Selasa, 11 Desember 2018 |
Suaro Wargo

Sistem Keuangan dalam Perspektif Syariah

Senin, 26 November 2018 08:03:51 wib
ilustrasi/acehkita.com

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Dalam agama Islam,harta adalah amanah atau titipan oleh Yang Maha Kuasa, tentunya untuk digunakan oleh manusia dalam jalur kebaikan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Bisa dibilang harta juga bisa menjadi ujian dunia, bukan hanya berkah yang didapat manusia. Sebaik-baiknya harta adalah harta yang digunakan dijalan Allah dan guna kebaikan banyak umat. Salah satu harta dunia titipan Allah SWT adalah Uang. Uang merupakan alat tukar yang sah dalam suatu negara, yang dapat digunakan untuk membeli atau menukarnya dengan suatu barang atau jasa. Dalam islam sendiri, ada sistem ataupun aturan mengenai keuangan tersebut dan itu adalah sistem keungan dalam islam.

Sistem keuangan dalam islam merupakan bagian dari konsep ekonomi islam, yang tujuannya adalah memperkenalkan sistem nilai dan etika Islam dalam lingkungan ekonomi. Karena dasar etika inilah, maka keuangan Islam bagi kebanyakan muslim adalah bukan sekedar sistem trasnsaksi komersial.Muhammad (2004) berpendapat bahwa sistem ekonomi Islami digambarkan seperti bangunan dengan atap akhlak. Uang merupakan bagian dari sistem ekonomi Islam yang tentunya memiliki sistem atau aturan tersendiri dalam islam.

Pada dasarnya Islam memandang uang hanya sebagai alat tukar, bukan sebagai barang dagangan (komoditas). Oleh karena itu,motif permintaan akan uang adalah untuk memenuhi kebutuhan transaksi, bukan untuk spekulasi. Islam juga sangat menganjurkan penggunaan uang dalam pertukaran karena rasulullah telah menyadari kelemahan dari salah satu bentuk bertukaran dizaman dulu yaitu barter (Bai’ almusqoyyadah). Menurut Afzahrul Rohman:

“Rasulullah menyadari kesulitan dan kelemahan sistem barter, lalu beliau ingin menggantikannya dengan sistem uang. Oleh karena itu belikau menekankan kepada para sahabat untuk menggunakan uang sebagai transaksi mereka.”

Hal ini dapat dijumpai dalam hadist antara lain seperti diriwayatkan oleh Ata bin Yasar, Abu Said dan Abu Hurairah, dan Abu Said Al-Qudri :

“Ternyata Rasulullah SAW tidak menyetujui transaksi dengan barter, untuk itu dianjurkan sebaikan menggunakan uang. Tampaknya beliau melarang sistem itu karena ada unsur riba didalamnya”

Dalam islam, waktu jauh lebih bernilai daripada uang. Namun uang dapat mengatur waktu itu sendiri, dan menjadikan waktu itu berharga atau tidak. Islam memperbolehkan penetapan harga tangguh bayar lebih tinggi daripada harga tunai. Zaid bin Ali Zainal Abidin, Abidin bin Husain, dan Ali bin Abi tahlib, cicit Rasulullah SAW, adalah yang pertama kali menjelaskan diperbolehkannya penetapan harga tangguh bayar lebih tinggi dari pada harga tunai.

Yang perlu diingat adalah uang dan segala harta yang kita miliki adalah milik Allah SWT, sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 28 “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada dibumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada didalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya; dan Allah maha Mengetahui segala sesuatu”

Imam (2008) menggambarkan prinsip dasar keuangan islam adalah sebagai berikut “
A. Keadilan

  • Keseimbangan antara hak dan kewajiban
  • Tidak ada pihak yang dirugikan
  • Menempatkan sesuatu pada tempatnya

B. Maslahah

  • Demi kebutuhan masyarakat banyak
  • Demi kebutuhan dasar
  • Investasi Halal
  • Tidak merusak lingkungan

C. Zakat
D. Bebas dari Riba
E. Bathil (bebas dari hal yang tidak sah)

Dari berbagai pembahasan diatas, tentunya Islam dalam mengatur keuangan memiliki tujuan yang baik. Sistem keuangan dalam Islam bertujuan untuk memberikan sistem tata kelola uang yang Halal dan baik bagi para muslim. Target utamanya adalah kesejahteraan ekonomi yang tinggi, keadilan sosio-ekonomi secara distribusi, pendapatan dan kekayaan yang wajar, stabilitas nilai uang, dan mobilisasi serta inverstasi yang halal. Hal ini selaras dengan pendapat Chapa (1985) yang berpendapat bahwa tujuan Sistem keungan islam adalah untuk memberi kontribusi yang layak bagi tercapainya sosio-ekonimi Islam.

Singkatnya, dalam ekonomi islam berbagai sumberdaya dipandang sebagai pemberian atau titipan Tuhan kepada manusia, termasuk uang. Manusia harus memanfaatkan itu seoptimal mungkin guna memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan dunia dan semua kegiatan itu akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Kekuatan penggerak utama ekonomi adalah kerja sama. Sebagaimana seorang muslim mengelola uangnya untuk kepentingan bersama.

Dari paparan diatas, diharapkan kepada seluruh umat Muslim dapat dengan bijak mengelola uang yang mereka milki. Semestinya uang itu adalah titipan dari Allah SWT dan dipergunakan sesuai sistem keuangan dalam Islam yang telah dipaparkan diatas dan demi kepentingan bersama serta atas kebutuhan dasar. Jangan sampai uang yang merupakan titipan Yang Maha Kuasa itu kita salah gunakan untuk kepentingan maksiat dan bukan untuk kepentingan bersama serta mengutaman kebutuhan dasar. Sesungguhnya apapun yang kita lakukan di dunia ini, akan dimintai petanggung jawaban di akhirat nanti.

 

 


...
Ditulis Oleh:
- M.Daffa Prasetya
- Sidratul Fadil
- Sinta Bella Br Tarigan
- Vivin Yulia

 

Mahasiswa Jurusan Akuntansi/Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Negeri Jambi

 

 

 
 
*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top