Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

TBJ Sukses Gelar Festival Teater Remaja 2020, Produktif dengan Prokes Covid-19

3 min read

Salah satu peserta saat di panggung pergelaran

JAMBIDAILY SENI, Budaya – Taman Budaya Jambi (TBJ) UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudapar) provinsi Jambi, sukses menggelar festival teater remaja (FTR) yang berlangsung 12-14 Oktober 2020 di gedung Teater Arena, kawasan Sungai Kambang, Telanaipura, Kota Jambi.

FTR tahun 2020 berbeda dari penyeleggaraan sebelumnya karena ajang kali ini berupa Monolog, ada berbagai alasan yaitu belum pernah dilaksanakan sebelumnya, lalu terkait masih mewabah pandemi covid-19.

“Teater monolog menjadi ujian spesial bagi calon-calon generasi muda teater di Jambi, selama ini FTR memperlombakan teater secara utuh. Karena belum pernah diselenggarkan, boleh dikata minim di Jambi khususnya, selain itu kami sangat mempertimbangkan keamanan protokol kesehatan ditengah pandemi, maka monolog menjadi pilihan, sebab monolog tidak melibatkan banyak orang jadi sangat tepat. Ajang rutin FTR dapat terselenggara, tetap produktif namun juga patuh protokol kesehatan,” Terang Didin Sirojudi S.Sn, Kepala TBJ (Rabu, 14/10/2020).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) monolog adalah penbicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri.

Dalam drama, monolog adalah suatu percakapan yang dilakukan seorang diri dalam suatu drama. Jadi, hanya satu orang saja yang berbicara dan hanya dia yang bisa menentukan pokok bahasan lainnya. Percakapan tersebut juga disebut dengan komunikasi yang dilakukan oleh satu orang, atau singkatnya berbicara sendiri.

FTR sempat bergeser pelaksanaannya, yang awal 5–10 Oktober menjadi 12-14 Oktober 2020 dengan juri Rachman Sabur (Dosen ISBI dan pendiri Teater Payung Hitam Bandung), EM Yogiswara (Pendiri Teater AIR Jambi), dan Putra Agung (Pegiat Teater dari Provinsi Jambi).

Respon positif FTR ditengah pandemi dibuktikan dengan mendaftarnya 32 peserta yang berlomba, asal 7 dari 11 kabupaten/kota dalam provinsi Jambi, kecuali Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Kabupaten Tebo dan Sarolangun.

BACA JUGA:  Kadiv Humas Polri: Pariwisata Alam Dibuka, TNI-Polri Siap Mengawal Protokol Kesehatan

Pantauan jambidaily.com di lokasi, penyelenggara juga memenuhi aturan satuan tugas percepatan dan penanganan covid-19 kota Jambi terkait batasan 30 persen dari kapasitas gedung dan jam malam di area publik, terutama penggunaan penutup wajah (masker), cek suhu tubuh, fasilitas cuci tangan, terakhir menjaga jarak antar pengunjung.

“Tanpa penonton, kami tidak mengundang pada FTR 2020 bagi masyarakat umum selama pandemi apalagi pengetatan yang berlaku saat ini dari gugus tugas covid-19 kota Jambi, sangat jelas. Hanya antar peserta saja dan kalau tanpa masker kami melarang dengan tegas memasuki gedung teater arena,” Tegasnya.

“Lomba berlangsung dari pagi hingga sore hari, saat puncak acara pengumuman kami gelar malam hari dengan sajian monolog dari salah satu juri yaitu Rachman Sabur (Dosen ISBI dan pendiri Teater Payung Hitam Bandung), tetapi tetap mematuhi batasan waktu sesuai aturan,” pungkas Didin.

Salah satu peserta lomba, Rully Anggraini memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan karena displin dan tertib protokol kesehatan, peserta merasa nyaman selama mengikuti FTR ditengah pandemi.

“Saya apresiasi disiplin dan tertibnya protokol kesehatan, panitia tak berhenti mengingatkan para peserta yang sedang menyaksikan perlombaan. Penonton tidak ada masyarakat umum, hanya kami antar peserta saja. Setiap jeda perlombaan pembawa acara tak pernah lupa ingatkan jaga jarak, penggunaan masker. Tidak hanya di dalam saja, sebelum memasuki gedung kami di cek suhu tubuh, wajib cuci tangan yang telah disediakan di pintu masuk serta diingatkan cara pemakaian masker yang tepat,” Jelas perempuan lajang yang akrab disapa Ulli.

“Ini salah satu contoh, kita sudah seharusnya patuh terhadap protokol kesehatan, biar pandemi segera berakhir. Kalau tidak patuh, ya tunggu saja virus ini datang mendekati kita. Tentu tidak mau, maka satu kunci patuhi protokol kesehatan,” Ungkapnya menutup pembicaraan.

BACA JUGA:  Mengenal Sejarah  “Unjuk Rasa” Sebagai Ungkapan Protes

 

(Hendry Nursal)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *