26/05/2022

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Adhyra Pratama Irianto: Kritik Seni Berdasar “Rasa” adalah Kritik Tak Bertanggung Jawab

3 min read

Ilustrasi: https://materibelajar.co.id/

JAMBIDAILY JURNAL – Saat menyaksikan sebuah ajang pencarian bakat, salah seorang juri yang merupakan mantan istri dari pentolan band Dewa 19 Ahmad Dhani, Maia Estianti menyebut salah satu (karya) reproduksi seni yang dihasilkan salah satu konstestannya sebagai “karya yang indah”. Evaluasi estetis Maia Estianti tersebut disandarkan dengan pendapat yang simpel, “karena ketika kamu perform, “rasa”nya sampai ke hati saya”.

Tidak hanya Maia Estianti, tapi kebanyakan orang, bahkan dalam hal ini seniman, juga melakukan hal yang sama. Menilai, mengkritik, dan mengevaluasi sebuah karya seni bertopang pada intuisi.

Namun, evaluasi estetis apalagi kritik seni, sangat berbahaya bila hanya disandarkan pada “rasa”. Kritik seni atau mungkin berbentuk evaluasi estetis dari sebuah karya seni sangat dianjurkan tidak berdasar pada intuisi. Dengan kata lain, kritik seni tidak bisa didasarkan pada “rasa”. Kenapa seperti itu? Padahal sejak 20 abad silam, apresiasi karya seni selalu disandarkan pada intuisi dan “rasa”?

Menurut Martin Suryajaya, “rasa” adalah bentukan dari sosio-historis. Dengan demikian, “rasa” juga merupakan hasil dari konstruksi perdebatan estetis turun temurun. Hal itulah yang menyebabkan evaluasi estetis terhadap sebuah objek seni (objek estetis) tidak bisa disandarkan pada “rasa” yang subyektif serta lebih dalam kategori kesan personal.

Misalnya seperti ini, ketika seseorang membaca sebuah buku novel, ia mengatakan bahwa karya tersebut merupakan “karya yang monumental” tanpa berdasar analisis apapun. Ia hanya berkata bahwa karya itu indah, karena mengingatkan ia pada masa kecilnya. Atau, berhubungan (related) dengan kehidupannya. Kesan personal tersebut dijadikan pijakan bagi seseorang itu menuliskan kritik seni pada karya tersebut.

Namun, kritik seni yang berdasar dengan semilir perasaan, “saya merasa nostalgis dengan karya tersebut” atau mungkin “saya merinding setelah membaca karya tersebut” memang merupakan kesan personal yang setiap orang akan merasakan yang berbeda. Dengan demikian, menulis kritik seni berdasarkan “rasa” menjadi salah satu proses kerja yang tidak bertanggung jawab.

BACA JUGA:  Mengapa Alharis?

Kenapa? Karena semua analisisnya semu, hanya berdasarkan perasaan yang bersifat ephemeral. Tentunya, akan memicu perdebatan yang tak kunjung selesai.

Lalu bagaimana caranya menghindari kesan personal yang subyektif tersebut dalam membuat kritik seni?

  1. Beri jarak dulu antara Anda dengan karya yang dibaca. Apabila Anda masih dalam kungkungan keterpesonaan terhadap suatu karya, maka beri jeda dulu sebelum membuat, atau menulis kritik seni terhadap karya tersebut.
  2. Analisis dengan cara menempatkan karya pada teori (sejarah estetika) dan praktik (sejarah seni), dan gunakan “pisau bedah” yang tepat untuk membelah karya tersebut.
  3. Beri jarak pada pemikiran Anda, atau apa yang Anda percayai, dengan apa yang menjadi gagasan dari karya tersebut. Karena kalau tidak, Anda justru akan langsung memberikan penilaian buruk terhadap satu karya yang gagasannya kontra dengan pemikiran Anda.

Apakah dengan “menyingkirkan” intuisi dalam evaluasi karya seni akan menjadikan kritik seni kita lebih tepat, atau benar? Tidak juga, karena itu masih tergantung pada cara proses analisis dan evaluasi karya seni tersebut. Namun setidaknya, dengan “menyingkirkan” intuisi, maka kritik seni yang Anda buat akan menjadi lebih bertanggung jawab.

Selain itu perlu diingat bahwa tidak ada metode baku untuk kritik seni (berbasis estetika). Karena itu, saat Anda melakukan proses pembuatan kritik seni, sah-sah saja Anda mengikuti metode siapa saja, misalnya metode menulis kritik seni Feldman.

Apakah kritik seni hanya milik kritikus? Sebenarnya tidak tepat 100 persen. Karena Anda akan sulit untuk mengenali kualitas dari karya seni tertentu apabila hanya mengandalkan kritikus. Apalagi, jumlah kritikus seni di Indonesia tidak begitu banyak, dibandingkan dengan yang bukan kritikus tapi merasa kritikus.

BACA JUGA:  PENDIDIKAN NASIONAL YANG ISLAMI: Antara Tuntutan, Kebutuhan, Kenyataan dan Harapan

Karena itu, Anda bisa melakukan evaluasi estetis terhadap satu karya tertentu karena beberapa hal. Misalnya, Anda menjadi juri, atau mungkin untuk hal lainnya. Dan ingat, saat Anda duduk di meja juri, atau sedang menilai siswa, dan situasi yang mirip lainnya, maka Anda harus tahu bahwa ini merupakan waktu yang tepat untuk “menyingkirkan” intuisi atau “rasa” dalam menilai suatu karya seni.

 

….

Ditulis Oleh: Adhy Pratama Irianto. Seorang penulis, jurnalis, dramawan dan pemain musik -kelas menengah ke bawah-. Bekerja di salah satu media online wilayah Bengkulu dan juga sebagai instruktur Teater Petass di SMAN 1 Curup, Rejang Lebong. Aktor dan penulis naskah untuk Teater Senyawa.

Artikel ini telah terbit di pojokseni.com “Kritik Seni Berdasar “Rasa” adalah Kritik Tak Bertanggung Jawab” https://www.pojokseni.com/2021/03/kritik-seni-berdasar-rasa-adalah-kritik.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :