Kamis, 15 November 2018 |
Ekonomi

SKK Migas-PT PBMSJ 'Membangunkan Si Nyonya Besar' Pertamina EP Bajubang

Senin, 05 November 2018 20:24:38 wib

JAMBIDAILY MIGAS, Ekonomi - Kini Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PT Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi (PBMSJ) akan membangunkan kembali 'Si Nyonya Besar' Pertamina EP Bajubang Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi, yang memiliki catatan kejayaan pada masanya.

"Daerah ini banyak bercerita mengenai sejarah industri hulu migas sejak zaman Belanda, banyak sumur tua dan peninggalan aset," Kata Mohammad Agus Kepala Humas SKK Migas Perwakilan Wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) saat diwawancara awak media dalam kegiatan Media Field Trip (Senin, 05/11/2018).

Agus menyampaikan tentang hasil produksi di Pertamina EP Bajubang tidak sebesar awal keberadaannya, tetapi penurunan tersebut mulai kembali dibangkitkan dan membuahkan hasil dalam beberapa tahun belakangan ini

"Sudah menurun produksinya dulu namun masih diupayakan oleh salah satunya dari PT Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi (PBMSJ). Alhamdulillah Produksinya sampai saat ini berkisar antara 1100 Barel per hari," Jelas Mohammad Agus.

Senada dengan itu Niko Akmal Field Manager TAC Pertamina EP-PT Prakarsa Betung Meruo Senami Jambi (TAC PEP-PBMSJ) dalam pemaparannya di depan awak media yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas (FJM) Jambi, kembalikan ingatan terkait lokasi yang terdapat peninggalan-peninggalan jejak sejarah Migas di provinsi Jambi.

"Disini, banyak sekali peninggalan sejarah terkait cikal bakal Migas di provinsi Jambi sejak zaman kolonial Belanda dahulunya," Ujar Niko Akmal.

Dari perjalanan Media Field Trip, jambidaily.com menyaksikan tidak sedikit Aset yang terbengkalai, tidak terurus bahkan kesan angker tersaji ketika menelusuri area Pertamina EP Bajubang.

 

Jejak Pertamina EP bajubang

Pertamina melalui laman pertamina.com, berjudul 'Pertamina EP Jambi Field Lakukan Pengeboran di Sumur Betung' (Minggu, 23/09/2018) yang diakses jambidaily.com (Sekira Pukul: 21.09 Wib - Pada Senin, 05/11/2018) bahwa 

PT Pertamina EP (PEP) melalui unit Asset 1 Jambi Field melakukan pengeboran sumur BTP-01 di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari. Pengeboran sumur tersebut dilakukan menggunakan rig NT-45/2 milik Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI) hingga kedalaman akhir 600 meter selama 21 hari kerja.

Hal tersebut diungkapkan oleh Asset 1 Legal & Relation Manager, M. Rizal Rukhaidan dalam kegiatan sosialisasi dan syukuran, Selasa (18/9/2018). “Kami sangat berharap proses pengeboran sumur BTP-01 berjalan sesuai rencana dengan tetap mengedepankan aspek health, safety, dan environment dalam setiap tahapan pelaksanaannya. Diharapkan dari sumur BTP-01 dapat menghasilkan minyak bumi sebesar 200 BOPD, sehingga dapat meningkatkan lifting migas PEP ke depannya”, ungkap Rizal.

Selain itu dalam artikel yang ditulis Nurul Fahmi untuk laman jambi.antaranews.com (Rabu, 31/10/2012), berjudul 'Sembilan Puluh Tahun Eksploitasi Minyak Bumi di Jambi' yang diakses jambidaily.com (Sekira Pukul: 21.14 Wib - Pada Senin, 05/11/2018) membeberkan keberada Pertamina EP Bajubang

Tiga daerah penghasil minyak bumi di Jambi; Bajubang, Tempino dan Kenali Asam hanya menjadi sapi perahan dua perusahaan minyak bumi milik kongsi Belanda dan Amerika Serikat; Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) dan NV Nederlands Indische Aardolie Maatschappij (NIAM). 

Tidak seperti tanaman karet yang dimiliki oleh rakyat dan hasilnya dinikmati sendiri oleh mereka, minyak bumi di Jambi dikuasai sepenuhnya oleh kolonial. Dua perusahaan itu dikontrol ketat oleh penguasa di Batavia dan Amerika. 

Elsbeth Locher-Scholten dalam bukunya "Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial (2008)" menuliskan, hingga 1938 tidak ada statistik khusus yang mencatat besar sumbangan Jambi dari sumur-sumur minyaknya ke pemerintah di Batavia. 

Hasil minyak Jambi seluruhnya dimasukan dalam catatan produksi Palembang. Hingga kini minyak Jambi tetap disuling di sana. Setelah disedot dari bumi Jambi, minyak kemudian dialirkan melalui pipa sepanjang 250 kilometer ke Plaju, Sumatera Selatan. 

Dalam memorie van overgave (nota penyerahan) Residen Belanda yang dikutip Elsbeth-Scholten disebutkan, minyak Jambi pada 1938 telah menyumbang 14 persen dari total keseluruhan produksi minyak di Hindia Timur. Catatan Belanda lainnya menyatakan, perusahaan minyak itu setidaknya telah mendapatkan untung sekira dua juta gulden pada 1935. 

Selama tujuh tahun sejak 1923 hingga 1930, perusahaan tambang itu telah merekrut hampir 2.400 orang pekerja. Mereka mengeluarkan uang setengah juta gulden sebagai upah para pekerja. Dalam masa resesi ekonomi 1930 itu, Jambi disebut sebagai "wilayah minyak prospektif tersisa yang paling berharga di Hindia Timur Belanda" oleh Amerika.

Masa Kejayaan Pertamina Jambi 
Masa kejayaan Pertamina Jambi terjadi pada 1970 hingga awal 90-an. Indikator kejayaan produksi itu adalah kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat yang membaik. 

Semua orang di Jambi kala itu mafhum belaka, pegawai Pertamina di tiga daerah ini hidup makmur, berkecukupan dan sejahtera. Mereka dilimpahi fasilitas mewah dan diganjar pendapatan perbulan yang sangat besar. 

Mungkin hanya di Bajubanglah ada rumah sakit dengan fasilitas yang paling lengkap di Jambi saat itu. Fauzi Z, mengatakan, "saya numpang lahir di rumah sakit di Bajubang itu setelah dirujuk dari Kenali Asam. Ayah saya pegawai BPM, jadi dapat menikmati fasilitas di sana," akunya. 

Dari Qatar dua pekan lalu, Bambang Sukmadi 32 tahun kepada ANTARA melalui jejaring sosial bercerita tentang kejayaan daerah tempat dia menghabiskan masa kecilnya; Bajubang. 

Menurut dia, Bajubang bisa dikategorikan "desa metropolitan". Desa itu memiliki fasilitas lengkap dan dianggap mewah pada era itu. Fasilitas berupa bioskop, rumah sakit, lapangan golf, kolam renang dan sekolah, mulai dari SD, SMP dan SMA. Selain itu juga ada bar dan klub serta fasilitas olahraga lainnya. 

"Hingga tahun 90-an, lapangan golf Pertamina menjadi satu-satunya lapangan golf terbaik di Jambi, banyak pejabat dari berbagai daerah di Jambi datang bermain golf di sana," kata karyawan perusahaan tambang minyak di Qatar ini. 

Namun di balik itu ada ironisme sosial yang terjadi. Semua fasilitas itu hanya berlaku bagi karyawan atau keluarga Pertamina saja. Di sini, jurang sosial menganga lebar. Karyawan Pertamina yang umumnya tinggal di komplek, statusnya tidak sama dengan warga biasa yang tinggal di pinggiran desa. 

Warga pinggiran ini disebut sebagai "orang ladang", sedang pegawai Pertamina, terlebih staf yang punya golongan tinggi di sebut "orang gedongan." 

"Yang jelas karyawan Pertamina sudah tentu makmur dan sejahtera, sedangkan warga sekitar harus berusaha keras untuk mencapainya dan mereka tidak diperkenankan menggunakan fasiltas milik Pertamina," sebut anak pensiunan pegawai Pertamina Bajubang tahun 90-an itu. 

Minggu pekan lalu ANTARA menyusuri jalur yang dulu menjadi jalan utama Pertamina. Dari Kenali Asam, terus ke Tempino dan Bajubang. Jalan yang dulu dapat ditempuh dengan hanya 45 menit perjalanan mengunakan sepeda motor, kini harus ditempuh dalam waktu yang lebih panjang. Terutama selepas Tempino menuju Bajubang. 

Jalan itu kini rusak parah. Lubang menganga di sana-sini. Padahal lima belas tahun lalu, jalan ini mungkin satu-satunya jalan terbaik yang ada di provinsi ini. 

"Keadaan sekarang sudah sangat berbeda. Terakhir saya pulang (ke Bajubang) Lebaran lalu. Setelah produksi emas hitamnya menurun dan tidak lagi ditemukan cadangan minyak di daerah itu, Bajubang mulai sepi, sudah ditinggalkan orang-orang," lanjutnya. 

Karyawannya mulai berkurang. Banyak yang memilih pensiun dini atau pindah ke wilayah lain yang masih produktif. "Sekarang banyak rumah komplek yang kosong tak terawat, sebagian lagi bahkan dicuri oleh orang. Saat ini yang ada hanya orang-orang tua dan anak-anak usia sekolah," katanya. 

Lapangan golf mulai ditanami kelapa sawit. Rumah sakit tidak lagi digunakan. Bangunannya terlihat angker dan sangat menyeramkan. 

Puncak kelesuan sosial itu terjadi sejak Kantor Pertamina EP UBEP Jambi yang menjadi penggerak nadi Bajubang pindah ke Kenali Asam pada 2011 lalu. Migrasi besar-besaran terjadi. Bajubang kini, sama seperti tetangganya yang berjarak 20 kilometer, Tempino, semakin terbengkalai, terbunuh sepi dan ditinggalkan orang-orang. 

Laporan harian produksi minyak Pertamina EP Jambi mencatat, hasil minyak Bajubang terkecil dari 10 lokasi sumur milik Pertamina di berbagai daerah. Target produksi bulan Oktober kemarin hanya mencapai 100 bph. Jauh lebih kecil dari daerah-daerah lain.

 


Penulis: Hendry Noesae
Sumber: pertamina.com dan jambi.antaranews.com

 

 

Berita Terkait:

KOMENTAR DISQUS :

Top