Minggu, 05 April 2020 |
Nasional

Waw, Investasi Bodong Berhasil Meraup Keuntungan 92 Triliun

Jumat, 21 Februari 2020 16:52:19 wib
Tongan L Tobing, Ketua SWI (Jum'at, 21/02/2020) di Yogyakarta/Foto: jambidaily.com/Hendry Noesae

JAMBIDAILY YOGYAKARTA - Investasi Bodong benar-benar berhasil meraup keuntungan yang begitu besar dari nasabahnya, Satuan Petugas (Satgas) Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Rp.92 Triliun, dalam rentang tahun 2009-2019.

"Sejak tahun 2009 hingga 2019 lalu, setidaknya Satgas Waspada Investasi mencatat, kerugian akibat adanya investasi bodong mencapai 92 triliun. Selain itu, Satgas Waspada Investasi sudah menangani 39 kasus investasi bodong, 19 diantaranya telah memiliki kekuatan hukum yang tetap," Ujar Ketua SWI, Tongan L Tobing, saat menyampaikan materi Stop Investasi Ilegal pada Pelatihan dan gathering media massa KR 7 Sumbagsel dan Bangka Belitung (Babel), Jum'at (21/02/2020) di Yogyakarta.

Disebutkan contohnya oleh Tongan L Tobing, seperti perkara Pandawa Group, Kasus Travel Umrah, Dream Freedom dan lain-lainnya "Kerugian masyarakat tidak dapat dicover oleh aset yang disita dalam rangka pengembalian dana masyarakat," sebutnya.

Tongan, mengingatkan bahwa masalah investasi ilegal ini biasa ditandai dengan menjanjikan keuntungan yang tinggi dalam waktu singkat, menjanjikan bonus perekrutan, memanfaatkan tokoh masyarakat tokoh agama untuk menarik investasi, klaim tanpa resiko dan lainnya. "Legalitas tidak jelas, tidak memiliki izin, ada izin lembaga tapi tidak punya izin usaha, meskipun ada kegiatan tidak sesuai dengan izinnya. Jangan mudah tergiur," Singkatnya.

"Fintech peer to peer lending illegal yang ditemukan Indonesia sebesar 22 persen, data dari kementerian komunikasi dan informatika RI. Sementara Sepanjang 2018 sampai 2020 satgas telah menghentikan dan mengumumkan melalui siaran pers sebanyak 2,018 fintech.

Lalu Permasalahan fintech peer to peer lending illegal tidak terdaftar di OJK, bunga pinjaman tak jelas, alamat peminjaman tidak jelas, media fintech media sosial dan pesan singkat (sms) maupun website milik pelaku, penyebaran data pribadi peminjaman, tata cara penagihan juga dilakukan ke keluarga peminjam, fitnah, ancaman dan lainnya.

"Penyebabnya masyarakat mudah tergiur, belum paham investasi, menggunakan tokoh agama. Dampaknya menimbulkan dampak negatif terhadap produk keuangan, potensi instabilitas korban yang cukup besar masyarakat kebanyakan ikut-ikutan," Terang Tongan

"Penyebab utama, sebenarnya nasabah tidak punya uang, tidak pikir matang, sengaja tidak bayar, penghasilan nasabah tidak cukup. Permasalahan ekonomi menjadi intinya, terpaksa. Perilaku masyarakat juga menjadi masalah dengan tidak berpikir matang. Dampaknya jadi pelaku menggunakan data pribadi nasabah serta dapat teror dan intimidasi. Fintech ilegal tidak dapat bantuan dari OJK karena tidak diawasi dalam hal ini tidak terdaftar. Sudah menjadi Tugas satgas waspada investasi, pencegahan, penanganan," Pungkasnya.

Disinggung jambidaily.com, tentang jika ada dugaan pegawai OJK terlibat Investasi Bodong seperti apa pengawasannya, Tongan meminta laporkan "Pegawai OJK memiliki kode etik yang tegas dan diawasi. Untuk masyarakat yang menemukannya atau mencurigai oknum pegawai,? silahkan laporkan ke OJK," Tegas Tongan.

(Hendry Noesae)

KOMENTAR DISQUS :

Top