Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Mengenal Nilai Moral Melalui Seloko Adat Jambi

5 min read

JAMBIDAILY BUDAYA -Sebagai daerah yang mewarisi nilai-nilai luhur peninggalan kerajaan melayu islam, Jambi memiliki adat istiadat yang umumnya diwarnai Adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah (Al-Qura’an).

Salah satu kekayaan budaya yang terus terjaga hingga saat ini sebagai bagian dari pengaturan etika dan moral masyarakat jambi dalam kegiatan sosial sehari-hari; Seloko Adat Jambi.

Seloko Adat Jambi merupakan tatanan adat yang menjadi rambu-rambu dalam hubungan interaksi masyakat Jambi, dan juga merupakan bagian dari hukum adat yang selalu dipatuhi masyarakat Jambi.

Dari penelusuran indonesiadaily.co.id media group jambidaily.com,  seperti dikutip dari laman https://www.yaqin.id, Seloko adat Jambi adalah ungkapan yang mengandung pesan, atau nasihat yang bernilai etik dan moral, serta sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi.

Isi ungkapan seloko adat Jambi meliputi peraturan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya dan kaidah-kaidah hukum atau norma-norma, senantiasa ditaati dan dihormati oleh masyarakatnya karena mempunyai sanksi.

Ungkapan-ungkapan seloko adat Jambi dapat berupa peribahasa, pantun atau pepatah petitih. Seloko adat Jambi juga merupakan pandangan hidup atau pandangan dunia yang mendasari seluruh kebudayaan Jambi. Seloko adat Jambi juga merupakan sarana masyarakatnya dalam merefleksikan diri akan hakikat kebudayaan, pemahaman mendasar dari pesan dan tujuan dari sebuah kebudayaan (Amali Muadz).

Salah satu contoh seloko adat Jambi adalah mengenai pengambilan keputusan dalam pemerintahan, seloko adat Jambi menyebutkan bahwasanya: “Berjenjang naik betanggo turun, turun dari takak nan di atas, naik dari takak nan di bawah”, seloko adat tersebut mempunyai pengertian bahwasanya dalam mengambil keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan.

Tingkatan pengambilan keputusan ini misalnya tingkat pengambilan keputusan yang tertinggi, yaitu Alam nan Barajo, sampai dengan sebuah pengambilan keputusan pada tingkatan yang paling bawah Anak nan Berbapak, Kemenakan nan Bermamak.

BACA JUGA:  Meriam Saksi Sejarah Perjuangan Rakyat Jambi, Kini Telah Menjadi Milik Museum PRJ

Seloko adat lainnya yang sangat banyak jumlahnya, misalnya seloko adat yang mengatur dalam kehidupan berkelompok (masyarakat), dalam hal pergaulan sehari-hari, dan sebagai bentuk nasihat dalam menjalani kehidupan di dunia.

BACA JUGA:  Suci Ardy Daud Harap Jambi Expo 2020 Perluas Pangsa Pasar Produk Jambi

Seloko adat merupakan salah satu bentuk warisan leluhur yang tidak boleh dibuang begitu saja. Harus dilestarikan dan diturunkan kepada anak cucu, agar mereka mengetahui betapa generasi tua mereka adalah generasi yang menjunjung tinggi adat dan budaya ketimuran.

Seloko Adat Jambi Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya begitu juga lain tempat, lain pula pepatah adatnya. Berikut ini saya sajikan beberapa pepatah adat yang ada di tengah masyarakat Jambi sebagai bagian dari khasanah kebudayaan Indonesia:

Pemimpin itu hendaknyo ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo.. pegi tempat betanyo, balik tempat babarito.

(Pemimpin itu hendaknya jadi pengayom)
Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait..
( janganlah lain di kata lain di hati)
Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring..
(jangan menghianati kawan sendiri)
Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut.
(hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini)
Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung.
(hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik)
Awak pipit nak nelan jagung
(impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin)
Pegi macang babungo, balik macang bapelutik.
(istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar)

Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu
(Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya)
Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti
(Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain)

BACA JUGA:  Tarian Ma’Ekat Khas NTT Menjadi Spirit Kebaktian Penutupan Bulan Keluarga GMIT

Itulah beberapa pepatah/sloko adat Jambi yang bisa saya informasikan, tentunya masih banyak lagi pepatah-pepatah lain yang sering dipakai dalam keseharian maupun dalam acara adat masyarakat Jambi..

BACA JUGA:  PALAMJAMBE Resmi Dibuka, Perupa Berharap Gelaran ini Menjadi Andalan

Petatah Petiti, Pantun, Seloko Adat Jambi

Petatah petitih adalah merupakan sastra adat jambi yang berisikan nasehat dan pandangan-pandangan serta pedoman hidup yang baik, yang berisikan petunjuk-petunjuk dalam melakukan hubungan social dalam masyarakat.
Contohnya :
Kurang sisik rumput menjadi
Kurang siang jelupung tumbuh
Artinya : Apabila dalam menghadapi setiap masalah, jika kurang hati-hati atau teliti, maka akan berakibat buruk.

Kecik dak besebut namo
Besak dak besebut gela
Artinya : Antara miskin dan kaya tidak ada perbedaan, yang miskin tidak disebutkan, yang kaya tidak dikatakan kaya.

Menarik rambut dalam tepung
Rambut jangan putus
Tepung jangan terserak
Artinya : Jika menyelesaikan sesuatu maka berhati-hatilah

Negeri aman padi menjadi
Air jernih ikannyo jinak
Rumput mudo kerbaunyo gemuk
Turun kesungai cenetik keno
Naik kedarat perangkap berisi
Artinya : berdoa serta mengharap kebahagiaan dan keselamatan negeri

Kalau lah memahat diatas baris
Kalau mengaji lah diatas kitab
Rumah sudah jadi
Ganden dan pahat dak bebunyi lagi
Artinya : Setiap masalah apabila sudah diselesaikan (dimufakatkan) maka tidak akan atau tidak lagi timbul masalah itu dikemudian hari.

Supayo disisik disiangi dengan teliti
Dak ado silang yang idak sudah
Dak ado kusut yang idak selesai
Artinya : Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, maka harus diteliti dengan baik dan diusahakan selesai dengan baik.

Bejalan hendak menepi
Supayo idak tepijak kanti
Becakap piaro lidah
Supayo kanti idak meludah
Artinya: Jika hendak berbuat haruslah berhati-hati

Di bulekkan karno nak digulingkan
Di pipihkan karno nak dilayangkan
Bulek aek dek pembuluh
Bulek kato dek mufakat
Artinya : Setiap masalah dicari jalan keluarnya, dan dicari kesepakatanya (mufakat).

BACA JUGA:  Mempunyai Ibu Memahami Budaya Jawa Ardina Risti Gelar Tedak Siti untuk Anara Langit

Bunyi siamang dibukit pangkah
Turun kelukuk makan padi
Kalau tergemang ulak langkah
Sementaro main belum jadi
Artinya : Orang tua ikut memperhatikan gerak-gerik atau tingkah laku atau budi pekerti anak-anaknya

BACA JUGA:  Antisipasi Covid-19, Pemprov Jambi Imbau Bupati/Walikota Awasi Warga yang Liburan

Bagaimano nian kelamnyo kabut
Mato jangan di pejamkan
Bagaimano susahnyo hidup
Namun sembahyang jangan ditinggalkan
Artinya : Bagaimanapun sulitnya hidup yang dijalani, jangan sampai meninggalkan shalat lima waktu.

Kalau pandai berkain panjang
Lebih dari kain sarung
Kalu pandai berinduk semang
Lebih dari ibu kandung
Atrinya :contoh kisah orang yang ingin meninggalkan kampong halamanya dan ingin tinggal dikampung orang lain, disebut juga merantau.

Bulat dapat digulingkan
Pipih dapat dilayangkan
Putih berkeadaan
Merah dapat dilihat
Panjang dapt diukur
Berat dapat ditimbang
Artinya : setiap keputusan seharusnya, dapat diuji kebenarannya dengan jelas menurut ukuran keadilan dan kepatutanya

Berjenjang naik bertanggo turun
Turun dari takak nan di atas
Naik dari takak nan di bawah
Artinya : Setiap dalam pengambilan keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan.

Rumah sudah, pahat idak berbunyi
Api padam puntung tidak berasap
Yang terjatuh biarlah tinggal
Yang terpijak biarlah luluh
Artinya : Dalam menetapkan keputusan yang berat atau rumit, harus dikuatkan dengan Janji setia menurut kenyataan hukum adat tersebut sangat besar pengaruhnya dalam menata kehidupan masyarakat yang taat kepada hukum.(*)

 

Sumber: Indonesiadaily.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *