Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Selamat Jalan Yanti, Gajah Betina Penghuni Taman Rimba

4 min read

JAMBIDAILY WISATADalam konferensi pers Jumat (9/10/2020), Balai KSDA Jambi Bersama Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Ketahanan Pangan, UPTD Taman Satwa Taman Rimbo Jambi serta drh. Wisnu Wardana (Tenaga Ahli Gajah PKBSI) menjelaskan tentang kematian gajah Sumatera betina tersebut.

Berikut keterangan lengkapnya:

Pada hari ini Jumat tanggal 9 Oktober 2020 Balai KSDA Jambi bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Ketahanan Pangan, UPTD Taman Satwa Taman Rimbo Jambi serta drh. Wisnu Wardana (tenaga ahli gajah PKBSI) melakukan konferensi pers tentang kematian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) betina bernama “Yanti” yang berusia ± 38 tahun yang menghuni Taman Satwa Taman Rimba Jambi sejak tahun 1985 pada hari Kamis, 08 Oktober 2020 pukul 10.00 WIB.

 

SEJARAH GAJAH YANTI DI TAMAN RIMBA

Gajah yanti merupakan hasil penyerahan dari Bupati Bungo dan diserahkan kepada Ibu Sri Sudewi yang merupakan istri dari Bapak Gubernur saat itu yaitu Maskun Sofwan, pemberian nama langsung diberikan oleh Ibu Gubernur dengan nama Yanti. Gajah Yanti datang ke kebun binatang pada tahun 1985 di usia tiga tahun dengan kondisi terdapat luka pada kaki terkena jeratan dan ditinggal oleh induknya. Yanti kemudian mendapatkan perawatan intensif di kebun binatang Jambi hingga pulih dan sehat kembali. Pada saat itu, yanti adalah gajah satu – satunya di kebun binatang. Pada tahun 2012 dari Balai KSDA Jambi menambah gajah jantan yang diberi nama Alfa untuk memenuhi kesejahteraan satwa untuk dapat berkembang biak. Yanti dan Alfa berusaha untuk di jodohkan namun belum berhasil. Dari body condition, gajah yanti tergolong baik dengan score 3,2, dan perilaku normal. Yanti termasuk gajah yang tidak rewel, selera makan bagus dan jarang sakit.

BACA JUGA:  Yanti Mati, di Usia 38 Tahun Diduga Mengalami Tetanus

 

KRONOLOGIS KEJADIAN

  1. Pada hari senin seperti biasa gajah (yanti) digembalakan sekitar areal Kebun Binatang bagian depan dan sore harinya kembali ke kandang dalam kondisi baik/tidak memperlihatkan  gejala lain yang mencurigakan (diawasi Mahout), lalu kemudian kesokan harinya (selasa 6 Oktober 2020) sekitar pukul 12.30 Wib mahout mengamati ada gejala yang tidak biasanya yaitu  ketidakmampuan untuk memasukan makanan kedalam mulutnya, kemudian mahout berkoordinasi dengan Tean Medis, dari pengamatan terlihat ada pembengakakan di pangkal belalai
  2. Team (medis, Mahout dan keeper) terus melakukan observasi dimana gajah yanti belum mampu mangangkat makananannya sendiri sehingga dilakukan pertolongan (menyuapi makanan) dan  pada sore hari sekitar pukul 18.00 Wib gajah yanti  mulai berbaring namun masih dapat berdiri seperti biasa
  3. Malam harinya  Team (medis, Mahout dan keeper ) terus melakukan observasi dan sekitar jam 22.30 Wib gajah Yanti terbaring dan tidak mampu berdiri hanya bisa menggerakkan kakinya. Kemudian  Team Medis melakukan tindakan medis dengan pemberian terapi cairan (infus) serta pemberian obat-obatan
  4. Rabu 7 Oktober 2020  jam 02.00 pagi hasil obervasi Team (medis, Mahout dan keeper ) kondisi gajah Yanti semakin melemah, hal ini ditandai dengan upaya pergerakan kaki semakin berkurang, selanjutnya Team melakukan upaya pemberian pakan yang sudah dibelender melalui selang. Terapi cairan/infus dan obat-obatn tetap dilaksanakan dan kemudian Team medis melaksanakan pengambilan sampel Laboratorium (darah) sebagai upaya peneguhan Diagnosa Penyakit
  5. Sekitar pukul 18.00 Wib hasil pemeriksaan darah pertama keluar dengan hasil hemoglobin rendah, dan  pukul 20.00 Wib hasil pemeriksaan darah kedua dengan hasil, keratin kinase tinggi.
  6. Pada hari Kamis tanggal 8 Oktober 2020 Sekitar pukul 08.00 Wib perkembangan kondisi kesehatan gajah yanti semakin menurun yang ditandi dengan ketidakmampuan menelan makanan, gigi mulai merapat, dagu dan rahang kaku (logjaw) dan kesadaran melemah.
  7. Sekitar pukul 09.45 Wib kondisi gajah yanti semakin menurun terjadi dehidrasi akut sehingga Team Medis melakukan tindakan pemberian cairan melalui anus (rectum) sebanyak 19 liter.
  8. Sekitar pukul 10.15 Wib gajah yanti mati.
BACA JUGA:  'Tari vs Teater' Malam Minggu di TBJ, Kreativitas Menuju Panggung Nasional

 

Riwayat Sakit yang pernah dialami gajah yanti dan penanganannya

Pada hari selasa 11 Agustus 2020 pukul 16.00 Wib, gajah selesai digembala di lapangan depan kebun binatang, setelah itu ketika pulang ke  kandang, Gajah mengeluarkan buih dari rongga mulut disertai kondisi gajah yang tidak mau makan dan terlihat lemas. Pada pukul 19.00 wib gajah diberikan pakan pepaya, semangka, pisang dan air kelapa sebanyak kurang lebih 10 liter. Pada pukul 21.00 Wib diberikan terapi cairan. Pada pukul 21.35 Wib gajah sudah mengeluarkan urin dan feses secara normal, terapi selesai pada pukul 04.05 pada hari rabu tanggal 12 Agustus 2020. Dan gajah sudah terlihat normal dan semakin membaik.

 

HASIL PEMERIKSAAN:

Kondisi gajah yanti dilihat dari body condition score baik dengan nilai 3,2 (range nilai 1 – 5). Perilaku normal dan kesejahteraan bagus. Tampak sehat tidak gejala sakit atau keluhan apapun. Sampai dengan hari selasa tanggal 6 Oktober 2020.

 

Hasil Nekropsi sementara :

  1. Adanya pendarahan di otot jantung
  2. Ada penebalan ventrikel di otot jantung
  3. Adanya pembengkakan pada organ hati

Menurut keterangan Tim Dokter yang menangani (drh. Wisnu Wardana, drh. Zulmanudin, drh. Yuli Akmal, drh. Yuli, drh. Tarmizi dan drh. Elfridayanti), Dugaan sementara satwa gajah mati disebabkan oleh tetanus. Namun untuk mengetahui penyebab kematian maka akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut bagian – bagian organ  jantung, hati, ginjal, isi lambung, paru dikirim ke Balai Besar Veteriner Baso, Bukit Tinggi.

 

 

(*/Rilis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *