Minggu, 17 Desember 2017 |
Peristiwa

SKK Migas “Kesulitan” atasi Minyak Bayat karena Hadangan masalah yang Kompleks

Minggu, 06 Agustus 2017 19:38:47 wib
Photo: ist

JAMBIDAILY PERISTIWA-Walau dengan teknologi yang sangat sederhana, beberapa oknum warga Musi Banyu Asin (Muba), sudah bisa memproduksi minyak. Minyak yang diproduksi juga beragam, mulai dari bensin, minyak lampu (minyak tanah) hingga solar. Hasil produksinya juga dipasarkan di beberapa wilayah di Sumatera dan pulau Jawa.

Bahan baku minyak olahan ini, diperoleh dari sumur-sumur tua, sumur yang dibor sendiri atau hasil “mengebor pipa” milik Pertamina yang melewati kawasan tersebut. Ini sudah berlangsung cukup lama, yang hingga saat ini belum bisa diatasi.

Aparat negara, termasuk Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas) seolah tak berkutik mengatasi persoalan ini. Selain wewenang, masalah sosial juga menjadi persoalan dalam mengatasi persoalan minyak yang lebih dikenal dengan nama ‘Minyak Bayat’ ini.

Ops SKK Migas Sumbagsel, Harso Jaya, dalam Ghatering bersama Forum Jurnalis Migas (FJM) Jambi di Belitung mengatakan, kesulitan SKK Migas karena faktor wewenang. “Sesuai peraturan yang ada, SKK Migas hanya mengurusi blok Migas yang masih produktif. Sementara masyarakat, mengeksploitasi sumur-sumur tua yang sudah tidak produktif,” papar Harso, yang mengaku sudah menutup ratusan sumur minyak yang dikelola masyarakat di Bajubang dan Sarolangun, Provinsi Jambi.

Menurutnya, sumur-sumur tua yang dikelola masyarakat di Muba itu, kadar minyak sudah di bawah 20 persen. “Yang disedot masyarakat itu lebih dominan berupa air, tanah dan material lainnya. Minyak hanya sekitar 10 persen. Secara bisnis, sumur itu sudah tidak efisien lagi, makanya tidak lagi diusahakan. Inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat,” sebut Harso yang dibenarkan oleh Media Relation Manager SKK Migas, Rian Bagus Wurjantoro.

Terlepas dari sumur tua, sudah tidak produktif lagi atau sudah tidak ekonomis lagi, persoalan ini masih ada di tengah masyarakat. Selain efek samping, terjadi pencemaran lingkungan, juga karena produksi minyak tanpa standarisasi, sehingga tidak sedikit yang mengalami petaka.

Petaka itu dimulai dari sumur yang meledak, pemrosesan (memasak minyak) hingga ke pengguna (konsumen). Beberapa kali terjadi kebakaran di lokasi sumur dan lokasi pengolahan “minyak  Bayat” ini. Bahkan ada juga konsumen yang kompornya meleduk akibat masih adanya gas pada minyak lampu yang dipakainya.

Walau disebutkan bahwa sumur-sumur tua itu sudah tidak produktif lagi, namun sedikitnya ada 915 sumur yang dikelola secara illegal oleh masyarakat. Terbanyak terdapat di kabupaten Musi Banyu Asin (Muba). Hasilnya, bisa dilihat secara kasat mata. Hampir setiap hari, puluhan mobil, mulai dari pick up, APV hingga truk lalulalang membawa minyak hasil olahan sederhana itu. Minyak produksi Bayat itu dijual ke beberapa wilayah di Sumatera hingga ke pulau Jawa. (Septimen Loethfi)

KOMENTAR DISQUS :

Top