Fri. Sep 25th, 2020

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Kami Menulis ‘Covid-19 Belum Berakhir’ Bukan Ucapan Terima Kasih Tapi dikatai DAJJAL

8 min read

KOPI RAINA – DERU kendaraan terdengar tajam melintasi jalanan kota Jambi dibawah teriknya Matahari, bukan karena padat atau sedang terjadi penumpukan namun jalanan terlihat sepi dan lengang (apakah belum berakhirnya covid-19 menjadi sebab,? tanya saya dalam hati) Oh bukan, mungkin jam yang sedang menunjukan pukul 12.35 wib sehingga suhu terasa begitu menyengat di kulit.

Lama sekali Kopi Raina tidak menulis, tidak berceloteh sebebas dan sesuka apa yang terpikirkan, maklum Kopi sedang terasa getir diakhir-akhir ini, terasa tanpa nyawa, terasa kehilangan rasa yang sebenar-benarnya kopi diantara liukan kepulan asap hangatnya si hitam. Entahlah…. (Uppzzz bukan curhat ya…hehehehe) kita Kembali lagi ke Jalanan.

Senyum lebar tergores dari seorang ibu bersama anak perempuannya diatas kendaraan roda dua yang sedang terhenti oleh lampu pengatur lalu lintas, obrolan-obrolan kecil terlihat jelas dari keduanya karena tanpa penutup wajah (masker) di pantulan kaca mata-mata atau Spion.

Keceriaan mereka yang penuh resiko kata saya dalam hati, membuka dengan lebar, memberikan kesempatan sebebas-bebasnya bagi covid-19, maut bisa menjemput mereka berdua bukan karena kecelakaan atau benturan dengan pengendara lain namun akibat virus ya virus yang belum selesai dibicarakan dunia hingga hari ini (Rabu, 26/08/2020). Belum sampai di mereka berdua saja, virus ini dapat mereka tularkan kepada banyak orang lain dengan tanpa gejala, tanpa tanda-tanda, tau-taunya sudah terdengar kabar mendapat gelar Almarhum. Ingin marah, iya ! tapi saya bisa apa?

Sudah Lelah, tidak peduli, tidak percaya adanya Covid-19 sangat umum saya dengarkan. Terkadang goyang juga pikiran, ada benarnya apa yang dikatakan mereka, masuk akal jika dipikirkan sepintas lalu. Kesimpulan yang diutarakan bukan tanpa sebab musabab, wajar-wajar saja ditengah tiadanya kepastian dan mungkin saja kepalsuan (mungkin ya mungkin, jangan terlalu baper dan pemarah nanti cepat tua, hiihihihiihi).

Tenang, tenang yukz kita seruput dulu kopi…..Ehhh ini kopi warung, kopi gelas kedua setelah tadi pagi, bukan pagi tapi setengah siang segelas kopi hangat seduhan Bunda Raina, kopinya tanah Kerinci oleh-oleh dari Mayor Inf Firdaus mantan Kapenrem 042 Garuda Putih yang kini memasuki masa pensiun dan tercatat sebagai Pamen Kodam II Sriwijaya (sehat-sehat selalu komandan, semoga murah rezeky dan dimudahkan segala urusan, aaamiinnn).

Kita lanjut lagi ya…contohnya saja, data-data yang disuguhkan hanyalah angka-angka (kita perkecil ke provinsi Jambi) palingan inisial nama, ada usia, jenis kelamin, dan asal kabupaten atau kota. Sementara kita tidak mengetahui mungkin kerjanya dimana, padahal akhir-akhir ini bermunculan pengelompokan atau klaster perkantoran, nah..menariknya walaupun media mengetahui dengan pasti kantor atau instansi pasien terkonfirmasi positif covid-19, tim gugus tugas (provinsi ye, saya tidak menyudutkan namun ini pengalaman saya) selaku corong resmi yang berhak mengeluarkan data terkesan mengulur waktu, tidak menjawab, diam saja (atau memang sengaja kali ya, menutupinya….nanti dulu tak boleh berpikir negatif mungkin babang lagi sibuk) atau mungkinkah demi kepentingan? Kepentingan siapa saya juga tidak mengetahui, saya juga tidak peduli tentang itu, yang saya peduli adalah masyarakat banyak.

Covid-19 masih dianggap aib, masih dianggap penyakit yang menjijikkan, dianggap penyakit yang harus disembunyikan demi nama baik keluarga, instansi dan apalah…heran juga saya, itu bukan dari warga biasa, warga yang kurang memahami pandemi ini. Malah datang dari mereka yang memiliki jabatan, memiliki strata diatas, anehkan,? Kurang baca informasi, tidak memiliki akses informasi, atau mungkin sama Sudah Lelah, tidak peduli, tidak percaya adanya Covid-19,? Namun kondisi kan berbeda sudah jelas-jelas positif mengapa harus disembunyikan apalagi anda yang memiliki jabatan, dengan menyembunyikan akan berakibat membesarnya penularan,? Bukankah begitu.

