Senin, 23 April 2018 |
Wisata & Budaya

Wisata Ziarah di Sekoja, Mensyukuri Jejak Langkah Ulama Jambi (1)

Sabtu, 24 Oktober 2015 14:52:33 wib
Jambidaily.com bersama penjaga makam Ulama Sayid Husin Bin Ahmad Baragbah

JAMBIDAILY WISATA-BERSYUKUR dan BANGGA, itulah saat jambidaily.com bersama salah satu awak media nasional viva.co.id, berkesempatan mengunjungi salah satu tempat wisata ziarah di Pemakaman Ulama, kawasan Kampung Arab Melayu Seberang Kota Jambi (Sekoja).

Bersyukur, karena negeri Jambi ini pernah didiami seorang ulama besar pada zamannya, dan turut mengukir sejarah betapa Islam itu membawa peradaban perbaikan ahlak dan mewarnai nilai-nilai islami di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Bangga, karena keberadaan makam sang ulama, Sayid Husin Bin Ahmad Baragbah,  telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya dan kelestarianya dilindungi Undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya.

Namun dibalik rasa syukur dan bangga itu, terselip rasa kecewa, karena salah satu ikon wisata ziarah Sekoja itu, sangat minim fasilitas umum dan perhatian instansi terkait.

Hal ini ditandai, saat kita memasuki area pemakaman arab melayu yang berada dipinggiran sungai Mangkuban, Kelurahan Tathul Yaman Kecamatan Pelayangan Kota Jambi, penziarah telah disambut papan gerbang yang telah lapuk dan lepas.  Begitupun fasilitas toilet umum dan fasilitas pendukung lainnya, yang seyogyanya dimiliki sebagai kawasan wisata ziarah, tidak terlihat.

Padahal, konon banyak para santri dan pembesar sering berziarah ke makam sang ulama itu. Beruntung masih ada warga yang secara sukarela merawat kuburan sang ulama, meski hanya didasarkan rasa cinta pada sang ulama, tanpa mengharap honor dari pemerintah.

"Yo, sayo dan pak misran, setiap hari disinilah bang, dan kami merawat makam ini karena gerak hati sayo, dan kalaupun ada rizqi itu dari keikhlasan para penziarah,"ungkap Nurdin (53), saat bincang-bincang menemani jambidaily.com.

Dijelaskannya, hampir setiap hari ada saja penziarah yang datang, baik dari Kota Jambi maupun luar daerah.

"Macam-macam yang datang, ado para santri, para ahli (Keluarga) maupun penziarah umum, baik dari Jambi maupun pulau jawa hingga malaysia.  Tapi puncak berkumpulnyo, pas ada kegiatan Haul setiap tahun,"jelas ayah sembilan anak ini semangat.

Agar makam sang ulama tidak dijadikan tempat yang tidak seharusnya, pihak keluarga telah memasang tanda larangan, agar tidak melakukan hal-hal diluar peruntukan ziarah sesuai tuntunan agama islam.

Dan konon juga, di perkuburan yang merupakan tanah wakaf warga seluas 2,8 hektare itu, banyak para tuan guru dan tua tengganai (tokoh).  Tak heran kuburan Arab Melayu itu juga dikenal ditengah masyarakat sebagai Kuburan Keramat Tambak.

Hanya saja, karena keterbatasan referensi yang dimilikinya, saat ditanya tentang peran sang ulama di Jambi, Nurdin merekomendasikan untuk bertemu yang dikenalnya sebagai salah satu keturuan langsung sang ulama.

Selesai berdoa, akhirnya jambidaily.com dan Viva.co.id, diantarkan menemui salah satu keturunan sang ulama, yang berada beberapa kilometer dari lokasi.

Mengenal Sejarah Singkat Sang Ulama, Sayid Husin Bin Ahmad Baragbah

Beruntung, dengan diantar, Nurdin, jambidaily.com dan Viva.co.id, berhasil menemui Hasan Bin Idrus, yang berdasarkan silsilah yang dimilikinya sebagai keturunan ke sembilan dari Almarhum Sayid Husin Bin Ahmad Baragbah.

Dengan memperlihatkan silsilah yang didapatkanya secara turun temurun, Hasan, menceritakan, bahwa, secara garis keturunan, Habib Husin Bin Ahmad Al Baragbah, merupakan, keturunan ke-27 dari Sayidina Husin yang merupakan cucu Rosulullah, Muhammad SAW, dari perkawian Saidina Ali Karamallahu Wajha dan Siti Fatimah RA.

"Beliau awalnya dari Kota Tarim berdakwah ke India.  Dan dari India terus ke Aceh, Palembang dan akhirnya ke Jambi,"tutur Hasan.

Masih dari cerita yang didapatkannya secara turun temurun, Beliau (Sayid Husin Bin Akhmad Baragbah-red), merupakan orang yang turut mengembangkan peradaban islam di Jambi, dengan metode dakwah melalui kegiatan kemasyarakatan pada saat itu.

"Kegigihan beliau dalam mengembangkan syi'ar agama Islam, ternyata menarik perhatian Datuk Shin Thay yang merupakan ulama dari daratan China, yang menikah dengan kerabat kerajaan Jambi.  Akhirnya Datuk Shin Thay menikahkan anaknya Nyai Resik dengan Beliau (Sayid Husin-red)."

Dan dari pernikahan itulah, akhirnya berkembang anak keturunan beliau hingga sampai kini di Jambi.

Sementara itu, sebagaimana dikutip dari laman muhalibaraqbah.blogspot.co.id, berdasarkan, catatan manaqib al habib Hussein bin Ahmad Barakbah, "Penyebar Agama Islam di Kota Jambi" terbitan Rabithah Alawiyah cabang Jambi 1010, menceritakan, secara silsilah,

"Sayid Husin Bin Akhmad Baragbah, ialah alhabib al alim al allamah Hussein bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin al Imam Umar Barakbah bin Sayyid Ahmad al Aksah bin Sayyidd Muhammad bin Sayyid Abdullah ba Alawi bin Sayyid Alwi al Ghayur bin al Imam Muhammad al Faqih al Muqaddam bin al Imam Ali bin al Imam Muhammad Shohib Mirbat bin al Imam Ali Khol Qasam bin al Imam Alwi bin al Imam Muhammad bin al Imam alwi bin al Imam Ubaidillah bin al Imam Ahmad al Muhajir bin Imam Isa arRumi bin al Imam Muhammad anNaqib bin al Imam Ali al Uraidhi bin al Imam Ja'far as Sadiq bin al Imam Muhammad al Baqir bin al Imam Ali Zainal Abidin bin al Imam Husein bin al Imam Ali bin Abi Tholib dan Sayidatina Fatimah azZahra bt Saidina Muhammad Shallallahu alaihiwassalam."

Masih berdasarkan manaqib al habib Hussein bin Ahmad Barakbah tersebut, menceritakan, Sang Ulama ( al Habib Hussein Barakbah) meninggalkan kota Tarim menuju ke India bersama abangnya yang bernama al Habib Zain bin Ahmad Barakbah.

Mereka berdakwah dibeberapa tempat di India, kemudian Habib Hussein melanjutkan perjalanannya ke Indonesia.Beliau menjijakkan kakinya di tanah Aceh dahulu kemudian menuju ke Palembang. Disana diterima baik di lingkungan keraton Sultan dan dihormati sebagai ulama keraton.

Cukup lama Habib Hussein menetap di kota Palembang dan beliau telah berkahwin dengan anak pembesar kesultanan Palembang. Hal ini dapat dimaklumi dan juga dibuktikan dengan penganugerahan gelaran Pangeran kepada cucu beliau iaitu Habib Qassim bin Habib Ali bin Habib Hussein Barakbah oleh Seri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikromo.

Setelah berada diPalembang selama 20 tahun Syed Hussein Barakbah berpindah ke kota Jambi dan menyebar agama Islam selama 35 tahun. Di Jambi beliau telah berkahwin dengan anak saudagar keturunan Cina yang tinggal ditengah keluarga istana yang bernama Nyai Resek bt Datuk Sintai. Beliau juga berdakwah ke Kepulauan Riau, dan mempunyai hubungan yang rapat dengan kesultanan Siak.

Salah seoran anaknya yang bernama Syed Sya'ban telah berkahwin dengan adinda Sultan Syarif Ali Jalil Syafuddin, Sultan Siak yang keVII yang bernama Tengku Long Tieh bt Usman bin Abdurrahman Syahab.

Syed Hussein Bin Syed Ahmad Barakbah meninggal dunia pada tahun 1760 dan dikebumikan di Pemakaman Tambak kelurahan Tahtul yaman, kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi. Maqam beliau dikenal sebagai maqam Keramat Tambak.(*)


Penulis: Hery FR/Berbagai Sumber

 

 

 

KOMENTAR DISQUS :

Top