Rabu, 20 Juni 2018 |
Peristiwa

Waduh...SD ini Disegel, Ahli Waris Minta Ganti Rugi Tanah

Senin, 07 September 2015 09:51:08 wib

JAMBIDAILY MERANGIN– Dituding berdiri diatas tanah waris miliknya, Johan dan Didi menyegel Sekolah Dasar (SD) 48, Desa Biuku Tanjung, Kecamatan Bangko Barat.

Penyegelan yang dilakukan oleh ahli waris itu dilakukan dengan menumpukkan kayu dan batu tepat didepan pintu pagar gapura masuk sekolah, Sabtu (05/09)

Aksi yang dilakukan tentunya sangat menganggu aktivitas belajar dan mengajar di Sekolah Dasar itu. Bahkan, aktivitas belajar mengajar sempat berhenti akibat ulah dari ahli waris yang mengklaim tanah sekolah itu adalah milik neneknya.

Pantauan dilokasi, di SD 48, tumpukan dan kayu yang diletakkan oleh pihak ahli waris hingga saat ini masih menutupi gapura masuk. Dan tidak ada tanda-tanda akan dibersihkan.

Salah seorang warga RT 03 Dewi mengatakan, bahwa penyegelan sekolah oleh ahli waris tersebut dimulai sejak Sabtu sekitar Pukul 13.00 Kata Dewi, penyegelan itu dilakukan oleh salah satu warga yang mengaku sebagai ahli waris dari pemilik tanah tempat sekolah itu berdiri.

“Memang aktivitas belajar menjadi terganggu, kita selaku warga sangat menyayangkan adanya penyegelan ini. Karena anak-anak kami tidak bisa belajar seperti biasanya,” keluhnya.

Terpisah, Riska salah seorang Siswi Kelas 6 juga sangat menyayangkan adanya aksi penyegelan disekolahnya. Kata Riska, penyegelan oleh ahli waris tersebut dilakukan saat mereka pulang dari sekolah.

”Dak tau jugo kami bang, pas Balik sekolah kemaren digapura depan ado tumpukan batu dengan kayu, yo kalau sekolah kami disegel dak bisolah kami sekolah,” keluhnya lagi.

Sementara itu,  Kades Biuku Tanjung Janu, Mardani, juga membenarkan penyegelan sekolah tersebut, menurutnya penyegelan tersebut dilakukan oleh salah satu warganya yang merupakan cucu dari nenek pemilik tanah tersebut.

Kata dia, penyegelan ini sudah dua kali dilakukan oleh ahli waris ini, di karenakan ahli waris ini mengaku kalau tanah yang di tempati sd 48 tersebut merupakan tanah miliknya.

Dia menjelaskan, ganti rugi yang diminta ahli waris ini pertamanya Rp 300 juta dan hingga hari ini (red , kemarin) ahli waris meminta hanya mengganti Rp 150 Juta. Namun, pihak Diknas tidak mau mengganti dengan alasan bahwa tanah tersebut tidak mempunyai sertifikat sehingga tidak bisa diusulkan untuk ganti rugi. Dan hal inilah yang menjadi pemicu penyegelan sekolah tersebut.

“Mediasi ini terus kita lakukan, dan mudahan sore ini (red-kemarin) bisa kita buka kembali bersama ahli waris, kasihan anak-anak yang akan bersekolah,” katanya.

Terpisah, Kabid Dikdas Diknas Merangin Jamaludin membenarkan adanyapenyegelan di SD 48 tersebut. Kata Jamal aksi penyegelan itu sudah terjadi berulang kali. Dia menyebutkan bahwa tanah tanpa sertifikat itu diminta ganti rugi.

Namun, meskipun demikian pihaknya tetap berupaya melakukan mediasi kepada sang ahli waris melalui tokoh masyarakat, Kades.

“Pertama mereka minta ganti rugi Rp 150 Juta namun kemarin turun lagi menjadi Rp 30 Juta. Permintaan mereka sudah kita sampaikan kepada Kadis, namun tidak mungkin uang Kadis yang dikocek. Karena butuh proses dan kekuatan hukum,” tandasnya.(jambidaily.com/NZR)

KOMENTAR DISQUS :

Top