Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Peretas Mimpi di Ujung Jalan, Tetap Kreatif Walau Tak di Panggung

5 min read

Oleh: Hendry Nursal

JAMBIDAILY JURNAL – Terbangun dari tidur lelapnya, seorang lelaki bergegas menuju kolam ikan menebar pakan tak luput pula beberapa hewan peliharaannya dan perawatan rutin tanaman disekitar rumah berdinding papan, namun terasa begitu nyaman dan sejuk yang ditempatinya bersama sang istri.

Hari-hari dilalui sepasang suami istri ini dengan penuh kebahagiaan, kokoh untuk meraih mimpi dan cita-cita bagi masa depan dua anak lelakinya. Tetapi aktivitas itu tidak melunturkan proses kreatifnya selaku seniman di Jambi, komedi menjadi salah satu keahlian untuk menghibur penonton dan siapa saja rekan yang terlihat gundah olehnya.

Perjalanan karirnya didunia komedian sempat tergabung dalam kelompok bersama dua rekannya, yang mencuatkan namanya selaku seniman komedi di berbagai panggung hiburan. Bukan hanya di panggung, acap kali juga menghiasi program televisi lokal. Namun durasi di panggung jauh lebih banyak, tak hanya hadir selaku komedian, selaku pemandu acara di berbagai perhelatan resmi hingga resepsi pernikahan pun dilakoninya.

Dia bernama Andi Pradinata, lahir di kota Jambi 16 Agustus 1984 akrab dikenal dengan sebutan Amao. Terlahir normal sebagai anak bungsu dari 7 bersaudara. Tetapi benturan psikologis sempat menerpa, kesehariannya harus menelan pil pahit menjadi seorang Tunadaksa diusia 14 tahun tepatnya tahun 1998 saat peristiwa kecelakaan, Amao tersengat listrik yang menjadi penyebab cacat tubuh.

Kehilangan lima jari dan satu telapak tangan kanan yang diamputasi hingga mendekati siku, tidak menjadikannya berlarut-larut, tetap tegak berdiri menjalani hidup bahkan tak henti-hentinya menorehkan prestasi di dunia seni.

Selain menjalani pendidikan formal, masa muda Amao terus diisi dengan kegiatan positif terutama sebagai komedian. Dia berprinsip ingin hadir lucu, menghibur, menggembirakan orang banyak juga menginspiratif.

Lalu bertemu tambatan hati dan melepas lajang di tahun 2012 bukan menjadi pengaruh berarti sehingga mengurangi kejernihan kreatifnya, Amao semakin ‘gila’ dalam berkarya. Anaknya pun turut diperkenalkan dunia seni, dilibatkan dan tampak hadir dalam berbagai karya kreatifnya.

Amao ialah satu dari 17 ribu orang penyandang disabilitas ditengah-tengah 3,4 Juta penduduk provinsi Jambi (dikutip laman mertrojambi.com (Selasa, 29/10/2019), berdasar data Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil (Dinsosdukcapil) provinsi Jambi)

Juga satu dari 197.582 jiwa penyandang disabilitas di Indonesia pada Maret 2020 (Data Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas, dilansir (10/09/2020) oleh Laman liputan6.com) serta Laman tempo.co (Jum’at, 1/11/2019) kepala Sub Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik, Kementerian Sosial, Erniyanto menunjukkan sebanyak 21,84 juta atau sekitar 8,56 persen penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. Data tersebut diambil dari Survei Penduduk Antar Sensus atau SUPAS 2015.

BACA JUGA:  Megawati, Ibu Pemilu Langsung Indonesia

“Angka disabilitas kalau dihitung-hitung sebatas pengetahuan kami, di lapangan berkisar 4-6 persen dari populasi provinsi Jambi,” kata Amao.

Tak Pernah Menyerah dengan Keadaan, Kaum Muda Jangan Tidur

Ditengah wabah Corona Virus Disease (Covid-19) dalam upaya menekan penyebaran terhadap 260 juta penduduk Indonesia, terjadi pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Di awal-awal semua pergerakan terhenti, warga negara Indonesia wajib berada di rumah tanpa aktivitas bekerja secara langsung.

“Yang terpenting kita butuh kreativitas untuk menembus berbagai macam permasalahan. Bukan bicara pintar, namun kreativitas. Kita sedang perang terhadap Covid-19, salah satu caranya ya…dilawan dengan kreatif. Jangan banyak tidur selama pandemi, jangan mau tidur untuk melanjutkan mimpi tapi harus bangun untuk mengejar mimpi,” Ungkap Amao, dengan guyonan-guyonannya mengundang tawa.

Sebagai penggiat disabilitas dan tercatat mengemban amanah ketua paralympic komite Kabupaten Muaro Jambi, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama disabilitas, agar dapat terus memupuk motivasi dan bangkit menatap kehidupan.

Amao menunjukan rasa optimisme bagi disabilitas termasuk siapa saja terutama kaum muda, bukan menjadi tantangan berarti adanya pandemi covid-19. Tetapi, tidak menampik efek yang dihadapi baik untuk dirinya pribadi maupun kaum disabilitas lainnya di kota Jambi.

Dia mencontohkan Atlet Difabel, saat ini terhenti berlatih akibat dibatalkan berbagai perlombaan. Sehingga bonus-bonus sebagai penghasilan menjadi hilang dan tidak didapatkan karena pandemi, lalu pekerja kreatif dilingkup industri rumah tangga menanggung turunnya pembeli dan daya minat pasar “Saya berharap itu menjadi perhatian, perhatikan disabilitas jauhkan kami dari komoditi politik belaka,” Tegasnya.

