Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Ini Panggung Ku, Engkau Larang Aku Datang

6 min read

Salah satu Aktor yang sedang Orientasi Gedung Arena TBJ Jelang FTR/Foto: Raja Rizky

Oleh: Hendry Nursal

JAMBIDAILY JURNAL – Jarum jam baru saja melewati angka 7 pagi, bak pasar murah, bagai adanya pemotongan harga besar-besaran di supermarket, pembeli menyerbu demi memiliki barang buruan, demi mendapatkan impiannya. Tapi ini bukanlah adegan pembeli, mereka pemuda berbakat bergegas memilih tempat untuk berlatih.

Mereka mengisi setiap sudut di luar gedung teater arena Taman Budaya Jambi (TBJ) puluhan anak muda terlihat berekspresi, terdengar suara-suara lantang berhias kerutan rona wajah yang mengeras bersama semangat mereka jelang menuju panggung pertarungan.

Peristiwa tidak biasa tersebut sedikit bikin kita senyum kecut, berupaya menjadi yang tercepat datang. Momen langka tidak pernah terjadi sebelumnya, tidak ada ketakutan kehilangan tempat. Mungkin karena berbagai faktor, padahal suasana masih dalam kepungan pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) yang belum usai.

Dengan tegasnya panitia terhadap protokol kesehatan, meyakinkan peserta turut terlibat dalam perlombaan. Minimnya kegiatan selama pandemi dan terbuka kembali dengan adanya tatanan kehidupan baru (New Normal) kemungkinan terbesar menjadi faktor semangat mereka tetap tangguh berkreativitas.

Kompetisi ini bukan kali pertama, tetapi sudah menjadi rutin tahunan yang diselenggarakan TBJ UPTD Kebudayaan dan Pariwisata (Budapar) provinsi Jambi. Setiap tahun menghadirkan jawara-jawara muda berbakat di panggung teater, tentu terasa istimewa saat menggenggam mahkota raja panggung di ajang terbesar bagi aktor aktris muda di provinsi Jambi.

Lebih terasa istimewa di perhelatan kali ini selain bertarung peran juga bertarung menembus rasa khawatir akan pandemi yang belum menunjukan penurunan setelah mewabah di Indonesia sejak Maret 2020.

Salah satu peserta asal Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 11, yang berada di kabupaten Muaro Jambi, perempuan bungsu dari 5 bersaudara namun enggan namanya dituliskan (Minggu, 11/10/2020) dengan penuh semangat bercerita penantiannya karena mengikuti lomba sejenis adalah yang pertama.

“Menjadi pengalaman pertama, sangat berharga bagi saya. Saya tidak peduli apapun hasilnya, menang atau kalah itu nanti. Terpenting saya mendapat pengalaman, mendapat pembelajaran di ajang sebesar ini. Saya tak gentar sedikitpun walaupun peserta jauh lebih besar secara usia dan udah sering berada di panggung Teater,” Ujarnya.

“Apalagi selama pandemi, kami lebih banyak belajar di rumah. Saat ada perlombaan ini dukungan penuh diberikan kepada saya dan rekan-rekan dari kepala sekolah serta guru, walaupun sempat saya hilang semangat karena ayah saya tutup usia beberapa bulan lalu. Namun saya kembali bangkit bersemangat ikut lomba ini tentunya tetap waspada covid-19 dengan cara mengikuti protokol kesehatan,” Tandasnya.

BACA JUGA:  Lagi.. PWI Bakal Berikan Anugerah Kebudayaan

Tak Mendapat Restu, Khawatir Covid-19

Beranjak kepinggiran kota Jambi, sore itu seorang lelaki muda sedang serius membaca keterangan kata-perkata, bait-perbait, kalimat demi kalimat petunjuk pelaksanaan dan teknis perlombaan. Bertubuh mungil tidak menjadikan kecil pula gairahnya untuk bertarung, bukan ajang mengukur kemampuan sebagai dasar kesombongan atau gengsi semata, lebih kepada mengasah kekuatannya berlakon di panggung.

Secara dini dia ingin menelusuri relung kehidupan, membaca pesan-pesan lingkungan lewat dunia peran menjadikannya tekun belajar dan tidak melepaskan kesempatan yang terbuka lebar. Berjarak 14 Kilometer, menempuh durasi 20 menit perjalanan ditembus untuk berlatih, untuk hadir secara maksimal di panggung pertarungan bertaraf provinsi.

Buktinya dia peserta terkecil yang turut ambil bagian di panggung Monolog Festival Teater Remaja (FTR) 2020 dengan rentang usia 10-24 tahun, dia satu-satunya penantang diantara 32 peserta remaja lainnya yang telah berada di bangku menengah atas bahkan mahasiswa. Tidak ada kata gentar, baginya perlombaan bukan menang atau kalah. Tapi, proses menjadi poin utama pembelajaran.

Dia awalnya tidaklah sendiri, ada rekan sebaya lain dari asal sekolah yang sama. Namun sayang, kepala sekolah tak merestui bukan tanpa alasan, semua didasari kekhawatiran dengan covid-19, dia berupaya melindungi anak didiknya. Rupanya berimbas juga pada sang guru pembimbing yang menarik diri, sesuai sikap pimpinan. Seluruh rekan-rekannya pun mundur, membatalkan hasrat di panggung perlombaan.

Nyaris melupakan impiannya, kemana harus bergantung? siapa yang akan menopang. Kemauan tanpa pengetahuan yang cukup, nekat pada perlombaan nanti itu sama saja dia melempari sekolahnya dengan kotoran, menelanjangi harga dirinya dihadapan peserta lain. Akhirnya dengan satu sikap menyudahi, memendam keinginan dan dipastikan sirna.

Saat pintu itu akan ditutup rapat, seseorang hadir berdiri disebelahnya menjadi sosok sutradara yang akan mengantarkannya ke panggung kompetisi. Semangat itu kembali hadir membakar naskah ‘Pidato Gila’ karya Putu Wijaya ke dalam dirinya, serta kembali mewarnai keceriaan berlatih beriring canda tawa.

Mungkin menjadi pertanyaan, siapakah aktor muda yang sedang kita bicarakan. Penulis menggelitik hati ingin menyampaikan kepada pembaca bahkan dunia. Namun, atas permintaan lelaki ramah ini, penulis tidak menyebutkannya.

“Ini untuk yang kedua kali mengikuti FTR, Saya tidak mendapat restu karena kepala sekolah khawatir covid-19, saya tetap datang kesini dan latihan sendiri. Sampai akhirnya ada salah satu abang disini mau menjadi sutradara untuk saya, saya merasakan senang yang luar biasa. Bukan menang atau kalah, saya ingin terus belajar dan mengekspresikan diri, terpaksa tidak mengatasnamakan sekolah,” Ungkap Anak kedua dari 3 bersaudara tersebut.

BACA JUGA:  'Tari vs Teater' Malam Minggu di TBJ, Kreativitas Menuju Panggung Nasional

Walaupun tak mendapat restu, rasa hormatnya jauh dari kata memudar, rasa cintanya tak terkikis. Datang diajang tersebut bukan ‘menantang’ sang guru, bukan menjadi pembangkang. Kehadiran itu jawaban atas kekuatan hati untuk terus belajar, untuk terus memenuhi ruang kosong pikiran dengan sesuatu yang positif.

“Saya bercita-cita dapat berada di dunia hiburan, saya ingin memberikan kebanggaan pada orang tua. FTR menjadi salah satu ruang belajar saya untuk terus mengasah kemampuan peran, saya tetap ingat pesan guru kemarin tidak merestui ikut lomba karena khawatir covid-19. Kini saya ikut, pesan guru saya ingat terus dengan cara waspada dan patuh protokol kesehatan,” Tutupnya.

“Lain lubuk lain pula ikannya” Semangat Perjuangan aktor dan aktris muda FTR tahun 2020 diatas penuh liku, melawan rasa sedih yang belum mereda karena kehilangan orang tua, juga tidak mendapat restu dari sang guru.

Berbeda dengan Anin, gadis 18 tahun hadir sebagai sutradara termuda di FTR tahun 2020. Dia adalah mahasiswi universitas sriwijaya (Unsri) yang kini sedang berada di kota kelahirannya karena berlaku perkuliahan sistem daring atau virtual.

“Saya sedang disini (kota Jambi-red) karena masih berlaku perkuliahan secara daring, sehingga bisa ikut menjadi peserta tetapi sebagai sutradara,” Imbuh Anin.

Anin berujar, kondisi ini turut memberikannya peluang sembari mengobati kerinduan bisa bersama Teater Kerlip. “Apalagi telah berada di kota berbeda, semenjak menjadi mahasiswi di Unsri kami berjauhan tidak bersama. Saat kondisi ini saya kembali ke Jambi, pas ada FTR maka peluang tidak ingin saya lewatkan. Bukan menang atau kalah, pengalaman jauh lebih berharga. Apalagi di masa pandemi dengan adanya New Normal, kita sudah selayaknya tetap kreatif dan produktif tapi ingat protokol kesehatan jangan diabaikan,” Tegas Anin dengan penuh semangat.

Dia mengaku ini bukan kali pertama mengikuti FTR, rasa rindunya akan atmosfer dan ketatnya persaingan generasi muda perteateran di Jambi menggelorakan keinginannya kembali bertarung, walau tidak berada langsung diatas panggung.

Tegas Protokol Kesehatan, Tanpa Masker Dilarang Masuk Gedung Teater Arena

FTR tahun 2020 tidak mengundang ataupun menghadirkan penonton umum kecuali peserta, semua itu untuk mematuhi aturan protokol kesehatan sehingga kerumunan tak terjadi.

BACA JUGA:  Yang Tabah, Pak Walikota

Ketegasan disampaikan Didin Sirojudin, S.Sn Kepala TBJ bahwa selain tanpa penonton umum kecuali peserta, itupun wajib memakai penutup wajah (masker) “Tanpa penonton, kami tidak mengundang pada FTR 2020 bagi masyarakat umum selama pandemi apalagi pengetatan yang berlaku saat ini dari gugus tugas covid-19 kota Jambi, sangat jelas. Hanya antar peserta saja dan kalau tanpa masker kami melarang dengan tegas memasuki gedung teater arena,” Tegas Didin.

Monolog dalam pengertiannya dari berbagai referensi merupakan salah satu bentuk ruang permainan untuk melihat kepiawaian seorang aktor memerankan beberapa adegan dari naskah yang ada. Saat ini masih ada keterbatasan tempat atau event kegiatan untuk mengeksplorasi seni peran individu, jika dibandingkan dengan pementasan teater pada umumnya.

“Atas dasar inilah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi melalui UPTD Taman Budaya Jambi (TBJ) akan menyelenggarakan Festival Teater Remaja (FTR) Monolog tahun 2020, sebagai tempat pembelajaran untuk menampilkan kreativitas, mengapresiasikan seni peran satu orang atau monolog tersebut,” Terang Didin.

FTR sempat bergeser pelaksanaannya, yang awal 5–10 Oktober menjadi 12-14 Oktober 2020 dengan juri Rachman Sabur (Dosen ISBI dan pendiri Teater Payung Hitam Bandung), EM Yogiswara (Pendiri Teater AIR Jambi), dan Putra Agung (Pegiat Teater dari Provinsi Jambi).

Menariknya, Putu Wijaya, pemilik dari naskah yang diperlombakan akan turut hadir dalam festival monolog tahun ini melalui platform Zoom Cloud Meeting.

Respon positif FTR ditengah pandemi dibuktikan dengan mendaftarnya 32 peserta yang berlomba, asal 7 dari 11 kabupaten/kota dalam provinsi Jambi, kecuali Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Kabupaten Tebo dan Sarolangun.

“Kita sempat bergeser jadwal karena jika dilaksanakan sesuai agenda awal, itu akan berbenturan dengan ketetapan gugus tugas covid-19 kota Jambi, terkait pengetatan selama 14 hari. Maka tanggal 12-14 Oktober 2020 FTR digelar, dan tak pernah henti-hentinya peserta kami perketat, bagi peserta selama kegiatan. Tidak juga berisi lebih dari 30 persen dari kapasitas gedung,” Jelas Didin.

Semangat yang besar dari peserta, menjadi tanda komitmen mereka menjalani protokol kesehatan dalam memutus rantai penyebaran, juga tetap kreatif, tetap produktif ditengah pandemi covid-19.

*Penulis adalah: Wartawan dan Pemimpin Redaksi jambidaily.com

 

 

Jurnal Lainnya:
Kreativitas Menembus Batas, Seniman Jambi Berkarya di Tengah Prahara Pandemi

1 thought on “Ini Panggung Ku, Engkau Larang Aku Datang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *