenaikan ekspektasi pendapatan masyarakat sehingga akan mendorong konsumsi terutama pada kelompok inti.

7. Rekomendasi Kebijakan Pengendalian Inflasi Daerah
Pemerintah Daerah bersama dengan Lembaga/Instansi terkait dalam kerangka TPID kiranya mengantisipasi kenaikan harga komoditas pangan termasuk hortikultura, unggas dan produk turunannya, serta hasil perikanan/kelautan selama periode musim penghujan. Beberapa kebijakan yang dapat ditempuh pemerintah diantaranya:

Dalam jangka pendek:

(1) Melakukan pemantauan terhadap penerapan Harga Eceran Tertinggi, baik terhadap komoditas bahan pangan maupun bahan bakar migas.
(2) Melakukan pengawasan terhadap ketersediaan pasokan dan/atau cadangan pangan serta kelancaran
jalur distribusi.
(3)  Mendorong optimalisasi operasi pasar.
(4) Memastikan ketersediaan bahan bakar minyak dan gas untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga.
(5) Berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait untuk mengantisipasi lonjakan tarif angkutan
umum.

Dalam jangka menengah:

(1) Menyusun peta pangan strategis yang mengindikasikan posisi surplus dan defisit Provinsi Jambi, yang didasarkan pada daftar komoditas penyumbang utama inflasi Provinsi Jambi.
(2) Mendorong peningkatan produksi pangan lokal serta mendorong konsumsi produk pangan lokal.
(3) Melakukan edukasi dan sosialisasi secara berkelanjutan tentang konsumsi produk pangan olahan dan pangan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk pangan utama.
(4) Melakukan manajemen persediaan untuk menghadapi lonjakan harga pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dengan penyediaan mesin pengawet dan/atau cold storage.

8. Event Analysis Komoditas Cabai di daerah Jambi
Komoditas Cabai Merah menunjukkan pola siklikal kenaikan atau inflasi sepanjang periode Mei s.d Desember. Sepanjang Maret 2018, harga Cabai di Provinsi Jambi berada di kisaran harga yang cukup tinggi yaitu Rp42.000/kg. Kondisi curah hujan tinggi pada Maret 2018 mengakibatkan gangguan produksi dan distribusi sehingga terjadi kekurangan pasokan cabai merah di wilayah Jambi terutama menjelang akhir bulan yang merupakan puncak hujan. Curah hujan dan kelembaban yang tinggi juga mengakibatkan komoditas cabai mengalami pembusukan lebih cepat sehingga memperburuk jumlah pasokan di tingkat pengecer.

Dari sisi supply, cabai merah diproduksi hampir di seluruh kab/kota di wilayah Jambi dengan total luas panen mencapai 6.901 ha dan produksi 501,5 ton/tahun. Namun demikian, kebutuhan cabai merah di kota Jambi diperkirakan sebanyak 12 ton/hari, atau terdapat kekurangan sebesar 10,61 ton/hari sehingga kebutuhan harus dipenuhi dari daerah lain seperti Curug dan Pulau Jawa.

Dalam jangka pendek, fluktuasi harga cabai dapat dikendalikan dengan memastikan kelancaran pasokan dari sentra penghasil. Selain itu, pengolahan paska panen terutama proses penyimpanan cabai segar perlu diatur sedemikian rupa sehingga tingkat kelembaban atau kadar air di tempat penyimpanan cukup rendah. Untuk jangka panjang, pengembangan produksi cabai di wilayah Jambi dapat menjadi prioritas mempertimbangkan potensi lahan yang tersedia. Selain itu, kampanye mengenai konsumsi produk cabai kering (cabai olahan) juga berperan penting untuk mengurangi ketergantungan konsumsi cabai segar ke depan.

 

Sumber: Rilis BI Perwakilan Jambi

KOMENTAR DISQUS :

Top