Minggu, 25 Agustus 2019 |
Peristiwa

Usai Bom Paskah, Muslim Sri Lanka Takut Keluar Rumah

Rabu, 24 April 2019 18:24:41 wib
Usai Bom Paskah, Muslim Sri Lanka Takut Keluar Rumah Ilustrasi pengamanan di Sri Lanka. (Reuters/Dinuka Liyanawatte)

JAMBIDAILY SRI LANKA - Para Muslim di Sri Lanka hampir tak pernah meninggalkan rumahnya setelah pemerintah menuding kelompok militan Islam lokal sebagai dalang di balik rangkaian serangan bom di sejumlah gereja pada Hari Paskah lalu.

Mohamed Hasan, misalnya, takut keluar dari rumahnya di Kolombo sejak awal pekan ini. Ia bahkan meminta bosnya di perusahaan percetakan untuk mengizinkannya bekerja dari rumah.

"Keluarga saya takut jika saya keluar, saya tak akan bisa kembali dalam keadaan hidup," ujar Hasan kepada AFP.

Ia berbincang dengan koresponden AFP di depan Masjid Jumma. Hasan tetap menyempatkan diri untuk salat meski terburu-buru karena takut diserang hanya karena ia seorang Muslim.

Komunitas Muslim di Sri Lanka memang sedang menjadi sorotan karena pemerintah menuding kelompok militan bernapas Islam, Jemaah Tauhid Nasional (NTJ), mendalangi bom beruntun di delapan lokasi tersebut.

Lebih dari 350 nyawa melayang dan 500 orang lainnya terluka akibat serangan di sejumlah gereja dan hotel mewah tersebut.

Komunitas Muslim di Sri Lanka sudah mengecam aksi tersebut. Namun, mereka tetap merasa khawatir akan ada pertumbuhan sentimen anti-Islam.

Seorang warga Muslim lainnya, Zareena Begum, mengaku tak bisa tidur nyenyak sejak serangan tersebut terjadi.

"Saya tahu orang marah kepada Muslim. Anak kecil yang dibawa di lengan ibunya sendiri terbunuh. Saya tak membayangkan kebencian seperti itu ada di jantung warga. Kebencian itu menimbulkan lebih banyak kebencian," tuturnya.

Berbalut pakaian hitam panjang dan penutup kepala putih, Begum kemudian menunduk dan berkata, "Kami terperangkap di rumah kami sendiri. Kami takut keluar."

Di tengah ketegangan ini, Wakil Presiden Dewan Muslim Sri Lanka, Hilmy Ahamed, mengaku sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk menjamin keamanan Muslim di negara mayoritas Hindu tersebut.

Islam sendiri merupakan agama mayoritas kedua di Sri Lanka. Atas pertimbangan hal tersebut, sejumlah pejabat Sri Lanka sudah memperingatkan bahaya kehadiran NTJ ke beberapa pemuka agama Islam di negara itu.

Menurut Ahamed, pemimpin NTJ, Zahran Hashim, memang dikenal di kalangan pemimpin Muslim sebagai seorang ekstremis.

"Orang ini suka menyendiri dan meradikalisasi anak muda dengan mengadakan kelas-kelas pemahaman Alquran," ucapnya.

Namun, kebanyakan umat Muslim di Sri Lanka mengaku tak peduli dengan kehadiran NTJ. Mereka hanya ingin jaminan keamanan.

"Kami hidup di tengah ketakutan karena jika seseorang melihat kami menggunakan penutup kepala, mereka akan menganggap kami musuh mereka," tutur seorang warga Muslim, R.F. Ameer.

Menutup pernyataannya, ia berkata, "Namun, kami ingin mengatakan kepada semua orang bahwa kami bukan musuh kalian. Ini juga tanah air kami, yang dikenal sebagai mutiara Asia. Kami ingin tetap seperti itu." (has)

 


(cnnindonesia.com)

KOMENTAR DISQUS :

Top