Senin, 23 April 2018 |
TANJAK

TAKZIM UNTUK SANG GURU

Jumat, 25 November 2016 14:07:58 wib
Ilustrasi (google.co.id)

DITENGAH berbagai persoalan yang dihadapkan para guru dan pendidik kita, dari tahun ke tahun, tak membuat mereka lelah dan terus ada, mendidik, mencetak dan melahirkan generasi yang dapat menjadi kekuatan bangsa.

Semangat para guru itu terlihat pada tema peringatan PGRI ke-71 dan Hari Guru Nasional 2016 "Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya".

Fakta mengejutkan seperti yang disampaikan  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy, soal banyaknya kasus perselisihan antara murid dengan guru yang berakhir ke ranah hukum.

"Sekarang dicubit aja protes, lapor polisi," ujar Muhadjir dalam sambutannya saat membuka Pekan Budaya Indonesia 2016 di Pendopo Kabupaten Malang, seperti dikutip dari laman kompas.com, belum lama ini.

Belum lagi ditengah tantangan “peralihan” budaya menghormati guru tersebut, disejumlah daerah, para guru harus berjuang ditengah idealisme mencerdaskan bangsa dan berkutat dengan mencari nafkah tambahan untuk keluarga karena gaji yang sangat kecil dan pembayaran tidak tepat waktu (honorer-red) dan sering terlambat.

Dalam pandangan penulis, ketertinggalan budaya menghormati guru sebagaimana nilai-nilai luhur itu karena terjadi pergeseran globalisasi yang tidak selaras dengan percepatan “sebaran”  budaya belajar mengajar sebagaimana yang diwariskan para pendahulu kita.

Teringat,  bagaimana budaya menghormati guru di desa penulis, pada era tahun 70-an, para orangtua memberi sebagian hasil panen sawah dan kebun, bahkan hasil menangkap ikan.  

Bahkan sebelum hasil panen dan menangkap ikan tersebut dimakan keluarga, terlebih dahulu penulis disuruh mengantar kepada guru SD dan guru ngaji penulis sebagai bentuk takzim dan terima kasih para orangtua serta mengajarkan anak-anaknya terhadap peran penting seorang guru.

Kondisi tersebut juga seakan berbalas dengan figure  para guru yang memang memberi contoh dan tauladan sebagai “Guru diguguh dan ditiru (Dipercaya dan dapat dijadikan tauladan-red)”, yang diperlihatkan para guru dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Belum terlambat rasanya, para pemangku kebijakan merevisi dan terus memperbaiki Undang-undang No 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional  yang merupakan arah kebijakan pendidikan yang dapat menghasilkan generasi yang memiliki kecerdasan fhisik, emosional dan spiritual.

Belum  juga terlambat, bagi kita para orang tua menanamkan nilai-nilai luhur menghormati guru dengan menyesuaikan perkembangan zaman.

Melalui momentum Hari Guru Nasional 2016 ini, secara khusus penulis menyampaikan salam takzim dan kerinduan kepada Almarhum Pak Sudik yang telah mengenalkan dasar baca tulis dan berhitung. 

Untuk  Almarhum Nek Katun yang telah mengenalkan baca tulis Qur’an dengan hanya menerima bayaran satu botol minyak lampu sebulan untuk penerangan kala itu.  Dan semua guru, dosen yang telah mendidik anak bangsa dari generasi hingga generasi dengan berbagai persoalannya.

Salam Takzim untuk “Guru”  Yusuf Susilo Hartono, yang telah bersama-sama dengan para "Suhu" kebudayaan lainnya, telah menggembleng kami dari perwakilan wartawan setiap provinsi se-Indonesia, mengikuti pembelajaran pada Sekolah Jurnalisme Kebudayaan (SJK II-Unesco), hingga dengan segala keterbatasan dan kemamuan yang ada, penulis berani membuat tulisan ini dan memuatnya dalam kolom "TANJAK" yang akan penulis ampuh setiap Jumat.

Pemberian nama kolom "TANJAK" yang merupakan ikat kepala khas Jambi, merupakan anugerah sang "Suhu" Yusuf Susilo Hartono, saat beliau mengunjungi Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah (Jambi-red) dalam kegiatan Pameran dan Pagelaran Seni XIX se Sumatera dan Sumatera Biennale Simpul 3.

Melalui "TANJAK" yang bermakna mahkota bagi masyarakat Jambi, dapat mengangkat nillai-nilai luhur masa lalu yang dapat menjadi pembelajaran kekinian, ditengah pergeseran nilai,"pesan Sang Suhu yang akrab kami sapa Pak YSH memberi wejang, saat bertemu pada Minggu malam 20 November 2016, sambil menyeruput kopi khas *** bersama sepoi angin malam dengan view Sungai Batanghari diwaktu malam.

“Mimpi berawal dari seorang guru yang mempercayaimu, yang menarik, mendorong, membawamu ke dataran tinggi, kadang ia menusukmu dengan tombak tajam bernama, “Kebenaran (Dan Rather/Engllishindo.com)”.

 

“Selamat Hari Guru Nasional 2016,”


 

KOMENTAR DISQUS :

Top