Masyarakat diteriaki terus, wajib masker, jaga jarak, jaga Kesehatan, cuci tangan. Tapi apa,? Coba lihat disalah satu tempat pelayanan publik, ada yang pakai masker ada yang tidak. Lebih miris lagi di tetttt………(rahasia kita saja ya, nanti saya kena Dor, kena cari, kalau menjadi berita bisa dijerat UU ITE, atutt ahhhhh wkwkwkwkwkwkwkwk) mereka tanpa masker, bebas-bebas saja dengan santainya (Jadi saya harus bilang apa sekarang, berkata kasar, mengumpat, caci maki atau apa).

Tuduhan dan umpatan kini kami (mungkin saya saja, yang lain enggak) terima dari para netizen, dianggap berita bohong, berita covid-19 ada karena dibayar, menakut-nakuti, Dajjal, blabla..blabla..blabla, timbul kata-kata “Masyarakat sudah pintar tak perlu lagi dibodohin” lah…yang membodohi siapa,? Yang menakut-nakuti siapa,? Saya hanya mengingatkan melalui pemberitaan, jika bicara dibayar, kami dapat apa coba,? Berita bukan advertorial, society dan sebagainya…..lucu terkadang (hahahhahaahahaha….bawa ketawa ajalah).

Pada temuan kasus pertama di Jambi, tanggal 23 Maret 2020 (kalau tak salah) terkonfirmasi 2 Orang positif, tidak seperti itu tanggapan pembaca namun berbeda saat ini, padahal per tanggal 26 Agustus 2020 terdata 289 Positif, 137 Sembuh dan 5 Orang meninggal. Bukan membuat tambah waspada yang timbul adalah ketidakpedulian, mungkin itu karena banyak sebab terutama ekonomi. Ya tapi jika memang itu yang menjadi sebab, toh kami media juga hanya mengingatkan agar terus mawas diri tidak memarahi siapapun.

Maaf para pemirsa yang Budiman, kalau bicara ekonomi kami pekerja media juga merasakan beratnya di masa pandemi bukan hanya perut, nyawa kami juga menjadi taruhan, kami memang bukan lah Garda Terdepan (menurut saya media bukan garda terdepan, perhatian juga biasa-biasa saja, malah anggaran humas untuk media turut akan ‘dipangkas’ katanya sihhhhh), kami berjuang dan berupaya untuk terus bertahan dan kuat dengan satu upaya memberikan informasi kepada masyarakat, jangan anggap kami hanya berikan informasi saat ada sesuap nasi dari orang berdasi (mungkin lagi-lagi curhat, ckckckckckckckcckckckckc).

Saya sudah merasa mirip radio rusak, bersuara tanpa frekuensi yang jelas sehingga hanya terdengar krik krik krik krik, tapi saya tetap yakin media manapun akan terus berperan dalam usahanya mengingatkan masyarakat bahwa pandemi ini belum tamat. Cuma kepedulian bersama yang bisa mempercepat pandemi ini berakhir, masih butuh waktu jika hanya mengantungkan pada vaksin karena masih banyak tahapan-tahapan.

Udah aahhhh….nanti di cap sebagai Dajjal, terserah anda yang menilai namun suatu berita yang disiarkan jangan langsung di stempel berita bohong, tolong dilihat dengan baik medianya. Jangan disamakan, dinilai dengan jernih, jika ada sumber jelas tentu itu berita benar. Otak dipakai untuk menilai, percuma pintar bermedia sosial, tetapi terlalu dangkal dalam menerima informasi.

Wahhh, hujan deras disertai angin kencang melanda kota Jambi saat ini (Pukul: 16.31 wib) Alhamdulillah, rezeky dari langit semoga menjadikan hujan ini bermanfaat bagi seluruh makhluk di bumi ‘Tanah Pilih Pesako Betuah’

Dengan segala kerendahan hati mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan (baru belajar menulis), inilah celotehan kopi Raina, bukan sajian spesial, bukan pula ulasan khusus. Salam Kopi Raina, dari Jambi untuk Indonesia, dari Jambi untuk Dunia

Nahh mengingat adanya perbaikan di jambidaily.com beberapa waktu yang lalu, mungkin ada yang belum mengetahui konten apa KOPI RAINA,? Konten Hadir sudah 3 tahun sejak 20 Agustus 2017, Untuk lengkapnya bisa dibaca berikut ini: (Kalau mau sihh, kalau gak juga tak jadi masalah)

 

Kopi Raina walau Pahit namun Unik, Pengambil Keputusan, Berani dan keras kepala

BEGITU banyak cerita dan kisah, tidak juga menutup fakta yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari terkadang menjadi hal yang tidak bernilai tidak juga berarti namun ada atau dari sudut pandang yang berbeda justru itulah cerita penting dan bermakna, kondisi wajar dalam peristiwa tersebut mengingat tingkat keterbatasan kita baik itu dalam sisi mengingat, maupun sisi lain dalam ketidakterjangkauan kita di sudut nan luas.

Berangkat dari pemikiran tersebut, dan bincang-bincang ringan bersama salah seorang Jurnalis yang menjadi tataran guru bagi saya Hery FR atau lebih dikenal dengan Heri Rawas, terlepas dia saat ini pemegang tampuk sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jambi, Dia memberikan suatu peluang tersendiri akan kegelisahan saya, dia mengatakan Sajikanlah sebagai sesuatu yang ringan, bermanfaat, memiliki muatan secara umum, berbeda tetapi tetap kritis tanpa mengesampingkan aturan dan etika sebagai pondasi.

Lelaki yang sering menjadi lawan tanding saya dalam berdebat ini tidak hanya sebagai teman tapi juga Abang bahkan layaknya Orang Tua bagi saya, dia terus mendorong saya mengeluarkan apa yang ada didalam kepala, walau terkadang kata bernama Ragu-ragu menggelayut, karena faktor lain dalam sisi saya sebagai Manusia. Dia tidak menampiknya mengingat jalan dan apa yang telah saya lalui menjadi sesuatu serta momok yang lumayan sulit saya lepaskan, ada kata amarah, kata emosional sebagai pribadi tetapi dia tetap memberikan kepercayaan yang besar akan bangkit saya dan turut menjadi bagian cerita lain melalui Tulisan di Media Online, www.jambidaily.com.

Hingga dinihari sampai melewati tanggal 17 Agustus 2017, ditemani Kebiasaan dan kesukaan kami yang sama yaitu Menikmati segelas kopi, terlahirlah  kata “Kopi Raina” yang akan menjadi Ruang bagi saya, Rumah bagi saya, Wadah dan Mangkok penampung segala apa yang ingin saya suguhkan.

Tentu akan menjadi pertanyaan, Apa itu Kopi Raina,?

Dalam sebuah Mutiara kisah yang saya kutip dari jagat maya bahwa Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya. Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan. Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah. Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi. Karena itu jangan terlalu memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya…”. Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia. Banyak orang yang tidak bersyukur atas apa yang ia miliki, setinggi apapun kesuksesannya. Sebab ia selalu membandingkannya dengan apa yang dimiliki orang lain. Setelah menikah dengan seorang wanita cantik yang berakhlak mulia, ia selalu berfikir bahwa orang lain menikah dengan wanita yang lebih istimewa dari istrinya. Sudah tinggal di rumah sendiri, namun selalu membayangkan bahwa orang lain rumahnya lebih mewah dari rumah sendiri. Ia bukannya menikmati kehidupannya beserta istri dan anak-anaknya. Tapi justru selalu memikirkan apa yang dimiliki orang lain, seraya berkata, “Aku belum punya apa yang mereka punya”.

Mutiara Kisah tersebut mewakili apa yang saya rasakan, mungkin berbeda setiap kita memaknai secangkir Kopi, tentunya secara nyata dalam kehidupan sebagian besar kita tidak terlalu peduli dengan hal itu, hanya menikmati saja layaknya Kopi yang tersaji secara hangat, baik pagi maupun situasi lainnya. Namun Nikmatnya kopi, saya rasakan sangat luar biasa ketika tersaji dari Sang istri yang membuatkannya setiap saya memulai hari.

Untuk Raina, itu memiliki arti yang sangat luas berikut pengertiannya dari berbagai Bahasa:

  • Raina Arti Kata bahasa Jawa dalam Indonesia termasuk Rainten yaitu Siang Hari
  • Raina dalam bahasa Indonesia artinya Siang, Kesayangn, Tertawa, Gembira dan Ratu nan Cantik
  • Raina dalam bahasa arab berarti Ratu yang damai, Bersih, murni
    Raina dalam bahasa latin, Chamoru, Cekoslowakia, Perancis artinya Ratu
  • Raina dalam bahasa Amerika-Inggris juga kata Reannon, Reannan, Reanne, Raeann, Reannah, Reann, Rennie, Renata, Reane, Reeana, Raeann artinya Ratu
  • Raina bahasa Jerman juga kata Reanna, Raena, Rainna, Rayna, Raeinna yang artinya Ratu, Seorang Ratu, Sorang Rasul atau Wali Agama
  • Raina dalam Bahasa Jepang artinya Penggaris

Itu pengertian dari berbagai bahasa, sementara pengertian secara cakupannya Raina ialah Perempuan berkarakteristik, Spiritual, Pencari sejati, Tidak mudah terpengaruh, Selalu diberkati, Tidak dibuat-buat dan unik, Pengambil keputusan, berani, dan keras kepala.

Kata Kopi Raina menjadi penamaan dalam kolom ini atas Pemberian Hery FR, yang berangkat dari keinginan saya untuk lebih bisa dan tidak sekedar dari mimpi. Sebelumnya sudah ada Suguhan sebagai catatan awal dari Kolom ini, Maka selanjutnya izinkanlah saya dengan segala dukungan semua pihak agar setiap Pekan, Mulai 20 Agustus 2017 Tersaji Kopi Raina teruntuk pembaca www.jambidaily.com dimanapun anda berada, semoga memberikan bermanfaat.

 

Salam
Hends Noesae

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *