Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Sikap Umat Muslim Hadapi Corona Dengan Ikhtiar, Do’a, dan Tawakal

13 min read

Dela Saputri

JAMBIDAILY JURNAL – Waspada itu baik namun jangan sampai kekhawatiran berlebihan sehingga membuat kita tidak tenang dan nyaman dalam menjalani ibadah. Demikian pesan Al-Habib Quraisy Baharun, pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shidqu Kuningan menyikapi wabah Corona yang melanda dunia saat ini. Dalam catatannya, Habib Quraisy mengatakan kekhawatiran di kalangan umat Islam memunculkan sikap-sikap keberagamaan tertentu yang semuanya ada rujukannya di dalam Al-Quran. Memang begitulah seharusnya orang-orang beriman menyikapi persoalan-persoalan hidupnya sebagaimana diperintahkan di dalam Al-Qur’an. Di dalam kitab suci ini terdapat ayat-ayat yang isinya sangat beragam, namum masing-masing tidak saling menafikan tetapi bersinergi sehingga menjadi sebuah trilogi, yakni (1) ikhtiar (usaha), (2) doa dan (3) tawakal. Ingatlah, Corona itu makhluk Allah dan kita juga makhluk Allah bahkan yang paling dimuliakan Nya. Sebagai muslim, sikap kita menghadapi wabah Virus Corona yaitu dengan Ikhtiar (usaha). Berusaha menangkal, menjaga, mengobati dan memberi pengetahuan bagi yang belum mengetahui. Alasan saya memilih judul ini untuk membuka pikiran umat muslim yang membacanya agar mampu menyikapi wabah ini dengan tepat sebagai seorang muslim. Seperti pepatah mengatakan : “usaha tanpa doa adalah sombong. Dan doa tanpa usaha adalah sia-sia”. Sebagai umat muslim, saya ingin mengajak umat muslim lainnya yang membaca artikel ini untuk tetap berusaha melawan dan menjalani hidup ini disertai doa kepada Allah. Karena Allah lah yang maha berkehendak. Dan sesungguhnya apa yang terjadi di dunia ini semata-mata karena izin Allah.

 

A. Pendahuluan

Infeksi virus Corona disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan. Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini. (Alodokter.com)

Pandemi COVID-19 benar-benar menjadi ujian tersendiri bagi negara ini. Setiap orang merasakan kesulitannya masing-masing. Mulai dari kehilangan pekerjaan, berkurangnya jumlah penghasilan, menjadi korban aksi kriminalitas, kelaparan, hingga terinfeksi oleh virus corona itu sendiri.

Bisa dibilang semuanya serba tidak bisa untuk dijalani. Terlebih mungkin untuk disyukuri dan di nikmati. Inilah ujian kesabaran dan keimanan seseorang terhadap ketetapan Tuhannya. Apakah itu membuat kita terjerumus dalam keterpurukan yang mendalam.

Setiap manusia pasti meraskan ujian dan cobaan. Ujian merupakan cara allah untuk mengukur kadar iman seseorang. Tidak ada manusia yang hidup lepas dari ujian, terutama manusia yang beriman kepada ALLAH SWT. Ujian bisa berupa kekayaan, jabatan, keluarga, harta dan sanak famili. Ujian juga bisa berbentuk fisik dan non fisik atau psikis. Ujian bagi orang mukmin bermakna positif, yakni untuk menguji keimanan seseorang. Benarkah ia beriman kepada ALLAH atau hanya pura-pura beriman saja? Ujian juga berfungsi untuk meningkatkan derajat seseorang. Jika ia lulus dari ujian maka naiklah derajatnya dan jika tidak lulus turunlah derajatnya. Seseorang dinyatakan lulus dari ujian apabila ia sabar dalam menghadapinya.

Hal itu sudah dijelaskan dalam Qs. Al-Baqarah (2): 155-157

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ)۱۵۵( الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ)۱۵۶( أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)۱۵۷(

  1. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
  2. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”
  3. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dengan demikian berdasarkan ayat ini, wabah covid 19 saat ini adalah ujian yang menguatkan jika kita bisa memetik hikmahnya, bahwa ujian dari Allah itu bukan untuk melemahkan, justru merupakan alat penambah daya bagi iman kita yang mungkin mulai melemah. Orang yang dianugerahkan padanya kenikmatan dunia, bukan berarti Allah menyayanginya. Pun sebaliknya, siapa yang ditimpa musibah bukan berarti Allah menghinakannya. Keduanya hanyalah masa yang dipergilirkan bagi manusia.

Kita harus sabar dan optimis atas ujian tersebut, bahwa “setelah ada kesulitan akan Allah datangkan kemudahan,” begitulah sunatullahnya. Allah Swt sampai mengulangi firmannya ini sampai dua kali pada surah yang sama di surah al insyirah (94) di ayat 5 dan 6, seolah menekankan pentingnya bersabar sebagai bentuk dari berpikir optimis dalam menyikapi sesuatu, termasuk dalam musibah. Dalam artikel ini penulis akan menguraikan pentingnya kita sebagai umat muslim dalam menghadapi wabah corona ini dengan berikhtiar, doa dan tawakkal, sebagai berikut penjelasannya.

 

B. Ikhtiar

Ikhtiar adalah yang memiliki arti mencari hasil yang lebih baik, memilih. Sedangkan  dalam KBBI kata ikhtiar berarti alat, syarat untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Adapun  secara istilah pengertian ikhtiar yakni, suatu usaha yang dilakukan dengan segala cara untuk mendapat hasil yang maksimal, ikhtiar juga dapat diartikan sebagai  usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Ikhtiar merupakan sebuah usaha yang seharusnya dilakukan manusia untuk dapat memenuhi segala kebutuhan dalam kehidupannya, baik secara material, emosional, spiritual, kesehatan, seksual, dan juga masa depannya agar tujuan hidup untuk dapat sejahtera dunia akhirat dapat terpenuhi. Ikhtiar disini memang seharusnya dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati dan semaksikmal mungkin tapi juga tak lepas dari seberapa besar kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.

Ikhtiar jika seseorang mengharapkan sesuatu, misalnya perubahan nasib, mendapatkan rezeki, ilmu, kelulusan ujian, kesehatan dan sebagainya, maka ia harus melakukan suatu upaya lahiriah secara aktif dan nyata, dan inilah yang disebut ikhtiar atau usaha. Demikian pula jika kita berharap terhindar atau selamat dari acaman virus Corona yang mematikan itu, kita harus memperhatikan petunjuk dari para ahli kesehatan. Sebab merekalah yang menguasai ilmu di bidang ini yang hukum mempelajarinya adalah fadhu kifayah sebagaimana pendapat Imam Al-Ghazali. Simaklah Surat Ar-Ra’d, ayat 11 sebagai berikut:

( 11 ) إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Merujuk pada ayat tersebut, ancaman virus Corona bisa saja akan terus berlangsung sampai ada usaha-usaha nyata untuk menanganinya. Dalam hal ini ada dua tindakan untuk menangani, yakni mencegah (to prevent) dan mengobati (to cure). Anjuran untuk sementara tidak melaksanakan shalat Jumat di masjid-masjid merupakan tindakan pencegahan. Inilah kewajiban para ulama. Sedangkan tindakan pengobatan hanya dapat dilakukan oleh para dokter. Berikhtiar adalah wajib. Maka barangsiapa mau berikhtiar, ikhtiarnya akan dicatat sebagai ibadah. Jika ikhtiarnya membuahkan hasil, maka setidaknya ia akan mendapat 2 (dua) keuntungan. Pertama, ia akan memperoleh pahala dari Allah. Kedua, ia akan mendapat keberhasilan atau manfaat dari apa yang telah ia usahakan. Tetapi jika ikhtiarnya belum berhasil, maka setidaknya ia akan mendapat pahala dari Allah. Jika ia sabar, maka ia akan mendapatkan pahala yang berlipat. Mengetahui betapa besar kenikmat-an dan kesehatan yang diberikan, bagi mereka yang lupa akan kenikmatan tersebut. Karena kenyataan menunjukkan bahwa apabila dibandingkan antara kenikmatan dan kesehatan akan jauh lebih besar dan lebih banyak porsinya daripada kesengsaraan atau musibah yang didapatkan.

Tidak peduli terhadap gemerlapnya dunia karena kefanaannya, dan semangat dalam memotivasi diri untuk berlomba beramal dalam mempersiapkan hari pertemuannya dengan Rabb Penguasa alam. Sesungguhnya seorang hamba apabila berfikir dengan akal sehatnya tentang berpulangnya orang-orang yang dicintainya, niscaya ia akan sadar diri, bahwa mereka telah mereguk air pelepas dahaga dengan gelas yang mana ia harus melaluinya dengan gelas yang sama yaitu kematian.

 

C. Do’a

Doa berasal dari bahasa Arab yang artinya: panggilan, mengundang, permintaan, permohonan, doa, dan sebagainya. 5 Berdoa artinya menyeru, memanggil, atau memohon pertolongan kepada Allah SWT atas segala sesuatu yang diinginkan. Seruan kepada Allah SWT itu bisa dalam bentuk ucapan tasbih (Subhanallah), Pujian (Alhamdulillah), istighfar (astaghfirullah) atau memohon perlindu ngan (A`udzubillah), dan sebagainya. Adapun doa secara etimologi sebagai berikut:

Doa dalam makna Ibadah, Allah SWT berfirman dalam al-Qur`an surat Yunus ayat 106, yang berbunyi:

وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.”

Lafaz doa diatas, menunjukan makna penyembahan atau ibadah. Secara esensial ia menunjukan suatu pengetahuan tentang Tuhan (ma`rifatullah). Yakni, ibadah yang menebus setiap aspek eksistensi manusia dengan berbagai ritus dan ritual, ia merupakan amalan lahiriyah yang mengandung makna batiniah dan memungkinkan sang hamba untuk menjadi seorang yang arif.

Doa dalam makna al-Isti`adzah (perlindungan), Allah SWT berfirman dalam al-Qur`an surat al-Jin ayat 6, yang berbunyi:

وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”.

Doa dalam makna al-Istianah, (memohon bantuan dan pertolonhan) Allah SWT berfirman dalam al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 45, yang berbunyi:

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orangorang yang khusyu”.

Doa dalam pengertian Istighfar, Allah SWT berfirman dalam al-Qur`an surat Al-Muzzammil ayat 20, yang berbunyi:

وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ…..

“Dan istighfarlah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Istighfar adalah memohon ampun kepada Allah dari perbuatan dosa dan sebagainya. Ia merupakan bagian penting dari amalan zikir, serta memiliki visi spiritual, kezuhudan seorang hamba. Memohon ampunan adalah bagian dari menjadi hamba-hamba yang taat.

Doa dalam makna al-Sual (permintaan) Allah SWT berfirman dalam alQur`an surat Al-Mukmin ayat 60, yang berbunyi:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

Doa dalam makna percakapan, Allah SWT berfirman dalam al-Qur`an surat Yunus ayat 10, yang berbunyi:

دَعْوَىٰهُمْ فِيهَا سُبْحَٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَٰمٌ ۚ وَءَاخِرُ دَعْوَىٰهُمْ أَنِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Doa mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.

Doa dalam makna al-Nida` (memanggil, seruan), Allah SWT berfirman dalam al-Qur`an surat al-Isra` ayat 52, yang berbunyi :

يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِۦ وَتَظُنُّونَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا

”yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja”.

Al-Nida`, seruan. Allah SWT “menyeru” manusia kepada kebahagiaan. Manusia menyeru Tuhannya ketika sedang berdoa dan membutuhkan. Doa dalam arti memanggil Allah SWT dalam rangka mengajukan permohonan kepada-Nya. Begitu penting bagi seorang Muslim, karena doa merupakan tanda bahwa manusia sebagai hamba yang sangat membutuhkan terhadap Tuhannya.

Doa dalam makna al-Tahmid (memuji), Allah SWT berfiman dalam alQur`an surat Al-Isra ayat 110 yang berbunyi:

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (namanama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.

Doa merupakan sarana untuk mencapai suatu tujuan. Seorang hamba tidak diperbolehkan memohon sesuatu yang jauh dari jangkauannya, yaitu sesuatu yang sangat mustahil untuk bisa dicapai berdasarkan akal yang sehat. Namun demikian, sesuatu keinginan yang mungkin bisa dicapaipun, tidak boleh hanya mengandalkan doa saja, tetapi harus berusaha untuk mencari illiat (sebab) yang akan meluruskan keinginannya tersebut. Sebab, seorang hamba harus memiliki persepsi bahwa doa merupakan ikhtiar spirirtual dan motifasi untuk tercapainya tujuan.

Islam mengajarkan usha tidak boleh terlepas dari doa, demikian pula sebaliknya. Karena hanya Allah-lah yang bisa membuat hambanya sampai pada tujuan dan cita-cita. Untuk itu, wajib meminta kepada-Nya.[8] Sejalan dengan itu, setidaknya ada dua hal yang harus dipegang oleh sekalian hamba-hamba Allah. Pertama, yakinilah bahwa Allah SWT. tidak akan menzalimi hamba-Nya. Kedua, tugas hamba-Nya di dunia adalah berdoa dan berikhtiar. Setelah itu, serahkan kepada Allah SWT. Karena, setelah berikhtiar apapun yang terjadi, itulah yang terbaik.

Doa untuk memperlancar atau mempermudah upaya lahiriah kita mencapai keberhasilan dalam menangani kasus virus Corona. Kita juga harus juga melakukan ikhtiar batiniah, yakni berdoa kepada Allah Ta’ala sebagaiman firman-Nya dalam Surat Al Mu’min, ayat 60 :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya.”

Allah akan menjawab atau memberikan ijabah terhadap apa yang menjadi permohonan kita dalam menangani virus Corona jika kita berdoa kepada-Nya. Banyak amalan dari Nabi untuk menangkal diri, salah satunya amalan doa menghadapi virus Corona sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِي اْلأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ،

“Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu yang berbahaya baik di bumi maupun di langit. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Mengetahui.”

Hikmah berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam kaitannya dengan ikhtiar adalah bahwa ikhtiar batin ini akan mendekatkan kita kepada-Nya, dan oleh karena itu akan memperlancar tercapainya apa yang kita ikhtiarkan dan mohonkan. Hikmah lain adalah bahwa dengan berdoa, kita akan terhindar dari klaim bahwa keberhasilan kita semata-mata karena ikhtiar kita sendiri tanpa campur tangan dari Allah. Tentu ini akan mejadi kesombongan yang luar biasa. Na’udzubillahi mindzalik.

Jadi, pembicaraan tentang doa bukanlah sesuatu yang menutupi realitas kehidupan, justru ia mendukung agar orang yang berdoa memiliki kekuatan serta mempunyai nilai-nilai di mata masyarakat, sekaligus mendapat pahala dari Allah. Dan orang yang melakukannya harus memahami bahwa dalam pandangan Islam doa berada pada peringkat setelah tugas dan daya upaya yang sudah dilakukan secara terus menerus dan sabar.

 

D. Tawakkal

Tawakal (bahasa Arab: توكُل‎) atau tawakkul dari kata wakala dikatakan, artinya,”meyerah kepadaNya”. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Menurut Imam Hanbali, tawakkal merupakan perbuatan hati. Artinya, tawakal bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan semata, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Tetapi sekali lagi, tawakkal merupakan perbuatan hati sehingga tidak bisa diwujudkan dalam bentuk fisik, seperti berdiam diri tanpa melakukan suatu ikhtiar lahiriah. Artinya tawakal tidak meniadakan ikhtiar.

Oleh karena itu, dalam kaitan dengan virus Corona kita tidak boleh berserah diri kepada Allah begitu saja tanpa melakukan iktiar nyata agar terhindar dari virus Corona. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) memberikan petunjuk bahwa tawakkal itu tidak meniadakan ikhtiar yang masuk akal terkait dengan persoalannya sebagaimana beliau tunjukkan dalam suatu hadis tentang perlunya mengikat unta sebelum memasrahkannya kepada Allah dengan tawakal.

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Hibban sebagai berikut: اِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ Artinya: “Ikatlah untamu dan bertawakkallah.”

Oleh karena itu, petunjuk dari para ulama dengan segala nasihat dan imbauannya sebaiknya kita perhatikan. Demikian pula imbauan dari para ahli kesehatan untuk melakukan pola hidup sehat, sering-sering cuci tangan dengan menggunakan sabun dan mengurangi mobilitas yang tak perlu juga harus diperhatikan. Tidak hanya itu usaha menjaga imunitas diri juga harus dilakukan agar tidak mudah terdampak oleh virus Corona.

Setelah ikhtiar-ikhtiar lahiriah dan batiniah itu kita lakukan dengan sungguh-sungguh, maka kita pasrahkan persoalan virus Corona dan hasil dari ikhtiar-ikhtiar itu kepada Allah dengan meyakini bahwa apapun ketentuan Allah adalah yang terbaik. Dalam kaitan ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengimbau agar umat Islam meningkatkan iman, bertawakal dan ridha menerima ketentuan Allah dengan merebaknya wabah Covid-19 ini (NU Online, Jumat, 20/3).

Tawakal memang sangat penting disamping ikhtiar dan doa. Allah mencintai orang-orang-orang yang senantiasa berserah diri kepada-Nya. Seperti kita ketahui dan mungkin sering kita alami bahwa tidak setiap yang kita usahakan atau mohonkan akan tercapai dengan segera sebagaimana kemauan kita. Allah-lah yang mengatur seluruh alam dengan segala permasalahannya.

Allah juga Maha Tahu terhadap apa yang akan terjadi di masa depan. Allah Maha Adil dan Bijaksana dengan semua rencana dan keputusan-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya ikhtiar dan doa kita, kita pasrahkan sepenuhnya kepada-Nya. Biarlah Allah yang mengatur kapan ikhtiar dan doa kita akan terkabul. Allah lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya. Terkadang, apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah subhanahu wata’ala.   Jadi memang ikhtiar, doa dan tawakal harus selalu ada dan kita lakukan secara serempak terkait dengan bagaimana kita harus menghadapi wabah virus Corona (Covid-19).

Ikhtiar dan tawakal tidak saling bertentangan karena masing-masing berjalan di atas relnya sendiri. Ikhtiar berada dalam di wilayah lahiriah sedang tawakal di wilayah batiniah. Bisa saja orang yang sangat tinggi tawakalnya justru menempuh ikhtiar paling sungguh-sungguh dengan bersikap sangat hati-hati dalam menghadapi persoalan-persoalan seperti virus Corona.     Namun demikian, sungguhpun ikhtiar dan tawakal berjalan di atas rel masing-masing, keduanya terhubung dengan doa karena doa merupakan ikhtiar batiniah. Ketiga hal itu harus kita laksakanakan secara seimbang (tawazun) karena kita adalah para pengikut Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Jika kita hanya bertawakal, kita akan sama saja dengan kaum jabariah yang dalam semua persoalan hanya pasrah kepada Allah tanpa ikhtiar yang memadai. Tetapi jika kita hanya mengadalkan ikhtiar saja tanpa doa dan tawakal yang memadai, kita akan sama saja dengan kaum Mu’tazilah yang semata-mata mengandalkan ikhtiar-ikhtiar lahiriah Kesimpulannya kita harus bersikap tengah-tengah (tawasuth) dan seimbang (tawazun) dalam menghadapi wabah virus Corona (Covid-19) dengan melaksanakan trilogi: ikhtiar, doa dan tawakal. Bahkan kita juga harus bersikap toleran (tasamuh) ketika kita melihat di antara saudara-saudara kita melakukan cara yang berbeda dalam menghadapi virus Corona sepanjang cara-cara itu masih dalam kerangka trilogi di atas.

Dan sebagai tanda tawakal kita kepada Allah, kita yakin bahwa segala sesuatu yang datang pada diri kita, adalah yang terbaik bagi kita. Tiada keraguan sedikit pun di dalam hati, apabila mempunyai perasaan untuk menghindarinya, segala sesuatu yang menimpa kita. Meskipun hal itu terasa pait dan pedih bagi kita, kalau hal itu datang dari-Nya, tentulah hal itu yang terbaik bagi kita. Inilah bentuk tawakal sesungguhnya.

Barang siapa brtawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga-duga. Allah Maha Kuasa untuk mengirimkan bantuan kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai cara, termasuk cara yang bagi manusia tidak masuk akal. Allah adalah satu-satunya tempat mengadu saat kita susah. Allah senantiasa mendengar pengaduan hamba-hamba-Nya. Dalam banyak hal, peristiwa-peristiwa di alam ini masih dalam koridor sunnatulah. Artinya, masih dapat diurai sebab musababnya. Hal ini mengajarkan kepada kita agar kita kreatif dan inovatif dalam kehidupan ini.

 

E. Kesimpulan

Kita juga dianjurkan untuk berpasrah diri kepada Allah SWT. Setelah kita berusaha dan berdoa. bersama-sama pemerintah, kita mematuhi peraturan unruk tetap tinggal dirumah masing-masing dan peraturan lainnya demi melawan corona. Dengan tidak melupakan unruk selalu berdoa unruk mendapatkan pertolongan darinya, dan selebihnya kita bertawakal, semoga Allah segera mengambil mahkluk ciptaannya yang bernama corona ketempat asalnya. Bagaimanapun kita sudah serentak berusaha maksimal, dan kita mengambil hikmah dari peristiwa ini.

Ketuklah pintu langit dengan doa-doa yang tulus dari rumah kita agar Allah Swt segera melenyapkan wabah ini dari muka bumi ini, dan kita bisa menikmati ibadah dan aktifitas sebagaimana hari-hari biasanya tanpa wabah covid-19.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alodokter.com

Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji, At-Tawakkal Alallah Ta’al  (Jakarta : PT Darul Falah, 2006)

Amatullah Armstrong, Khazanah Istilah Sufi Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, (Bandung:  Mizan Media Utama, cet. 4, 2001)

Kaelany HD, Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan (Jakarta: Bumi Aksara, 2000)

Labib Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi, Memahami Ajaran Thoriqot & Tashowwuf (Surabaya: Bintang Usaha Jaya)

M.Amin Syukur, Tasawuf Kontekstual, (Yogyakarta: Pusaka Pelajar, 2003)

Mu’ammar, Kajian Hadis Tentang Konsep Ikhtiar dan Takdir Dalam Pemikiran Muhammad AlGhozali dan Nurcholis Madjid

Supriyanto, Tawakal Bukan Pasrah (Jakarta : QultumMedia, 2010)

Zulkifli, Mewujudkan Generasi Optimis : Perspektif Islam, (Proceeding International Seminar on Education Faculty of Tarbiyah and Teaching Training, Oktober 2016)

 

 

 

Ditulis Oleh
Nama: Dela Saputri
Mahasiswa UIN STS Jambi
Jurusan Pendidikan Agama Islam

 

*Isi Artikel menjadi tanggung jawab penuh penulis, termasuk Sumber dan referensi yang dicantumkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *