Jumat, 25 Mei 2018 |
Nasional

Siaran Pers BI Jambi: Laporan Inflasi Provinsi Jambi April 2018

Jumat, 04 Mei 2018 19:58:16 wib
ilustrasi/Foto: sucimegawati95.blogspot.co.id

JAMBIDAILY NASIONAL - Provinsi Jambi tercatat mengalami inflasi 0,21% (mtm) atau 3,79% (yoy) pada April 2018. Perkembangan inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,10% (mtm) atau 3,41% (yoy). Inflasi Provinsi Jambi disumbangkan oleh Kota Jambi yang tercatat mengalami inflasi 0,21% (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 3,89% (yoy), dan Kabupaten Bungo dengan inflasi sebesar 0,18% (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi 2,96% (yoy). 

Laju inflasi Kota Jambi pada April 2018 terutama disebabkan oleh kenaikan komoditas volatile food dan administered price. Komoditas volatile food  yang menjadi penyumbang utama inflasi adalah bawang merah, daging ayam ras, jeruk, udang basah, nila, tomat buah, sawi hijau dan gabus. Sedangkan inflasi pada komoditas administered price, terutama didorong oleh bensin dan rokok kretek filter.

Komoditas volatile food juga menjadi penyumbang utama inflasi Kabupaten Bungo, terutama akibat kenaikan harga bawang merah, daging ayam ras, semangka, nila dan bawang putih. Selain itu, inflasi Kabupaten Bungo juga terutama didorong oleh kenaikan harga bensin pada komoditas administered price serta emas perhiasan dan bola lampu pada komoditas inflasi inti. 

Mempertimbangkan perkembangan harga terkini serta proyeksi kebijakan penetapan harga oleh pemerintah maupun pelaku usaha, inflasi Provinsi Jambi pada Mei 2018 diperkirakan berada pada kisaran 0,20%-0,60% (mtm) dengan inflasi tahunan pada kisaran 3,70%-4,10% (yoy), masih berada dalam sasaran inflasi nasional 3,5±1%. Inflasi utamanya akan didorong oleh komoditas volatile food seiring lonjakan permintaan menjelang dan selama periode Ramadhan. Kelompok bahan pangan bergejolak diperkirakan akan mengalami tekanan inflasi pada 2 (bulan) ke depan hingga Idul Fitri 1439 H. Berdasarkan data 2 (dua) tahun terakhir, komoditas yang diperkirakan menjadi penyumbang utama inflasi adalah cabai merah, daging ayam ras, bawang merah, udang dan ikan nila. Disamping itu, lonjakan permintaan angkutan udara terutama pada periode sebelum masuknya Ramadhan, juga diperkirakan akan mendorong inflasi pada kelompok administered price. Namun demikian, pelemahan harga komoditas CPO dan karet diperkirakan akan menahan daya beli masyarakat.  

Ke depan, risiko yang dapat menyebabkan tekanan inflasi lebih tinggi dari perkiraan (upside risk) antara lain adalah pelemahan nilai tukar Rupiah yang berdampak pada kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation) termasuk bahan pangan bergejolak a.l.bawang putih, gandum, tepung terigu dan kedelai. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar non subsidi  dapat mendorong kenaikan komoditas lainnya (second round effect).        

Mencermati tantangan dan potensi risiko inflasi tahun 2018, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jambi bersama Kementerian Perdagangan telah melakukan rapat koordinasi dengan seluruh TPID Kabupaten/Kota, OPD dan instansi terkait serta pelaku usaha. Rapat tersebut dilakukan dalam rangka menentukan langkah-langkah strategis untuk stabilisasi harga menjelang dan selama periode Ramadhan/Idul Fitri tahun 2018.

1. Perkembangan IHK Provinsi Jambi pada April 2018 tercatat sebesar 0,21% (mtm) atau 3,79% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,10% (mtm) atau 3,41% (yoy). Laju inflasi tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,60% (mtm) atau 4,17% (yoy). Perkembangan IHK Provinsi Jambi disumbangkan oleh 2 (dua) kota sampel inflasi nasional yaitu Kota Jambi dan Kabupaten Bungo.