Tidaklah sulit kata Amao, mengurusi disabilitas di masa pandemi walaupun efek tersebut sedang mereka alami, karena dia menganggap ‘telah lama mati’ jauh sebelum pandemi.

BACA JUGA:  Mengenal Sejarah  “Unjuk Rasa” Sebagai Ungkapan Protes

“Tidak sulit mengurusi disabilitas, mereka makan sepiring dengan nasi yang sama. Disabilitas itu sudah lama mati dalam tanda kutip sebenarnya di kehidupan sosial. Coba lihat kondisi terkini, mereka yang normal tidak bisa keluar rumah saat ada pembatasan mereka baru lah terasa, sementara kami yang tidak memiliki kaki sudah sangat lama tidak bisa keluar rumah. Akibat covid-19 Tidak punya uang bayar tagihan listrik pada mengeluh karena gelap, nah…tunanetra sudah sangat lama merasakan gelap itu. Jadi kondisi sosial di masa covid-19 telah kami alami terlebih dulu” Bebernya.

Menjelajah Digitalisasi dan Lahirnya Album Lagu Jambi di Masa Pandemi

Amao ingin membangkitkan siapapun untuk terus produktif melalui proses kreatif tanpa harus menyalahkan keadaan maupun mengeluh dengan adanya covid-19, namun tentunya tetap mematuhi protokol kesehatan, tetap mematuhi aturan pemerintah hingga wabah berakhir.

Teguh dalam pendiriannya agar dapat menjadi motivasi bagi disabilitas, tetap merawat kebun, merawat kolam ikan sebagai tabungan hidup dan ketahanan pangan di masa-masa sulit. Juga keistimewaan Amao tanpa mengendurkan kreatifnya berkarya selaku komedian yang kini tidak terbatas pada panggung.

“Masa pandemi, saya tidak mungkin hadir dipanggung. Tidak lantas terhenti, kini masanya digitalisasi dan itu berkah bagi yang ada kemauan kreatif. Diam di rumah atau mengurangi aktivitas di luar rumah bukan berarti kita harus diam dan tertidur saja,” Imbuh Amao.

Ada 42 berbagai video konten yang disiarkannya melalui channel Youtube Abdul Amao. Dalam rentang waktu 4 Bulan, dan berhasil menyedot perhatian publik buktinya tercatat 6,57 ribu pelanggannya (subscriber) saat ini Per 5 Oktober 2020.

Menarikanya selain anaknya, keluarga ini kompak untuk pengemasan video. Tidak sedikit terlihat sang Istri hadir dalam karya-karya komediannya di youtube “Alhamdulillah dari situ sudah berpenghasilan,  belum terlalu besar namun cukup untuk nambah-nambah uang belanja beli kopi,” Ceritanya.

BACA JUGA:  Taman Rimba Jambi, Fulfilling Community Requests to Reopen by Meeting the Covid-19 Protocol

Tidak hanya komedian yang terbatas di guyonan atau banyolan saja, Amao juga telah beberapa kali melahirkan karya music, teranyar ada 9 lagu Jambi komedi yang sedang proses pendaftaran masuk ke Wahana Musik Indonesia, label yang menerbitkan hak cipta. Lagu telah usai dikerjakan kini disamping menunggu proses hak cipta juga penggarapan video klip.

Lagu semua diciptakan termasuk pembuat komposisi musik (Aransemen) oleh Amao, dengan target peluncuran akhir tahun 2020 “Lagu itu, terkait pesan moral di masyarakat. Misalkan jual beli tanah, atau mahar pernikahan yang kemahalan dan penyakit sosial lainnya, disajikan ber-ala komedi dengan gendre musik Melayu Jambi,” Tutur Amao (Senin, 05/10/2020).

Terkait disabilitas, apa pesan Amao kepada pemerintah,? “Pemerintah itu selalu minta dikirimkan pesan, terkadang tidak ada signal. Kadang mereka mengetahui tapi pura-pura tidak mengetahui, ada yang sama sekali tidak mengetahui,” Tandasnya sambil tertawa.

“Disabilitas itu minta diberi ruang dan kesempatan yang sama, kami tidak minta dikasihani atau disedekahi, itu hanya jangka pendek namun bisa berakibat memanjakan. Kalau orang normal bisa berjalan di jalur pejalan kaki (Trotoar-red) minimal kami yang berkusi roda juga bisa di Trotoar, jika yang normal bisa mengurus kebutuhan administrasi di kelurahan atau kecamatan, berilah kami sarana prasarana sehingga bisa juga ke kelurahan dan kecamatan. Penuhilah hak yang sama, mungkin ini mungkin ya..secara umum takkan mampu kami bersaing dengan non disabilitas, setidaknya berilah kami kesempatan yang sama,” harapnya.

Begitulah yang ditunjukan Amao, bagaimana seharusnya kita menghadapi pandemi covid-19, tetap berdiri dan melangkah sebagai generasi penerus Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari Jambi untuk Indonesia, dari Jambi untuk Dunia.

*Penulis adalah: Wartawan dan Pemimpin Redaksi jambidaily.com

 

 

 

Jurnal Lainnya:
Lamunan Pedagang Nasi Goreng, Telan Rindu Melawan Covid-19
Gerak Semakin Sempit Dapur Kami Urung Mengepul, ‘Superhero’ itu Bernama OJK
Milenial Cerdas ‘Usia Muda Rajin Investasi Tua Merajut Mimpi’
Pertamina Bersama ‘Dewi Sri’ Menyemai Benih di Tanah Kenali Asam, Saat Pandemi Covid-19

 

 

3 thoughts on “Peretas Mimpi di Ujung Jalan, Tetap Kreatif Walau Tak di Panggung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *