Rabu, 15 Agustus 2018 |
Pendidikan & Teknologi

Tak Perlu Meratapi Kesedihan, Sebab Luka Itu Mendewasakan

Jumat, 15 Juni 2018 08:00:53 wib
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

JAMBIDAILY PENDIDIKAN - Orang-orang bilang memaafkan itu perkara yang mudah, namun melupakan itu bukan perkara yang mudah. Namun ada juga yang mengatakan sebaliknya. Terluka itu suatu perkara yang wajar sebab semua manusia diciptakan punya hati. Setiap orang pasti pernah dilukai maupun melukai walaupun terkadang kita tidak pernah sadar. 

Seperti yang kita ketahui, semua yang ada di dunia ini memiliki antonimnya. Ada siang, ada malam. Ada gelap, ada terang. Ada suka, ada duka. Dunia ini berputar, tidak selamanya kita berada di bawah begitu juga di atas. Hidup ini terlalu luas jika kita hanya merasakan satu rasa, dunia ini terlalu indah bila tidak ada masalah yang harus diselesaikan, lantas kapan lagi kita bisa belajar? Tuhan menciptakan dunia yang begitu indah ini untuk kita bersyukur atas segala nikmatnya. Sejatinya, segala yang diberikan Allah itu indah sekali, sangat pantas untuk disyukuri. Apapun itu bentuknya, baik atau buruk kah sifatnya. Karena Allah is the Best Planner. Sudah jelas tertera dalam Q.S Al-Baqarah: (216) bahwa apa yang manusia sukai belum tentu baik bagi manusia dan begitu juga apa yang dianggap buruk bagi manusia belum tentu buruk bagi Allah. 

Allah sudah tahu pasti bahwa dilukai seseorang itu sangat menyakitkan. Tapi sadarkah jika kita telah berulang kali menyakiti Allah? Namun Allah tetap menyayangi kita, tetap memberikan apa yang kita usahakan dan kita doakan. Lagi-lagi, Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Ya seperti surah yang disebut di atas tadi, kita tidak tahu pasti apa yang terbaik buat kita.

Saat kita dilukai oleh orang lain, masih kah kita menyalahkan orang yang melukai kita yang juga termasuk makhluk Allah? Masih kah kita membenci makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna itu? Manusia diciptakan dengan segala kesempurnaan-Nya, diberi akal, hati. Bagaimana kita memaafkan orang lain? Ingat, setiap perbuatan baik maupun buruk pasti ada balasannya. Saat ini orang lain melukai kita, mungkin di waktu lampau kita pernah menyakiti orang lain. Di balik kesempurnaan sesuatu pasti ada kekurangannya, ya seperti manusia yang terkadang sangat mudah melupakan sesuatu. 

Sejatinya melupakan itu baik apabila kita melupakan kesalahan orang lain kepada kita. Tidak ada gunanya mengingat kesalahan orang lain pada kita, kita juga manusia yang pernah bersalah pada orang lain. Tetaplah berpikir positif dalam situasi senegatif apapun itu. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk diri kita sendiri.

Cukup kita ingat apa saja kebaikan yang telah dilakukan orang yang melukai kita, momen apa saja yang telah kita lalui bersamanya, perjuangan apa saja yang  telah ia lakukan untuk kita. Jangan pernah menyimpan dendam yang dapat merusak hati. Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan, namun sering kali kita mengecewakan. Allah tidak marah, Allah tetap memberikan apa yang kita butuhkan. Jadilah manusia yang memberi lebih, jangan hanya menuntut banyak dari orang lain. 

Luaskan hati agar dapat menerima kenyataan sepahit apapun itu, libatkan Allah dalam kondisi apapun. Pada hakikatnya luka itu mendewasakan. Cukup jadikan rasa sakit itu sebagai motivasi untuk tidak melukai orang lain dengan sakit yang sama, apalagi lebih. Maafkanlah, lupakanlah segala sakit itu, ingatlah segala kebaikan orang lain pada kita. 

Kadang mulut mengatakan bahwa kita sudah memaafkan namun sulit melupakan, ayo coba periksa lagi maaf yang kita berikan dan ucapkan di mulut apakah sudah tulus? Jika sudah tentunya kita tidak akan mengingatnya lagi. Jika kita masih mengingatnya, nah loh jangan-jangan maaf yang kita berikan dan ucapkan masih setengah-setengah. Aduh jangan nanggung-nanggung dong.

Hidup ini penuh dengan lika-liku, tidak mulus dan lurus-lurus saja. Jalan tol yang bebas hambatan saja tidak melulu lurus-lurus saja. Hambatan yang ada dalam hidup dapat mendewasakan diri jika kita mampu mensyukuri hambatan sesulit apapun itu. Gagal mendapatkan sesuatu? Jangan menyerah untuk mencoba lagi, namun jangan lupa libatkan Allah dalam setiap kegiatan kita. 

Selalu ingat bahwa apa yang terjadi pada diri kita merupakan ketetapan terbaik dari Allah. Hidup ini terlalu singkat jika hanya terpuruk dalam luka dan menyesali sesuatu terlalu dalam. Jangan, jangan menyesal terlalu dalam. Yuk lah move on. Kita tidak tahu sampai kapan kita hidup, jangan tunda waktu untuk memperbaiki diri. Mulailah dari hal-hal kecil, dengan sendirinya kita akan terus berlanjut menuju hal yang lebih besar. 

Kita semua pasti sudah memiliki teknologi yang namanya smartphone yang bisa digunakan untuk melihat hal-hal yang positif seperti menonton kajian-kajian, vlog-vlog orang yang memotivasi untuk melakukan kebaikan. Mulailah pahami diri sendiri, coba komunikasi dengan diri sendiri. Misalnya, kita adalah orang yang individualis, pemalas, nah cobalah berkomunikasi dengan diri sendiri, “Kamu tidak lagi boleh menjadi dirimu hari ini, kamu harus lebih baik dari hari ini. ayolah coba menjadi orang yang berjiwa sosial lebih tinggi." 

Perlahan kamu akan melakukan hal yang membuat diri kamu lebih baik. Misalnya kamu mulai suka melakukan hal positif seperti mengikuti kegiatan relawan Ramadan agar kamu tidak bermalas-malasan di bulan yang penuh berkah. Ada lagi hal mudah yang dapat kita lakukan, menuliskan hal apa saja yang perlu diperbaiki setiap harinya di note ataupun diari. Rasa-rasanya membandingkan diri kita dengan orang lain dalam hal kebaikan tidak salah. Jadikanlah kebaikan orang lain yang kita lihat untuk memotivasi diri sendiri untuk melakukan kebaikan. “Segala amal perbuatan tergantung niatnya," ingat itu ya ladies.

(vem/nda)/vemale.com

KOMENTAR DISQUS :

Top