2. Pada April 2018, Kota Jambi tercatat mengalami inflasisebesar 0,21% (mtm), lebih rendah dibandingkan Maret 2018 sebesar 0,63% (mtm). Secara tahunan, inflasi Kota Jambi juga mengalami perlambatan dari 4,28% (yoy) pada Maret 2018 menjadi 3,89% (yoy) pada April 2018. Komodiatas utama yang mendorong inflasi di Kota Jambi bersumber dari kelompok volatile foods dan administered price.

Kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 0,05% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,32% (mtm). Secara tahunan kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,97% (yoy), lebih rendah dibandingkan Maret 2018 sebesar 5,39% (yoy). Komoditas volatile foods yang memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi adalah bawang merah, daging ayam ras, jeruk, udang basah, nila, tomat buah, sawi hijau dan gabus. Kenaikan harga bawang merah yang terjadi sejak Februari 2018 dan berlanjut hingga April 2018 disebabkan oleh terganggunya jumlah pasokan. Inflasi bawang merah pada April 2018 mencapai 34,97% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 15,45% (mtm). Curah hujan yang tinggi menyebabkan tingginya level harga bawang merah bulan April 2018 yaitu sebesar Rp27.700/kg, meningkat dibandingkan belum sebelumnya sebesar Rp21.800/kg. Sementara, kenaikan harga daging ayam ras disebabkan naiknya harga bibit ayam. Inflasi daging ayam ras tercatat sebesar 6,25% (mtm) lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,19% (mtm). Kenaikan harga daging ayam disebabkan oleh meningkatnya harga bibit ayam (Day Old Chick/DOC). Harga DOC di daerah sentra mencapai Rp5.500 – Rp5.800 per ekor, lebih tinggi dibandingkan normalnya sekitar Rp4.500 – Rp5.000 per ekor. Lonjakan harga juga terjadi pada kelompok sayuran yaitu tomat buah dan sawi hijau. Cuaca hujan mengakibatkan gangguan pada proses produksi, distribusi, dan proses penyimpanan sayuran karena karakteristiknya yang rentan busuk apabila kadar air tinggi/basah. Hal yang sama terjadi pada komoditas ikan segar yaitu udang basah, nila dan gabus dimana tingkat kematian ikan tambak cenderung meningkat dalam kondisi curah hujan tinggi. Perkembangan harga komoditas tersebut sejalan dengan hasil survei harga pangan strategis yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia pada April 2018. Beberapa jenis bahan pangan menunjukkan kenaikan harga dibandingkan Maret 2018, antara lain bawang merah (27,01%), daging ayam ras (0,69%), dan tomat (23,83%).  

Kelompok administered price mengalami inflasi sebesar 0,44% (mtm) atau 5,29% (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat inflasi 0,38% (mtm). Inflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh kenaikan harga bensin dan rokok krektek filter. Kenaikan harga bensin merupakan dampak lanjutan dari kenaikan harga Pertalite sebesar Rp200/liter pada 24 Maret 2018. Meningkatnya harga bahan bakar minyak (non subsidi) berisiko menimbulkan second round effect berupa naiknya biaya transportasi umum sehingga mendorong kenaikan harga barang-barang lainnya. Inflasi bensin mencapai 1,10% (mtm) lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,92% (mtm). Sementara, kenaikan harga rokok kretek disebabkan oleh penyesuaian cukai rokok yang mencapai 10,04% per tahun mulai 1 Januari 2018.  

Inflasi inti (core inflation) pada April 2018 tercatat 0,17% (mtm) atau 2,74% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi 0,001% (mtm). Komoditas yang memberikan andil paling besar pada kelompok inflasi inti adalah emas perhiasan sejalan dengan meningkatnya harga emas dunia ditengah meningkatnya ketidakpastian global. Inflasi emas perhiasan tercatat 1,49% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi 0,69% (mtm).  

Ekspektasi inflasi mengalami peningkatan. Hasil Survei Konsumen Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi pada April 2018 memperkirakan harga barang dan jasa secara umum pada 3 bulan ke depan akan mengalami peningkatan (indeks sebesar 198,5). Sebagian besar konsumen menilai peningkatan harga akan terjadi pada beberapa komoditas, yaitu non makanan (indeks 188.8), peralatan rumah tangga (indeks 158,9) dan jasa (indeks 146,2). Meningkatnya perkiraan harga barang dan jasa pada 3 bulan mendatang disebabkan adanya pengaruh hari raya keagamaan yaitu Ramadhan dan Idul Fitri (97,5%). Selain itu, sebagian konsumen Jambi (48,5%) menyatakan yakin bahwa target inflasi pada tahun berjalan akan tercapai. 

3. Inflasi Kabupaten Bungo pada April 2018 tercatat sebesar 0,18% (mtm), melambat dibandingkan Maret 2018 sebesar 0,32% (mtm). Secara tahunan, Kabupaten Bungo mengalami inflasi 2,96% (yoy) lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,15% (yoy). Perkembangan inflasi Kabupaten Bungo terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas volatile food yaitu bawang merah, daging ayam ras, semangka, nila dan bawang putih. Selain itu, inflasi Kabupaten Bungo juga disumbang oleh kenaikan komoditas administered price yaitu bensin serta komoditas inflasi inti yaitu emas perhiasan dan bola lampu. Inflasi bawang merah pada April 2018 mencapai 21,41% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 7,55% (mtm). Sementara, inflasi daging ayam ras meningkat menjadi 3,74% (mtm) pada April 2018 dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,87% (mtm). Sama halnya dengan Kota Jambi, tingginya harga komoditas pertanian, peternakan dan perikanan/kelautan di Kabupaten Bungo dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan akibat terganggunya proses produksi, distribusi, dan penyimpanan akibat cuaca buruk selama April 2018. Meningkatnya suku bunga acuan Fed Fund Rate menimbulkan spekulasi dan fluktuasi pada berbagai mata uang global serta volatilitas harga saham, komoditas dan surat berharga. Ketidakpastian tersebut menyebabkan investor beralih ke komoditas emas sehingga mendorong kenaikan harga emas dunia yang pada gilirannya berdampak pada harga emas di tingkat lokal. Selain itu, kenaikan harga pertalite pada 24 Maret 2018 juga menjadi salah satu faktor pendorong inflasi di Kabupaten Bungo. 

4. Dalam rangka memperkuat koordinasi, mengumpulkan informasi dan melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap pengendalian inflasi daerah, TPID Provinsi Jambi bersama Kementerian Perdagangan telah menyelenggarakan rapat koordinasi dengan seluruh TPID Kabupaten/Kota, OPD dan instansi terkait serta pelaku usaha di wilayah Provinsi Jambi. Rapat koordinasi tersebut dimaksudkan untuk menyusun langkah-langkah strategis dalam rangka stabilisasi harga menjelang dan selama periode Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2018. 

Berdasarkan hasil pembahasan, jumlah kebutuhan menjelang dan selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H telah diantisipasi dengan penyediaan stok kebutuhan bahan pokok oleh BULOG Divre Jambi dan sejumlah distributor (pelaku usaha) besar di Jambi. Data menunjukkan bahwa stok komoditas beras, gula, minyak goreng dan daging yang tersedia di gudang BULOG Divre Jambi dapat mencukupi kebutuhan selama 5 – 6 bulan ke depan. Selain itu, BULOG Divre Jambi juga berencana melakukan operasi pasar menjelang dan selama periode Ramadhan di sejumlah titik baik di lokasi pasar maupun di luar pasar. Beberapa dinas terkait yaitu Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga telah menjadwalkan pelaksanaan operasi pasar untuk mengantisipasi kenaikan harga di pasar. Selain itu, Dinas Perindustrian dan Perdangan serta BULOG Divre Jambi telah dan akan terus melakukan pemantauan harga secara harian guna mendeteksi lonjakan harga sejak dini sehingga langkah pengendalian dapat dilakukan lebih cepat. 

Rapat koordinasi tersebut juga menyepakati beberapa hal yaitu memastikan ketersediaan beras medium oleh Pemerintah Daerah berkoordinasi dengan BULOG, menyediakan bahan pangan alternatif a.l. daging sapi beku, daging kerbau dan daging ayam beku didukung dengan edukasi kepada konsumen, mengoptimalkan fungsi Satgas Pangan di daerah terutama diprioritaskan untuk pembinaan kepada pelaku usaha (a.l. pencantuman price tag oleh pedagang terutama di pasar-pasar tradisional dalam rangka transparansi harga), serta melakukan komunikasi kebijakan secara proaktif terutama berkaitan dengan stabilitasi harga menjelang dan selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H (termasuk termasuk mencegah dan mengklarifikasi pemberitaan yang cenderung mengarah pada pembentukan ekspektasi inflasi). 

5. Mencermati perkembangan inflasi terkini dan beberapa indikator harga komoditas, inflasi Provinsi Jambi pada Mei 2018 diperkirakan berada pada kisaran 0,20%-0,60% (mtm) dengan inflasi tahunan pada kisaran 3,70%-4,10% (yoy), atau masih dalam sasaran inflasi nasional 3,5±1%. Perkembangan inflasi terutama akan didorong oleh komoditas volatile food seiring meningkatnya permintaan bahan pangan pokok menjelang dan selama periode Ramadhan. Ekspektasi terkait pencairan Gaji ke-13 PNS serta THR pegawai secara umum diperkirakan akan meningkatkan tekanan inflasi bahan pangan ke depan hingga periode Idul Fitri 1439 H. Berdasarkan data 2 (dua) tahun terakhir, komoditas yang diperkirakan menjadi penyumbang utama inflasi adalah cabai merah, daging ayam ras, bawang merah, udang dan ikan nila. Selain itu, meningkatnya permintaan angkutan udara menjelang Ramadhan juga diperkirakan menjadi pendorong inflasi pada Mei 2018. Namun demikian, pelemahan harga komoditas CPO dan karet internasional akan menahan laju inflasi akibat melambatnya daya beli masyarakat.

6. Selain itu, terdapat faktor yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap inflasi (upward risks) sebagai berikut: 

  • Pelemahan nilai tukar Rupiah berisiko mendorong kenaikan beberapa jenis barang impor (imported inflation) termasuk komoditas bahan pangan bergejolak (volatile food) seperti bawang putih, gandum, tepung terigu dan kedelai. 
  • Lonjakan harga energi primer diperkirakan akan mendorong kenaikan harga bahan bakar terutama jenis non subsidi, yang selanjutnya berdampak pada tarif angkutan darat dan udara, serta biaya distribusi (second round effect).

7. Rekomendasi Kebijakan Pengendalian Inflasi Daerah Kebijakan yang dapat ditempuh Pemerintah Daerah bersama dengan Lembaga/Instansi terkait dalam kerangka TPID untuk stabilisasi harga diantaranya adalah: 

Dalam jangka pendek: 

  • 1) Melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga barang/ komoditas secara umum dalam rangka mendeteksi lonjakan harga yang berlebihan. 
  • 2) Melakukan pengawasan terhadap penerapan Harga Eceran Tertinggi sesuai ketentuan yang berlaku.
  • 3) Mendorong pelaksanaan dan efektivitas operasi pasar, antara lain dengan sinkronisasi jadwal dan lokasi operasi pasar melalui koordinasi antar OPD dan/atau instansi sehingga pelaksanaannya dapat terdistribusi merata. 
  • 4) Menjaga distribusi pasokan bahan pangan dari sentra produksi ke pusat perdagangan berjalan lancar, a.l. dengan mengantisipasi gangguan transportasi akibat curah hujan tinggi dan kepadatan arus lalu lintas selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri. 
  • 5) Memastikan ketersediaan bahan bakar minyak dan gas untuk mengendalikan ekspektasi inflasi. 
  • 6) Melakukan komunikasi kebijakan terkait stabilitasi harga secara proaktif. 
  • 7) Berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait untuk penambahan frekuensi angkutan udara menjelang dan selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri. 

Dalam jangka menengah: 

  • 8) Menyusun peta pangan strategis yang mengindikasikan posisi surplus dan defisit Provinsi Jambi, yang didasarkan pada daftar komoditas penyumbang utama inflasi Provinsi Jambi. 
  • 9) Mendorong peningkatan produksi pangan lokal serta mendorong konsumsi produk pangan lokal. 
  • 10) Melakukan edukasi dan sosialisasi secara berkelanjutan tentang konsumsi produk pangan olahan dan pangan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk pangan utama. 
  • 11) Melakukan manajemen persediaan untuk menghadapi lonjakan harga pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dengan penyediaan mesin pengawet dan/atau cold storage. (*/rilis BI Jambi)

KOMENTAR DISQUS :

Top