01/08/2021

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Mengenal Sejarah  “Unjuk Rasa” Sebagai Ungkapan Protes

3 min read

JAMBIDAILY BUDAYA- Dalam sejarah peradaban manusia, kegiatan unjuk rasa atau lebih dikenal dengan kegiatan demonstrasi telah ada sejak jaman Yunani Kuno sebagai ungkapan aksi protes.

Walaupun dalam era Yunani Kuno aksi demonstrasi ini dianggap sebagai aksi pemberontakan oleh penguasa saat itu.

Secara harfiah, Demonstrasi merupakan pernyataan protes yang dikemukakan secara masal atau aksi unjuk rasa.

Menurut Patrick Manning dari Northeastern University dalam Earliest Evidence of Social Protest, pada masa Yunani Kuno, orang yang melakukan aksi protes disebabkan tidak memperoleh status quo, manfaat, atau kekuasaan dari rezim yang dominan.

Pada era tersebut, aksi unjuk rasa yang terkenal, yaitu yang dilakukan Spartakus yang merupakan seorang pemimpin budak terkemuka. Pemberontakan budak melawan Republik Romawi yang terjadi pada 73 – 71 sebelum Masehi (SM), demikian sebagaimana dikutip dari laman https://nusadaily.com/.

Antara 73 dan 71 SM segerombolan budak yang awalnya berupa kelompok kecil. Namun, dalam proses pelariannya, jumlah terus berkembang menjadi lebih dari 120 ribu.

Terdiri atas pria, wanita, dan anak-anak. Mereka berkeliaran di seluruh Italia dan banyak melakukan penjarahan. Pemberontakan pada akhirnya, berhasil dihentikan melalui upaya militer terkonsentrasi di bawah satu komandan, yaitu Marcus Licinius Crassus meskipun pemberontakan ini tetap memberikan pengaruh tak langsung terhadap politik Romawi bertahun-tahun setelahnya.

Selain itu, ada juga aksi yang dilakukan kelompok lain pada masa Yunani Kuno. Aksi ini dilakukan oleh kelompok masyarakat yang tidak tergolong miskin, tetapi masuk dalam kategori relatif mampu.

Pada zaman peradaban kuno. Terjadi banyak aksi pemberontakan yang menarik. Bukan di Yunani saja, melainkan juga di Mesir kuno. Tepatnya pada masa pemerintahan Seth-Peribsen (Sekhemib) sebelum 2.700 SM.

BACA JUGA:  Masuk Kawasan Candi Muaro Jambi, Pengunjung Wajib Cuci Tangan dan Gunakan Masker

Dimensi ideologi-agama menjadi alasan dalam perjuangan antara pengikut Horus dan Seth. Aksi ini juga bentuk perjuangan sosial antara penduduk atas dan bawah Mesir, dua kelompok yang relatif baru bersatu.

Dilansir dari republika.co.id, pada zaman Yunani Kuno, juga terdapat aksi protes yang berdasarkan agama. Aksi ini dilakukan helots dan spartiates selama periode itu. Alkitab menjadi bukti dari perjuangan.

Sedangkan demonstrasi di Republik Romawi terjadi karena perempuan tidak memiliki hak politik yang sama dengan laki-laki. Mereka tidak diizinkan untuk memilih, menjadi anggota Senat, dan berada di pabrik.

Pada zaman itu, wanita terhormat menghabiskan waktu di tempat-tempat umum yang mereka sukai. Oleh sebab itu, wanita menggunakan kekuatan protes publik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Salah satunya adalah demonstrasi perempuan terhadap UU Oppian.

Dilansir dari womeninworldhistory.com,/ hukum Oppian disahkan, menyusul kekalahan Roma oleh Hannibal pada Pertempuran Cannae (216 SM). Karena perang dengan Carthage, banyak pria meninggal.

Istri dan anak-anak perempuan mewarisi tanah dan uang mereka, yang memungkinkan banyak wanita untuk menjadi kaya. Negara, dalam rangka untuk membantu membayar biaya perang, memutuskan untuk memasuki kekayaan perempuan melewati Hukum Oppian. Perempuan juga dilarang memakai gaun dengan lis ungu (warna berkabung dan pengingat suram kerugian Roma).

Sejarawan Romawi, Livy menggambarkan aksi protes demonstran wanita ini dalam tulisannya yang berjudul History of Rome. Menurut dia, wanita Romawi mematuhi pembatasan yang dibuat negara ini dengan rasa tidak ikhlas.

Pada 195 SM, beberapa anggota Majelis diusulkan untuk menghilangkan Hukum Oppian. Perempuan di seluruh Roma terus mengawasi proses tersebut.

Namun, para anggota Pengadilan terkesan ingin mencabut usulan tersebut. Akhirnya, mereka melakukan aksi protes dengan turun ke jalan.  Ini adalah aksi pertama wanita dalam jumlah banyak di Roma. Sebagai hasil dari aksi protes perempuan dari para tribun, menarik veto mereka dan menyetujui pencabutan hukuman tersebut.(*)

BACA JUGA:  Taman Budaya Jambi Gelar Festival Musik Tradisional, Berikut Ketentuannya

 

Sumber : media Group www.indonesiadaily.co.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *