22/10/2021

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Pekan Kebudayan Daerah Jambi, Upaya Melestarikan Seni Tradisi?

5 min read

Oky Akbar

Oleh: Oky Akbar

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, lewat Pekan Kebudayaan Daerah Jambi tahun 2021 menghadirkan Festival Seni Tradisi. Sebelas kabupaten kota menghidangkan sajian seni tradisi ke dalam bentuk pertunjukan yang kemudian dinilai oleh tiga dewan pengamat; Jafar Rasuh, Nukman, dan Ali Surahman. Penilaian menetapkan tiga kelompok juara terbaik dan satu kelompok kategori favorit.

Kabupaten Merangin tampil sebagai pembuka. Merangin menyajikan musik tradisi kalinong. Musik kalinong berkembang di Dusun Tuo, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Tabir, Merangin. Kalinong sudah ada sejak 300 tahun yang lalu. Keunikan musik kalinong terletak pada notasi dan irama yang dimainkan. Penggunaanya hanya untuk mengiringi lagu-lagu tertentu. Musik kalinong digunakan sebagai hiburan petani yang berladang sebagai tanda dimulainya musim tanam. Tahun 2016, kalinong telah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda. Kota Sungaipenuh menyuguhkan tarian Asek Minto Anak, ritual pengobatan utuk memperoleh keturunan. Kata-kata yang dilontarkan oleh penari adalah memuji dan meminta pertolongan Allah SWT dan memanggil roh nenek moyang untuk membantu proses pengobatn tersebut.

Kabupaten Batanghari menyuguhkan tarian tradisi Bedana Putri Pinang Masak. Tarian ini merupakan ekspresi masyarakat untuk menunjukkan kegembiraan juga pertahan kearifan lokal untuk deru gerak zaman. Kabupaten Tebo menyuguhkan upacara Mandi Balimau Gedang yang berasal dari Desa Teluk Kembang Jambu. Tarian ini bermakna nilai gotong-royong, musyawarah mufakat, kepatuhan terhadap ketentuan dan nilai serta sistem pemerintahan yang tidak terpisahkan antara tiga elemen, yaitu pemerintahan, syarak, dan adat. Seperti pepatah adat, bak tali bapintal tigo, adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Kabupaten Bungo menyajikan Dinggung. Dinggung merupakan ritual adat penyampaian mantera-mantera yang disenandungkan untuk membujuk makhluk halus penunggu pohon selang/madu.

Pada hari yang berbeda, Kabupaten Tanjungjabung Timur menyajikan tari Panji Ubur. Panji Ubur merupakan upacara adat penghormatan sekaligus memohon restu kepada leluhur melayu timur sebagai persyaratan supaya upacara perkawinan atau acara adat lainnya berada dalam keadaan aman dan selamat. Kota Jambi menyuguhkan Kompangan yang mengangkat cerita perjalanan manusia sejak kecil dalam buaian sampai tumbuh menjadi dewasa. Kabupaten Tanjungjabung Barat menyajikan tari Barahoi. Tari Barahoi berasal dari Rantau Badak Lamo, Muaro Papik, yang menceritakan kebiasaan nenek moyang papa proses musim padi tiba. Kabupaten Sarolangun menyajikan Gitar Tunggal. Gitar Tunggal merupakan tradisi yang berasal dari Batang Asai. Sudah ada sejak tahun 1945.

BACA JUGA:  Anak Dusun

Dulu, alat tradisional ini terbuat dari benang atom atau benang tangsi. Dimainkan oleh bujang dan gadis saat betandang, beralek kawin, dan sambil merancam umo atau nugal. Kabupaten Muaro Jambi menyajikan dua lagu daerah Selendang Mayang dan Sungai Bertam. Lagu Selendang Mayang berkembang di daerah Sungai Bertam. Sementara itu, Kabupaten Kerinci menyajikan tari Asek Mandi Di Taman Niti Jalan Tigo Jurai yang bercerita tentang kisah mendirikan suatu pemukiman baru. Pemukiman baru sudah ditunggu oleh makhluk gaib sehingga dilakukanlah tari Asek Mandi Di Taman Niti Jalan Tigo Jurai untuk memberi ketenangan hati anak betino kerinci yang akan menunggu pemukiman baru tersebut.

Kekayaan seni tradisi yang dimiliki Provinsi Jambi tak ada yang menyangkal. Mestinya, dengan kuantitas seni budaya yang mengagumkan, diiringi pula dengan kuantitas kegiatan seni yang disuguhkan. Entah itu namanya ajang, pekan, entah acara atau festival, yang pada intinya menawarkan seluas-luasnya tontonan yang bergizi bagi masyarakat.

Dalam hal ini, saya berpendapat bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi sudah berada pada trek yang tepat. Sebagaimana yang tercantum pada Undang Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pemerintah berperan sebagai fasilitator, sedangkan kebudayaan itu sendiri merupakan milik masyarakat. Tinggal bagaimana pemerintah mengkaji, memilah, dan menetapkan materi apa yang paling esensial. Materi yang memang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga pekan atau festival yang diselenggarakan pemerintah berdampak positif bagi pelaku tradisi. Bukan tidak mungkin juga berdampak pada sektor lainnya; ekonomi dan pariwisata.

Bak gayung bersambut, acara ini pun mendapat apresiasi dari Gubernur Jambi, Bapak Al Haris. Beliau berniat menjadikan Arena Eks MTQ sebagai lokasi kegiatan Pekan Kebudayaan Daerah berikutnya. Pemanfaatan ruang-ruang publik sebagai lokasi kegiatan seni dan budaya mesti dioptimalkan. Niat baik Gubernur Jambi, patut dipertanyakan dikemudian hari.

BACA JUGA:  Ketika Saya Harus Memilih

 

Tradisi kok dinilai?

Pertanyaan ini menyeruak manakala pengumuman pemenang dibacakan. Diskusi kecil berteman segelas kopi mendedahkan berbagai argumen-argumen yang menarik.

Lagi-lagi, saya pribadi, dengan kedangkalan pengetahuan, tidak setuju apabila tradisi dinilai dengan angka-angka. Tradisi sudah memiliki nilai, tetapi tidak berupa angka. Tradisi meresap menjadi bagian tak terpisahkan dalam denyut nadi kehidupan. Ia memiliki tempatnya sendiri, bersifat agung, dan tak bisa dibanding-bandingkan. Kekhasan seni tradisi menjadi ragam corak keistimewaan. Berbalut konteks ruang dan waktu, tradisi menggambarkan kepribadian.

Tradisi merupakan falsafah masyarakat yang berdasar pada pandangan dan nilai-nilai kehidupan. Di sisi lain, tradisi menjadi barometer terhadap lakuan tingkah laku baik-buruk dalam kehiduapan. Ia menjadi pijakan, pembatas, pengingat, dan pengikat anggota masyarakatnya. Pijakan tradisi yang kuat menjadi titik tumpu pengembangan mentalitas yang muaranya membentuk suatu sistem kebudayaan yang kompleks.

Kepedulian masyarakat terhadap tradisinya diwariskan secara turun temurun. Tempatnya berada di dalam kesadaran, keyakinan, dan nilai-nilai yang diimplementasikan lewat lakuan aktivitas. Kesadaran dan keyakinan tidak cukup didapat lewat pendidikan. Kurikulum tidak mampu menampung kehendak tradisi. Pendidikan masih berpedoman pada pembelajaran di dalam ruang kelas yang tersekat dinding-dinding kekakuan, sedangkan tradisi menyatu dengan alam. Karena diwariskan secara turun-temurun, dengan kesadaran yang tinggi, tanpa mengejar keuntungan apalagi kepentingan maka tak layaklah tradisi di banding-bandingkan.

Harus diakui, festival seni dan budaya menjadi alternatif pewarisan tradisi. Untuk sekarang, pola festival tergolong ‘seksi’. Begitu banyak bermunculan festival seni dan budaya yang menghadirikan kearifan lokal dari masing-masing daerah. Festival dianggap menjadi media komunikasi dalam melestarikan kebudayaan. Dalam proses itu, terjadi transfer ilmu pengetahuan sekaligus upaya perekaman dalam ingatan setiap indvidu. Rekaman itu melekat dan tersimpan sebagai bank data yang berjalan. Pada kemudian hari, rekaman-rekaman itu akan ditransferkan lagi ke dalam ingatan-ingtan yang lain dalam bentuk yang bermacam-macam.

BACA JUGA:  Pementasan Teater Sintung Palalaw oleh Teater AiR Kota Jambi sebagai Wujud Pengenalan Mitos Daerah

Kembali pada pertanyaan di atas. Tradisi kok dinilai? Patut digarisbawahi paparan dari Dewan Pengamat. Bang Ali sapaan akrabnya mengatakan, bertugas sebagai dewan pengamat, seperti masuk jebakan batman, bagai makan buah simalakama. Artinya, tradisi memang tak patut untuk dibanding-bandingkan. Tradisi apa pun, itu adalah yang terbaik.

Paparan yang disampaikan oleh dewan pengamat, boleh dikatakan sangat brilian. Mereka menggunakan lobang teropong yang sangat sempit untuk mendapatkan visual objek yang lebih besar. Cerdas! Penilaian peserta di atas panggung menjadi titik fokus. Bagaimana sebuah tradisi itu ditampilkan dengan memerhatikan estetika panggung. Bang Nukman juga mengklaim bagaimana sebuah tradisi menjadi tontonan yang asyik tanpa ada tambahan atau pengurangan. Sementara itu, Pak Jafar Rasuh lebih konsen terhadap sajian materi. Ia mengatakan peserta “serakah”. Terlalu banyak materi yang ingin disampaikan.

Dengan begitu, konklusinya jelas. Tradisi sebagai substansi kebudayaan tak bisa direpresentasikan dengan angka, tetapi pengaktualisasian tradisi menjadi bentuk pertunjukan/tontonan di atas panggung sangat memungukinkan untuk diberi penilaian. Saya nyatakan, dewan pengamat berhasil keluar dari jebakan batman. Syelamat!

Selamat untuk pemenag. Kabupaten Kerinci, Kabupaten Bungo, Kota Jambi, dan Kabupaten Tanjung Jabung timur. Terima kasih untuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *