Sabtu, 18 Agustus 2018 |
Nasional

Solidaritas Untuk Rani, Puluhan Wartawan Sampaikan Protes Ke Polda

Kamis, 13 Agustus 2015 22:04:58 wib
Puluhan wartawan sampaikan protes di Polda Jambi yang diterima Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Almansyah

JAMBIDAILY NASIONAL-Sebagai solidaritas sesama insan pers, puluhan wartawan dari berbagai media cetak online dan elektronik lokal dan nasional melakukan protes ke Polda Jambi.

Kedatangan para insan pers itu, Kamis siang (13/08), menyampaikan protes dan pernyataan bersama agar tidak ada tindak kekerasan terhadap wartawan yang sedang melaksanakan tugas jurnalistik oleh aparat Kepolisian yang seyogyanya menjadi mitra kerja seperti yang telah terjalin selama ini.

Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Pol Almansyah, setelah mendengar protes yang disampaikan oleh Sekretaris Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Jambi, Aning Masnidar, menyatakan permintaan maaf atas kejadian yang dialami wartawati Harian Independent Jambi, Rani, karena saat melakukan peliputan mendapat pelarangan dari petugas.

"Atas nama pimpinan, saya menyampaikan maaf.  Dan berharap kejadian ini tidak akan terulang kembali dimasa yang akan datang,"tegasnya dihadapan puluhan wartawan Jambi itu.

Sedih dan tak ingin kejadian ini dialami wartawan lainnya, itulah ungkap hati salah satu wartawati yang mengalami tindakan tidak sepatutnya oleh oknum Polisi saat melakukan tugas peliputan di ruang publik di Kota Jambi.

Kedatangan para wartawan ini sebagai buntut dari kejadian yang dialami Rani wartawati Harian Jambi Independent yang diperlakukan tidak sepatutnya oleh oknum saat melakukan peliputan kasus narkoba.
Sebagaimana dikutip dari http://jambiindependent.com, Rabu (12/08), Diceritakan Rani, saat polisi melakukan penggerebekan kasus narkoba di  Jalan Guru Muktar 2 Tambak Sari, Thehok, Jambi Selatan, Selasa (11/88) sekitar pukul 14.45, tiba-tiba saja Hp Samsung Note 3 miliknya dirampas polisi, dengan alasan telah mengambil foto di lokasi kejadian. Rani juga dibawa paksa oleh polisi.

“Sudah dilarang ambil foto kena malah memoto. Ambil Hp-nya dan bawa ke sini orangnya,” teriak salah seorang polisi kepada rekan polisi lainnya, seperti yang ditirukan Rani.

Menurut Rani saat itu dirinya sempat menolak dibawa polisi dan juga menolak untuk menghapus foto eksklusif yang diambilnya. Tapi karena dibentak dan merasa diintimidasi akhirnya Rani menghapus foto tersebut. “Hp saya diambil seorang polwan, dan saya disuruh naik ke mobil AVP milik pihak polisi, sedangkan kendaraan saya dibawa oleh petugas polisi lainnya," ujar Rani.

Di perjalanan pun Rani merasa diperlakukan tidak semestinya. Dengan nada tinggi polwan tersebut beberapa kali membentak. “Saya sempat mengatakan jangan kasar, tapi polwan itu tetap saja membentak menyuruh saya diam. Bahkan dia pun sempat mau merampas Hp saya yang satu lagi, tapi saya tidak kasih dan terjadi tarik menarik. Saat itu juga saya langsung menghubungi Pemred Jambi Independent via SMS,” ujar Rani.

Dari Jalan Guru Muchtar, Rani beserta beberapa mobil polisi yang membawa tersangka narkoba berjalan melewati Jalan Sudirman Thehok dan terus ke Jalan Sulanjana (KONI Bawah). Akhirnya karena tidak tahu mau dibawa kemana, Rani pun bertanya kepada polisi hendak dibawa kemana dirinya.

“Kita akan ke RS Polisi,” jelas seorang polisi yang duduk di sebelah kiri Rani.

Tapi sebelum sampai di RS Polisi, mobil berhenti di belakang Kantor Golkar. Beberapa orang dalam keadaan diborgol diturunkan dan dibawa pergi oleh beberapa orang polisi berpakaian preman. Lalu salah seorang Kanit mendekati Rani. “Kanit tersebut minta maaf karena perlakuan ini, termasuk beberapa polisi lainnya. Atas instruksi kanit tersebut, saya pun dilepaskan,” kenang Rani.

Menanggapi kejadian ini, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jambi, Mursyid Sonsang menyesalkan. “Polisi tidak boleh arogan dan tidak boleh melarang wartawan melakukan liputan dan merampas peralatan wartawan, apalagi ini di ruang publik,” ujarnya.

Menurut Mursyid, tindakan tersebut sudah melanggar UU Pers Nomor 40 tahun 1999 yang salah satu bunyinya pembredelan atau pelarangan penyiaran adalah penghentian penerbitan dan peredaran atau penyiaran secara paksa atau melawan hukum.

Mursyid pun meminta Kapolda menindak anak buahnya itu. ”Saat ini citra polisi yang dibangun oleh Kapolri adalah senyum manis, polisi yang bersahabat dengan segala macam masyarakat. Apalagi wartawan yang tugasnya juga membantu polisi,” ujar Mursyid yang juga Alumni Lemhanas PPSA XVIII.

Sementara itu, Kasat Narkoba Polresta Jambi, Kompol Witry Haryono mengatakan pihaknya hanya menjaga jangan sampai ada kesalahpahaman antara polisi dengan wartawan. “Kami sudah katakan jangan ambil foto,” ujarnya singkat.(jambidaily.com/DRM)

KOMENTAR DISQUS :

Top