Kamis, 18 Oktober 2018 |
Suaro Wargo

Sumiati: Waspada Dampak Pola Asuh Orang Tua yang Otoriter

Rabu, 30 Mei 2018 12:03:32 wib

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Orang tua mempunyai peran dan fungsi yang bermacam-macam, salah satunya adalah mendidik anak. Menurut (Edwards, 2006), menyatakan bahwa pola asuh merupakan interaksi anak dan orang tua mendidik, membimbing dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.

Namun dalam hal ini banyak orang tua yang salah tanggap dan malah memilih pola asuh yang otoriter (authoritarian parenting), pola ini merupakan suatu pola pengasuhan dimana orang tua membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua. Orang tua yang otoriter cenderung membatasi dengan tegas suatu aturan dalam rumah, dan orang tua dengan pengasuhan ini cenderung tidak memberikan dan menghargai pendapat yang diberikan oleh anak. 

Diketahui bahwa kebanyakan anak-anak yang di asuh dengan pola pengasuhan otoriter cenderung bersifat curiga terhadap orang lain, merasa tidak bahagia dengan diri sendiri, merasa canggung berhubungan dengan orang lain atau dengan teman sebaya, canggung menyesuaikan diri pada awal sekolah atau sulit beradaptasi dengan ingkungan barunya, cenderung memberontak sering sedih dan tertekan.

Adapun ciri-ciri pola pengasuhan otoriter, seperti:

  • Orang tua sangat mengontrol prilaku anak, namun tidak menjaga kehangatan diantara mereka.
  • Orang tua cenderung berperan sebagai bos.
  • Menuntut anak untuk patuh.
  • Penuh aturan dan arahan.

Jadi pola asuh otoriter tidak lah bagus untuk perkembangan anak dan dampaknya juga begitu buruk, adapun dampaknya seperti anak mudah cemas, kurang percaya diri, kurang komunikatif, sulit untuk membuat keputusan, cenderung memberontak, mudah sedih dan tertekan. 

Setelah membaca ini apakah ayah dan bunda masih ingin memilih pola asuh otoriter? Tentu tidak kan, pola ini bukan lah pilihan yang tepat untuk buah hati anda!

Solusi yang tepat untuk mendidik anak adalah:

  • Memberikan contoh yang baik terhadap anak, karena anak lebih mudah menyerap apa yang ia lihat dari kedua orang tuanya.
  • Memberikan respon yang positif.
  • Memberikan hukuman yang relevan ringan secara konsisten.

 

...
Ditulis Oleh
Nama: Sumiati
Mahasiswa UIN STS JAMBI
Fakultas tarbiyah

 

 

 

 


*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

Top