Senin, 19 November 2018 |
Profil & Tokoh

Syaiful Bahri Lubis: Selamat Jalan Sang Maestro

Minggu, 12 Agustus 2018 16:36:21 wib
Maestor kebudayaan Jambi, Iskandar Zakaria, berpose di depan kamera Beritagar.id di Dusun Nek, Sungaipenuh, Jambi, pada Senin (02/10/2017). Beritagar.id / Ramond EPU

JAMBIDAILY TOKOH - Dalam sebuah diskusi ringan dengan Ibu Dr. Pudentia, M.P.S.S., Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), beliau pernah mengatakan bahwa bila seorang Maestro meninggal dunia, itu artinya sama saja dengan musnahnya sebuah Perpustakaan Besar. Hal itu jugalah yang terjadi pada Provinsi Jambi khususnya, Indonesia umumnya, dengan berpulangnya ke Rahmatullah Maestro kita, Bapak Iskandar Zakaria, tepat pukul 18.00, Jumat, 10 Agustus 2018, di Sungaipenuh, Kerinci, Provinsi Jambi, hilang pulalah sebuah Perpustakaan Besar itu. Sebuah ensiklopedia lengkap telah hilang. Kini, seluruh masyarakat Jambi merasakan dukacita yang teramat dalam. Kita benar-benar merasa kehilangan dengan berpulangnya Maestro Tradisi Indonesia.

Almarhum Iskandar Zakaria, lahir 13 April 1942, di Sungaipenuh, 76 tahun yang lalu. Beliau anak ketujuh dari dua belas bersaudara. Iskandar kecil merupakan buah hati dari pasangan Ayahanda Zakaria dan Ibunda Rahma. Riwayat pendidikan formal beliau dimulai dari bersekolah di SR (sekolah rakyat) di Kota Padang, dua tahun kemudian dilanjutkan di Kerinci dan tamat tahun 1954. Dilanjutkan dengan bersekolah di SMP dan tamat tahun 1957. Lalu masuk sekolah SMA dan ditamatkannya tahun 1964. Setelah tamat SMA, beliau pun melanjutkan pendidikan tingginnya di Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang meskipun tidak sampai tamat. Maestro Iskandar Zakaria menikah tanggal 26 April 1967 dengan Ibu Zainidar, seorang putri campuran Sungaipenuh dan Desa Rawang. Alhamdulilah pasangan ini dikaruniai empat orang anak, yaitu Meiza Teti Qadarsih anak sulung, Gustiza Andria Qadarsih anak nomor dua, Antri Maliza Qadarsih S. Sos. anak nomor tiga, dan Amor Patria Qadarsah sebagai anak bungsu. Kakek 8 orang cucu dan 2 cicit ini bertempat tinggal di Jalan R.A. Kartini 88 A Kelurahan Dusunbaru Kecamatan Sungai Bungkam, Kota Sungaipenuh, Provinsi Jambi.
Beliau tergolong Maestro yang produktif. Berbagai karya puisi, esai, naskah drama, dan cerita rakyat telah diterbitkan di berbagai surat kabar dan juga oleh Pemerintah Kabupaten Kerinci dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Peraih Anugerah Gong Bertuah dan Pin Emas dari Gubernur Jambi ini juga telah mementaskan puluhan karya sastra, tari, dan musik di beberapa kota di Tanah Air dan Asia Tenggara. Kesungguhannya dalam menggali dan melestarikan potensi tradisi yang dimiliki masyarakat Jambi mengantarkannya untuk mendapatkan beberapa penghargaan. Di antaranya, Penulis Terbaik tentang Perjuangan Fisik Rakyat Kerinci 1945-1949 dari Sekretariat Negara RI (1978), Penulis terbaik III naskah sandiwara radio dari RRI Pusat (1991), Rekor Muri untuk penulis Mushaf Alquran terpanjang di dunia (2006), dan Maestro Tradisi dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (2010).

Pemilik Sanggar Seni Ilok Rupo ini setia dalam merevitaliasi dan mengajarkan penulisan aksara Incung Kerinci pada generasi muda Kabupaten Kerinci secara khusus, dan Jambi secara umum. Rumah yang ditempatinya di Kota Sungaipenuh dijadikannya museum yang menyimpan beberapa koleksi naskah kuno dan peninggalan purbakala Kerinci lainnya. Pengumpulan dan dokumentasi potensi kebudayaan Kerinci dilakukannya dengan biaya pribadi.

Selamat jalan Kakek. Selamat jalan Ayah. Selamat jalan Suami. Selamat jalan Datuk. Selamat jalan Maestro. Kami semua rakyat Jambi, rakyat Indonesia, mengiringi dengan doa kepergianmu. Semoga husnul khotimah. Semoga ditempatkan di tempat terbaik di Baitul Jannah. Jannatul Firdaus.

 

 

 

Ditulis Oleh:
Kepala Kantor Bahasa Jambi, Syaiful Bahri Lubis, S.S
*dikutip melalui (facebook.com @SyaifulBahriLubis /Minggu, 12/08/2018, Sekira Pukul: 13.34 Wib)

KOMENTAR DISQUS :

Top