Rabu, 15 Agustus 2018 |
Jurnal Publik

Video ini 'Viral' di Medsos, Apakah Cara yang Baik untuk Mengkritik, Lupakah akan UU ITE,?

Senin, 16 Oktober 2017 09:15:33 wib

KOPI RAINA - Waaw, itu kata pertama saya luncurkan dari pikiran ketika melihat sebuah video mendadak Viral di media sosial facebook, apakah ini suatu bentuk kritikan atau penghakiman terhadap suatu peristiwa yang dianggap tak ber-etika. Warganet heboh ketika melihat postingan dari Akun bernama Yuni Rusmini terkait peristiwa Oknum PNS menerobos petugas yang sedang menggelar kegiatan rutin atau Razia pengguna jalan di kawasan makam pahlawan, Jalan jenderal Sudirman kota Jambi.

Begini Tulisnya:
Kejadian Selasa tgl 10/10 sekitar jam 09.00 Wib di depan Taman Makam Pahlawan Jambi.
PNS yang mengaku Sdri **** ini menggunakan toyota Rush warna hitam dengan nopol BH **** LY tidak mau berhenti melawan Polisi yg sedang melaksanakan tugas sampe sengaja menyerempet Polisi sampai terjatuh dan mengakibatkan memar di tangan dan kaki serta mengatakan "NGAPO KAU NYETOP-NYETOP KAMI, POLISI BUNTU YO, BABI POLISI, POLISI ANJING"
Sekarang mobil dan pengendara tsb diamankan di Polresta Jambi utk diproses karena perbuatannya melawan petugas dan melawan hukum karena telah dilaporkan ke SPKT Polresta Jambi.
#mari sesama abdi negara di Republik Indonesia harusnya saling menghargai tugasnya masing-masing.
#mentaati hukum Dan tetap beretika.
#yunirusmini fb
#info jambi

(maaf saya tidak menyebutkan nama dan nomor polisi kendaraannya) Akun tersebut memposting 1 Foto dan 2 Video pada Kamis, 12 Oktober 2017, Pukul: 06.56 Wib, hingga Sabtu, 14 Oktober 2017, Pukul: 17.33 Wib tercatat ada 8.599 kali dibagikan dan 4,7 Ribu komentar dan 5,4 ribu tanggapan melalui Like/Emotion. Video pertama durasi 40 detik, telah ditonton 300.291 Tayangan dan Video kedua berdurasi 1 Menit 13 detik, telah ditonton 1.803.586 Tayangan.

Bermacam-macam kritikan, pendapat bahkan komentar pedas dari warganet tertuju kepada Dua Wanita yang berseragam PNS tersebut. Saya lantas tidak langsung mengklik dua video yang diposting, saya lebih memilh membaca komentar (Hanya beberapa saja, habisnya sampai ribuan yang menanggapi). Sebagian besar menyalahkan hanya satu dua komentar yang lebih mengajak warganet agar melihat peristiwa itu dengan lebih netral dari dua sisi, tetapi bukan alih-alih mendapat dukungan, warganet juga turut melontarkan komentar pedas untuk yang terkesan membela.

Mengejutkan di beberapa komentar sudah sangat menghawatirkan karena ada aroma-aroma SARA disana, memojokkan, terkesan menyamakan semua PNS bahkan merusak citra dari kota Jambi khususnya (ada komentar mengatakan, di Jambi itu tidak tertib lalulintas, sembarangan dan segala macamnya). Saya sendiri sedikit ngelus-ngelus dada baca komentar warganet (tetapi tidak perlu emosi karena menjadi kritikan bagi pengguna jalan di kota Jambi), ada apa dengan pengguna Media sosial apakah dengan sebegitu buasnya menghakimi tanpa melihat secara keseluruhan,? Supaya tidak seperti pepatah “membeli kucing dalam karung” saya pun melihat Video tersebut.

Dari  Video saya perhatikan dari semua posisi yang ada, maaf ya saya tidak mendengar ada kata-kata kotor (kalau Kata-kata kasar saya dengar ada) dari Si Wanita, saya hanya mendengar suara yang merekam Video bercerita. Menariknya di Video pertama saya mendengar suara petugas yang sebegitu "kerasnya" dan terkesan "membentak", pertanyaannya apakah begitu cara menangani seseorang yang dianggap bersalah, terlebih lagi dia perempuan,?

Dalam video kedua, disana terlihat salah satu perempuan menolak saat direkam oleh petugas, ada kata-kata yang meluncur dari perekam bahwa itu untuk saksi dan bukti, saya mempertanyakan ini, kalau memang untuk bukti kenapa disebarkan di Media sosial,? bukankah aparat hukum lebih memahami tentang hukum,?

“ayah, ibu-ibu itu kenapa,? Lagi marah-marah,”? tanya Raina, saya bingung juga menjawabnya mengingat usianya, namun saya hanya mengingatkan agar tidak seperti itu, tidak boleh marah-marah dan melawan orang tua.

Saya bukan menggurui ya, sekali lagi bukan sok pintar, dari Pencarian di Google tentang perlindungan hukum terhadap perempuan (definisi-pengertian.com/diakses, 14 Oktober 2017, Pukul: 17.45 Wib) bahwa Bentuk-bentuk perlindungan hukum bagi perempuan yang ada dalam khasanah Hukum Pidana Indonesia secara umum diatur dalam KUHP dan Undang-undang.  

disumber berbeda (mampu.or.id/diakses, 14 Oktober 2017, Pukul: 17.58 Wib) tentang perempuan, yaitu:

  • Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
  • Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW)
  • Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam atau tidak Manusiawi (CAT)
  • Deklarasi Internasional tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, serta kebijakan-kebijakan lainnya tentang hak asasi manusia.

Hal diatas sangat jelas, secara perlindungan terhadap perempuan (tapi hal yang bikin saya tersenyum bahwa akun yang memposting malahan perempuan juga, gile lu dro, hehehehe). Selain perlindungan perempuan, bukankah warganet juga mengetahui ada aturan di dunia Maya,? Coba dibaca keterangan berikut ini (Sumber: hukumonline.com/diakses, 14 Oktober 2017, Pukul: 18.18 Wib)

Sebelumnya, perlu dibedakan antara diseminasi informasi yang bermuatan pencemaran nama baik, serta yang berkaitan dengan SARA. Dalam UU ITE, ketentuan penghinaan dan pencemaran nama baik diatur dalam Pasal 27 ayat (3), sedangkan ketentuan SARA diatur dalam Pasal 28 ayat (2). Berdasarkan Pasal 43 ayat (1) UU ITE, delik-delik tersebut dapat dilaporkan kepada Penyidik POLRI atau kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil Informasi dan Transaksi Elektronik (“PPNS ITE”) Kementerian Komunikasi dan Informatika. Laporan kepada PPNS ITE juga dapat disampaikan melalui email cybercrimes@mail.kominfo.go.id. Sanksi dapat dijatuhkan apabila pelaku memenuhi seluruh unsur dan telah melalui proses peradilan pidana.
 
Bunyi Pasal 27 ayat (3) UU ITE adalah sebagai berikut:
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.
 
Sedangkan bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE adalah sebagai berikut:
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)”.
 
Penerapan ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU ITE telah dibahas pada topik Legalitas Hasil Cetak Tweet Sebagai Alat Bukti Penghinaan.Sedangkan, penerapan ketentuan Pasal 28 ayat (2) UU ITE mengenai SARA telah dibahas pada topik Pasal untuk Menjerat Penyebar Kebencian SARA di Jejaring Sosial. 
 
Perlu dibahas pada topik ini bahwa banyak pihak menganggap Pasal 27 ayat (3) UU ITE merupakan delik biasa. Pemahaman ini keliru dari dua hal, yaitu dari segi esensi delik penghinaan dan dari sisi historis.
 
Pertama, Secara esensi penghinaan, pencemaran nama baik merupakan perbuatan menyerang kehormatan atau nama baik seseorang, sehingga nama baik orang tersebut tercemar atau rusak.
 
Dalam menentukan adanya penghinaan atau pencemaran nama baik, konten dan konteks menjadi bagian yang sangat penting untuk dipahami. Tercemarnya atau rusaknya nama baik seseorang secara hakiki hanya dapat dinilai oleh orang yang bersangkutan. Dengan kata lain, korbanlah yang dapat menilai secara subyektif tentang konten atau bagian mana dari Informasi atau Dokumen Elektronik yang ia rasa telah menyerang kehormatan atau nama baiknya. Konstitusi memberikan perlindungan terhadap harkat dan martabat seseorang sebagai salah satu hak asasi manusia. Oleh karena itu, perlindungan hukum diberikan kepada korban, dan bukan kepada orang lain. Orang lain tidak dapat menilai sama seperti penilaian korban.
 
Sedangkan, konteks berperan untuk memberikan nilai obyektif terhadap konten. Pemahaman akan konteks mencakup gambaran mengenai suasana hati korban dan pelaku, maksud dan tujuan pelaku dalam mendiseminasi informasi, serta kepentingan-kepentingan yang ada di dalam pendiseminasian (penyebarluasan, ed.) konten. Oleh karena itu, untuk memahami konteks, mungkin diperlukan pendapat ahli, seperti ahli bahasa, ahli psikologi, dan ahli komunikasi.
 
