Sabtu, 24 Agustus 2019 |
Suaro Wargo

Wahyu Widodo: Mengenal Lebih Dalam Makna Pepatah Jambi “Adat Bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah”

Jumat, 01 Juni 2018 13:17:29 wib

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Falsafah Jambi yang berbunyi adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah di alam Melayu Jambi mengandung syarat akan makna, dan etika hukum yang rasional. Falsafah tersebut adalah merupakan hukum yang diwarisi dari kerajaan Pagaruyung Islam hasil dari kesepakatan ulama’ dan kaum adat di bukit Marapalam dan diadopsi oleh kerajaan islam diseluruh nusantara. Adat alam melayu Jambi adalah adat Islami, yang islam telah masuk dan tersebar sekitar pada akhir abad ke 7 M.

Adat adalah suatu yang menjadi kebiasaan masyarakat lokal, oleh karenanya berbeda masyarakat berbeda pula adatnya, nah disinilah pepatah tersebut digunakan, yang mana setiap masyarakat memiliki adat istiadat tersendiri, namun adat tersebut haruslah bersendi syara’, dan syara’ pun harus bersendi kitabullah. Menurut adat melayu Jambi dat di bedakan menjadi 2 bagian yaitu: dat berbuhul mati dan adat berbuhul senta. Adat berbuhul mati adalah aturan-aturan dalam masyarakat yang berurat dan beredar dalam masyarakat sejak zaman purbakala, biasanya berisi norma-norma atau aturan-aturan yang sulit di pisahkan dengan unsur kepercayaan (agama). Sedangkan adat berbuhul sentak adalah adat yang teradatkan, karena adat ini dapat diubah dan memang akan mengalami perubahan. Oleh karena itu masyarakat haruslah melakukan pelestarian dan pengembangan budaya agar dalam masyarakat tidak terjadi kekosongan kegiatan budaya, karena dengan kekosongan itu dikhawatirkan masuknya celah bagi berkembangnya unsur budaya dari luar kedalam masyarakat.

Pembangunan yang tepat bukan berarti harus menghilangkan adat istiadat atau menghilangkan kekayaan budaya pada suatu daerah, tapi sebenarnya memajukan potensi dan kekayaan budaya yang ada didaerah tersebut, sebab menghilangkan budaya berarti sama juga menghilangkan jati diri daerah tersebut sekaligus menghancur leburkan niali-nilai leluhur yang dikandungnya. Adat istiadat sering kali dilupakan karena tidak dilahirkan oleh ilmuan Barat yang menjadi kiblat sebagian besar kaum inteklektual lokal. Proses pembangunan dimaknai secara sederhana sebagai perubahan kehidupan masyarakat tradisional menuju modern, yang mana modernitas dilakukan dengan memperkenalkan lembaga dan nilai-nilai luhur nenek moyang  yang dipandang sebagai kendala terhadap jalannya modernisasi.

Salah satu bentuk modernitas zaman sekarang yaitu dengan mengikuti atau berprilaku layaknya kaum barat, karena di barat gaya hidup mereka adalah sudah budaya mereka sebagai contoh berpakaian minim, minuman beralkohol dan lain sebagainya. Sementara kita gagal dalam memaknai arti modernitas itu sendiri. Modernitas tidaklah dimaksudkan dengan gaya hidup ber-ala barat, melainkan adalah berfikir global dalam memandang sesuatu tanpa harus meninggalkan landasan-landasan berpijak, dan landasan yang dijadikan rujukan dalam kitabullah harus kembali dibangkitkan, karena memaknai modernisasi tidak harus meninggalkan apa yang menjadi tuntunan hidup.

Para pemimpin, para pembuat kebijakan, para pendidik, para orang tua dan masyarakat sepatutnya kita belajar dan melihat begitu banyak daerah atau negara-negara lain yang mampu mempertahankan apa yang menjadi tuntunan mereka, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang ada, yang mana dengan menghidupkan nilai-nilai luhur pancasila dan nilai luhur lokal tentunya akan mengangkat derajat dan martabat kita dimata dunia, sebagai mana negara Jepang yang memiliki sumber daya manusia yang hebat dan nilai-nilai budaya yang masih terjaga kelestarianya yang tidak luntur dimakan zaman.

 

 

...
Ditulis Oleh
Nama: Wahyu Widodo Saputra
Mahasiswa UIN STS Jambi
Fakultas: Ekonomi Dan Bisnis Islam
Jurusan: Ekonomi Syariah

 

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top