16/08/2022

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Penyelamatan Sungai Batanghari, Mencari Esensi Lomba melukis Sungai

4 min read

JURNAL – Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera yang pernah menjadi urat nadi Provinsi Jambi itu kini dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Sungai ini tercemar merkuri akibat aktivitas tambang emas liar (PETI) di bagian hulu.

Banyak catatan yang menggambarkan bagaimana tentang keelokan dan kejayaan Sungai Batanghari di masa lampau. Sungai yang memiliki panjang 800 kilometer ini menjadi urat nadi dan kebanggan negeri Jambi. Namun saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Arus Batanghari memang mengalir tenang, tapi melihat kondisi sungai Batanghari sekarang, pikiran menjadi tak tenang.

Suatu waktu, penulis pergi ke bawah jembatan Aur Duri 1 Kota Jambi, airnya butek kecoklatan oleh sendimen lumpur dan pasir yang kasat mata. Menurut catatan Walhi, penyebab kerusakan Batanghari berasal dari masifnya perizinan industri ekstraktif yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS). Saat ini terdapat 39 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan 1 Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu – Hutan Alam (IUPHHK – HA). Aktifitas industri ekstraktif merupakan penyumbang terbesar kerusakan hulu DAS Batanghari.

Sungai Batanghari adalah peradaban yang terlupakan, sarana ekonomi yang terpinggirkan. Terlupakan, karena semenjak jalan darat terbuka di era 80 an, Sungai Batanghari tak lagi dijadikan pilihan sebagai sarana transportasi. Lalu Sungai Batanghari terpinggirkan ketika aktivitas sosial ekonomi masyarakat tak lagi bertumpu pada alur sungai. Hanya ada segelintir pencari ikan dan perahu ketek yang mengais rejeki di sana. Jika pun mau ditambah daftar ini, kita bisa memasukan pengusaha galian C yang masih aktif memanfaatkan Batanghari.

Hingga peradaban sungai itu kini hanya cerita yang tersisa. Jika tidak ada usaha massif secara ekologi dalam mengatur interaksi kepentingan, sangat mungkin sungai Batanghari hilang dari kehidupan orang Jambi.

BACA JUGA:  Cerita Pulau Berhalo

Sungai Batanghari kembali mengemuka ketika masalah angkutan batubara menjadi problem sosial yang besar di Jambi. Memang sejatinya alur sungai ini memiliki potensi dijadikan sarana angkutan batubara. Namun masalahnya kembali pada pendangkalan yang terjadi disepajang alur sungai.

Aliran Sungai Batanghari terus mengalami pendangkalan dengan volume lumpur yang menyebar di dasar sungai mencapai 20 juta meter kubik. Bahkan pendangkalan mencapai 20 juta meter kubik tersebut terjadi jika erosi yang terjadi di DAS tersebut per hektarnya mencapai 40 ton. Jika lebih dari 40 ton maka pendangkalan yang terjadi semakin besar.

Banyak hal yang menyebabkan pendangkalan di sungai itu. Salah satu yang sangat mempengaruhi yakni perubahan kontur alam. Dimana banyak hutan-hutan di daerah itu yang telah beralih fungsi menjadi pemukiman warga dan beralih menjadi perkebunan masyarakat. Hal tersebut memicu terjadinya erosi dan menyebabkan pendangkalan sungai yang panjangnya sekitar 800 km ini.

Selain itu, kemarau yang berkepanjangan turut mempengaruhi sungai itu dengan menyebabkan air Sungai Batanghari defisit. Musim kemarau ini berpengaruh terhadap debit air, karena daerah resapan air kurang menyebabkan mata air banyak yang mati, dan cadangan air tanah juga berkurang.

Tidak heran jika memasuki musim kemarau terdapat pasir-pasir membentuk pulau di Sungai Batanghari. Itu merupakan hasil pengendapan erosi dari hulu hingga hilir sungai. Jika pendangkalan terus terjadi dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Tidak hanya bagi manusia, namun bagi ekosistem yang hidup di sungai akan turut terancam. Selain itu, jika memasuki musim penghujan banjir akan mudah terjadi, karena sungai tak mampu menampung debit air yang cukup besar.

Dalam satu dekade terakhir, Provinsi Jambi memiliki persoalan dengan air. Sebab Sungai Batanghari yang ada di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini posisinya bukan lagi sebagai sumber air bersih, rumah habitat ikan tawar, dan jalur transportasi bagi masyarakat. Kini justru menjadi sumber penyakit dan persoalan.

BACA JUGA:  Kiprah Jurnalis Muslim di Era Digital

Sungai Batanghari berada pada status prioritas I, yang artinya kondisi kritis. Berdasarkan analisis kualitas air sungai Batanghari tahun 2016 diketahui bahwa nilai Biological Oxygen Demand (BOD) 18,08 mg/L dan Chemical Oxygen Demand (COD) 35,2 mg/L. Hasil dari analisa ini telah melampaui baku mutu yang ditetapkan yaitu BOD 3 mg/L dan COD 25 mg/L. Hasil tersebut juga menunjukkan sumber pencemaran terindikasi dari limbah industri dan limbah domestik.

Dengan kata lain, penanganan permasalahan Sungai Batanghari merupakan hal yang harus segera dilakukan. Misi ini harus dijadikan gerakan kolektif dan ihitiar bersama. Pemerintah Provinsi Jambi sudah saatnya melakukan penyelamatan DAS Batanghari dengan memangkas segala akar permasalahan.

Semburat Cahaya di Gelap Malam

Akhirnya, ada juga inisiatip keprihatinan yang muncul dari masyarakat. Bulan lalu lahir Yayasan Sahabat Sungai Batanghari (YSSB) yang membawa misi pelestarian dan mungkin juga pemberdayaan di Sungai Batanghari.

Mengutip percakapan Whatsapp (WA) salah seorang pengurusnya, Yayasan ini nanti akan memiliki banyak program, mulai dari Survey, Ekspidisi, Penelitian, Pemetaan, Prokasih, Penghijauan DAS. Yayasan ini juga akan kolaborasi dengan OPD, instansi, Kementerian/Lembaga, Perguruan Tinggi, BWSS, BP DAS, KLHK, PUPR, Kemenhub, NGO dalam dan luar negeri, lembaga funding, pemberdayaan masyarakat sekitar DAS, melalui kerja bersama terkoordinasi, fokus simultan. Pokoknya keren, menjadi semburat cahaya di gelapnya malam.

Sebuah tapak kecil untuk sebuah cita – cita yang besar, Yayasan ini melakukan kampanye cinta dan peduli sungai untuk anak – anak. Melihat, memandang, merasakan, memikirkan dan menilai Sungai Batanghari dalam perspektif anak – anak sang pewaris dan penerus masa depan.

Dimulai dengan menggelar perlombaan melukis bagi siswa SD se-Kota Jambi, pada Rabu (5/1/21) besok. Pemilihan tema “Mencintai Sungai Kita” dimaksudkan sebagai media penanaman karakter kepada para generasi muda untuk senantiasa mencintai dan menjaga kelestarian sungai sebagai bagian kehidupan masyarakat.

BACA JUGA:  Perjalanan Betuah (14)

Lebih dari itu, melalui lomba ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan kesadaran para siswa-siswi selaku generasi muda akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sungai sebagai bagian dari rasa cinta mereka terhadap lingkungan. Sebagai suatu ikhtiar, tentu upaya ini perlu kita apresiasi dan di dukung. Namun kesadaran masyarakat menjaga kebersihan sungai dan tepiannya dapat menjadi kunci sukses bagi kelestarian lingkungan Sungai Batanghari di masa depan.

Ada baiknya, ada langkah awal mendesak pemerintah mengevaluasi dan menghentikan perizinan industri di wilayah DAS yang tidak mengindahkan aspek keberlanjutan lingkungan hidup. Selain itu, diperlukan kesungguhan dan ketegasan pemerintah dalam menegakkan regulasi yang ada.

Permasalahan di Sungai Batanghari merupakan hal yang nyata, maka penanganannya pun harus dengan aksi nyata. Dari hulu hingga hilir. Bukan sebatas melukis sungai Batanghari. Akhirnya kita ingin yayasan ini tak mati suri, kita berharap semangat yang menyala untuk terus bersuara pentingnya kelestarian sungai Batanghari. Demi anak cucu kita mereka yang hari ini melukis sungai Batanghari.(*)

 

Oleh : Dr. Noviardi Ferzi

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :