Jumat, 28 Juli 2017 |
Nasional

Tarif Listrik Indonesia Lebih Murah, Benarkah?

Sabtu, 08 Juli 2017 22:51:24 wib

JAMBIDAILY NASIONAL– Terhitung Januari 2017 pemerintah resmi mencabut subsidi bagi pelanggan listrik 900 Volt Ampere. Kenaikan bertahap hingga bulan Juli ini pun meresahkan publik.

Harga jual listrik kepada masyarakat akhirnya dibanderol menjadi Rp1.352 per KWH (Kilo Watt Hour) dari sebelumnya Rp 605 KWH pada Desember 2016.

Lalu bagaimana sesungguhnya perbandingan tarif listrik di Indonesia dengan negara lain seperti Malaysia dan lainnya?

Dalam penjelasan Kepala Satuan Unit Komunikasi Koorporat Perusahaan Listrik Negara (PLN), I Made Suprateka, secara keseluruhan total harga listrik di Indonesia dibanding Malaysia adalah sebesar Rp1.360 per KWH.

Besaran itu lebih rendah Rp14 dibanding rata-rata tarif listrik Malaysia yang sebesar Rp1.374 per KWH.

"Itu dari rata-rata tarif listrik. Karena, jangan lupa, kalau kita menerapkan subsidi bagi 27 juta pelanggan (450 VA dan 900 VA). Tidak ada tarif listrik Malaysia lebih murah, Indonesia lebih murah," kata Suprateka di Jakarta, Sabtu, 8 Juli 2017.

Ia juga mengklaim harga tarif listrik untuk kalangan bisnis di Indonesia juga lebih murah ketimbang Malaysia. Kata Suprateka, di Indonesia harga listrik untuk bisnis sebesar Rp1.159 per KWH.

Sementara di Malaysia Rp1.350 per KWH. Begitu pun untuk kalangan industri, di Indonesia tarif listrik hanya sebesar Rp1.011 KWH sedang di Malaysia lebih mahal Rp55 atau sebesar Rp1.066 per KWH.

"Ini terlihat lebih murah meskipun banyaknya demografi Indonesia, dan berpulau-pulau, berbeda dengan Malaysia yang sebagian besar adalah wilayah daratan," kata Suprateka.

Suprateka pun membandingkan lagi dengan tarif listrik di Amerika Serikat. Kata dia, AS rata-rata tarif listriknya adalah sebesar US$10,42 sen per KWH, sementara di Indonesia lebih murah US$40 sen atau sebesar US$10,2 sen per KWH.

"Sementara di daerah remote AS adalah di Hawaii itu US$26,sekian sen per KWH, kita jauh lebih murah untuk ukuran negara kepulauan. Jadi bukan income per kapita yang sebabkan tingginya harga listrik tapi cost production," ujarnya. (VIVA.co.id)

KOMENTAR DISQUS :

Top