Kedua, secara historis ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU ITE mengacu pada ketentuan penghinaan atau pencemaran nama baik yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”), khususnya Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP. Dalam KUHP diatur dengan tegas bahwa penghinaan merupakan delik aduan. Tidak adanya ketentuan yang tegas bahwa Pasal 27 ayat (3) UU ITE merupakan delik aduan kerap dipermasalahkan dalam menerapkan ketentuan ini. Akan tetapi, dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 50/PUU-VI/2008 mengenai konstitusionalitas Pasal 27 ayat (3) UU ITE telah ada penegasan bahwa Pasal 27 ayat (3) UU ITE merupakan delik aduan. Dalam pertimbangan Mahkamah Konstitusi Butir [3.17.1] dijelaskan
 
Bahwa terlepas dari pertimbangan Mahkamah yang telah diuraikan dalam paragraf terdahulu, keberlakuan dan tafsir atas Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak dapat dipisahkan dari norma hukum pokok dalam Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP sebagai genus delict yang mensyaratkan adanya pengaduan (klacht) untuk dapat dituntut, harus juga diperlakukan terhadap perbuatan yang dilarang dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE, sehingga Pasal a quo juga harus ditafsirkan sebagai delik yang mensyaratkan pengaduan (klacht) untuk dapat dituntut di depan Pengadilan. 
 
Pasal 28 ayat (2) UU ITE juga sudah pernah diuji konstitusionalitasnya terhadap UUD NRI 1945 dalam perkara Nomor 52 PUU-XI/2013. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan bahwa Pasal 28 ayat (2) UU ITE tidak bertentangan dengan Konstitusi. Namun, dalam putusan MK sebagaimana dimaksud, tidak memberikan penjelasan mengenai apakah ketentuan ini merupakan delik laporan atau delik aduan, sehingga hal ini masih terbuka untuk didiskusikan.
***

Duhh, jadi lupa saya “Bunda, bikin kopi untuk ayah, dong,” hehehe, terasa agak sedikit kurang mencair ini otak kalau tanpa kopi menemani sambil melototi layar diedisi kopi Raina kali ini.

Peristiwa diatas kalau dalam kacamata saya, jika dilihat dengan kepala dingin juga merupakan otokritik untuk dua belah pihak. Mengapa begitu,? Ini hanyalah perbuatan oknum PNS bukan semuanya. Mungkin ya ini mungkin lho ya, si Ibu pernah mengalami perlakuan tidak enak dari Oknum Polisi sekali lagi oknum, karena kebawa emosi yang sudah menumpuk lantas amarahnya ke Polisi yang bukan oknum tadi.

Nahh...bagaimana, cara warganet membuat video diatas menjadi Viral, jika wajah yang tanpak di Video merasa dirugikan lantas melapor secara hukum, pemosting bisa dijerat Pidana, bukan? Sementara komentar-komentar yang tidak mengkritik dengan baik namun terkesan SARA jelas bisa terjerat juga. Pertanyaan saya, apakah benar tindakan Aparat menyebarkan Video tersebut yang kata dia untuk bukti,? Bukankah barang bukti seharusnya dikelola secara hukum,?

Semoga bisa menjadi pemikiran kita bersama dan dapat menyikapinya dengan cara-cara yang lebih santun, saya tidak membenarkan tindakan Oknum PNS itu, tapi saya juga tidak bersimpati dengan Aparat yang merekam lantas menyebarkannya, termasuk yang memposting ke Media Sosial. Ada satu cerita, ini bukan saya mengarang atau hanya khayalan, saat saya bercerita dengan seorang teman terkait Video itu, ternyata dia kenal dengan orang-orang yang ada dalam Video.

Kata dia, itu wanita adalah Ibu dan Anak, Wanita yang tidak banyak bicara dan suaranya begitu tenang tidak dipenuhi Amarah, rupanya Ibu dari sang sopir mobil. Lantas saya bertanya apakah dia tahu tentang postingan di Facebook dan saat ini ramai diperbincangkan Warganet adalah dia,? “dia tau bang, saya tidak tau apa tanggapan dia. Yang jelas adiknya juga perempuan dan teman saya, adiknya beberapa kali nangis di depan saya terkait Video yang ada di Facebook,” Ungkapnya.

Silahkan Warganet berpikir sendiri, Apakah benar cara kita mengkritik dengan memviralkan Video seseorang di Media Sosial,? yang timbul malah (ini kata saya, kata anda mungkin beda) terjadi pem’bully’an secara Massal...

Upzzzzz
Pada kesempatan edisi Kopi Raina kali ini, saya ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun ya Istri saya (Niki Dwi Oktaviani) Kemarin Minggu, 15 Oktober 2017. Tak banyak kata, hanya do’a yang bisa saya panjatkan, tak ada juga kado indah, hanya maaf belum bisa membuat mu lebih bahagia. Engkau luar biasa, semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan, Amiinnn Ya Robbal Alamin.

Salam santun untuk seluruh Warganet di dunia, Semoga bermanfaat salam Kopi Raina,!

 

Penulis: Hendry Noesae

**Chatting Via Whatsapp Suaro Wargo jambidaily.com, Bergabung Klik Tautan ini: Whatsaap Group, Galery jambidailyDOTcom

 

 

 

 

Kopi Raina, Lainnya:

KOMENTAR DISQUS :

Top