Thu. Aug 13th, 2020

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Dokter Teteskan Air Mata Dalam Tugas Covid-19, Menahan Rasa Rindu akan Pulang ‘Dirumahlah’

2 min read

Ilustrasi/Seorang petugas medis mencoba menenangkan rekannya yang menangis saat mengenang Esteban, perawat yang meninggal akibat positif virus corona atau Covid-19 di Rumah Sakit Severo Ochoa, Leganes, 13 April 2020. REUTERS/Susana Vera

JAMBIDAILY SUARO WARGO – Tidaklah mudah dan gampang bagi tenaga medis harus bertugas saat pandemi sedang mewabah seperti covid-19. Tanggung jawab, rasa kemanusiaan dan perasaan dari sisi kemanusiaannya tentu akan benar-benar ditempa.

Setelah diumumkan 2 kasus positif pertama pada 2 Maret 2020, berbagai upaya diikuti aturan-aturan agar warga negara Indonesia dapat patuh mengurangi aktivitas diluar, tidak berkerumun, membatalkan segala macam kegiatan apapun itu jenisnya jika mengumpulkan banyak orang. Namun ironinya, saat kasus terus bertambah dan membesar (Per 15 Mei: 16,496 positif, 1,076 Meninggal) beriring juga dengan tampak ramainya jalanan khususnya di kota Jambi.

Di salah satu platform media sosial, jambidaily.com (Rabu, 14/05/2020, Pukul: 15.17 wib) mengutip dari rasa rindu seseorang yang sedang melaksanakan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) bahkan wilayah tempatnya belajar telah masuk daftar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tentunya akses keluar dan masuk menjadi sangat ketat.

Inilah isi hatinya (jambidaily.com sengaja tidak menampilkan nama dan asalnya):

Menitik air mata
Sudah terbayang di pelupuk mata akan melewati lebaran kali ini dirantau jauh dari orang tua, suami dan anak-anak.

Saya mungkin hanya 1 dari sekian PPDS yg mengalaminya.
Sedih..?? Hanya Tuhan yang tau perasaan saat ini.
Berat..?? Percaya Tuhan sudah melebihkan kekuatan untuk melewati ini.

Beban mental tiap harus memakai baju “astronot” itu. Mencoba tetap fokus dan melayani pasien sebaiknya ditengah nafas yg ngos-ngosan dibalik masker N95, keringat yg terus mengalir dibalik baju, degup jantung yang meningkat, tidak sedikit teman-teman ada yang harus melewatkan waktu berbuka karena harus menyelesaikan shift jaga.

Ah buat kalian ini mungkin dianggap “tugas” yang sudah kami pilih. Tapi kepedihan ini semakin terasa saat melihat jalan semakin ramai, semakin banyak yang tidak pakai masker dan kebijakan yang katanya “pemimpin” yang semakin “gak jelas”

Mencoba bertahan dan menguatkan diri, masih percaya semua ini akan berlalu.
Tetap kuat buat semua yang sedang berjuang menghadapi pandemi ini.
Semoga kita semua selalu diberi kekuatan, kesabaran dan kemudahan untuk menjalani ini semua.

 

 

 

(Hendry Noesae)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *