29/01/2023

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

D A U N  K E R I N G

7 min read

Ilustrasi/https://www.kampustani.com/

Karya Hendry Nursal

FADE IN

DITENGAH KESUNYIAN MALAM HANYA BERIRINGAN SUARA TETESAN AIR, TERLIHAT SEORANG MANUSIA YANG SEDANG BERJALAN PERLAHAN MEMIKUL SUATU BENDA BERAT LEBIH MIRIP KAYU BESAR DAN TERSERET. DIA SEPERTINYA SEDANG MENGALAMI SUATU MASALAH BESAR DALAM HIDUPNYA, SESEKALI MENUTUP TELINGA SEOLAH TERDENGAR SUARA NAMUN ITU MENYAKITKAN BAGINYA

Tolong menjauh dari pendengaran ku, tolong jangan lagi menangis di telinga ku, tolong menjauh! Aku tidak lagi ingin mendengarkan suara tangis bayi, aku jijik, aku merasakan sakit melebihi dari apapun! (berteriak dan terduduk)

 

DIA KEMBALI BERJALAN PERLAHAN DAN TERTATIH DI SUATU RUANGAN YANG HANYA TERDAPAT CERMIN DAN KURSI. DENGAN WAJAH YANG PENUH AMARAH, SESEKALI DIA JUGA MENUTUP TELINGA

Tadi aku sudah mengatakan, menjauhlah, berhentilah memenuhi isi kepala ku, berhentilah menangis di telinga ku. Berhenti, kau bunuh saja aku, akhiri saja hidup ku!!! (berteriak)

 

SEORANG MANUSIA ITU TERNYATA ADALAH PEREMPUAN BERAMBUT PANJANG, DIA KEMBALI BERDIRI, NAMUN DENGAN TERSENYUM MANIS, TERTAWA RIANG, MENERUSKAN LANGKAHNYA SECARA PERLAHAN. LAGI-LAGI DIA MENUTUP TELINGANYA

Sudahlah, tidakkah kau mengasihani ku, tidakkah kau lelah berputar-putar di kepala ku!!! (berteriak hingga menangis diiringi suara gemuruh yang besar dan hujan)

 

SEMBARI MENGUSAP AIR MATANYA, PERLAHAN-LAHAN HINGGA DIA KEMBALI TERSENYUM

Aku barusan kenapa ya, ini kenapa ada luka di tubuh ku? (berdiam diri sembari berpikir) mungkin kumat lagi. Biarlah sudah biasa aku mengalami hal seperti ini, mungkin sudah menjadi takdir, sudah menjadi jalan hidup hingga nanti tiada. Aku sebenarnya bosan, lelah, capek juga tapi semua orang pasti tidak menginginkannya. Semua manusia ingin terlahir normal, ingin terlahir sempurna sebagai manusia yang utuh. Memang aneh diri ku,? nanti dulu tidak ada yang aneh rasanya (bercermin), aku lumayan cantik. Berambut panjang, senyum ku manis, bentuk tubuh walaupun tidak bohay cukup menarik untuk dilihat. Lantas mengapa banyak pria tidak sanggup bertahan lama, tidak sanggup mengerti aku, (dengan amarah) mereka semua hanya sanggup menikmati tubuh ku tapi tidak dengan sikap ku! (terdiam sejenak dan kembali tersenyum).

Aku tidak boleh menyalahkan mereka, akulah yang salah. Ya salah menjadi aku yang seperti ini, menjadi aku yang? Aah sudahlah….kalau pas begini, Aku jadi teringat dengan seorang lelaki, dia telah memiliki istri dan anak, kami tidak memiliki hubungan ataupun pertalian darah, bukan saudara namun aku merasa memiliki saudara lelaki, abang. Dia selalu mengingatkan aku, untuk terus semangat, bersabar, dia selalu berusaha membantu ketika aku membutuhkan apapun, meskipun dia bukan orang yang berkecukupan, bukan orang kaya dan bergelimpang harta. Ada suatu masa, emosi ku tidak stabil, penuh amarah.

BACA JUGA:  L E M A R I (Sketsa) II

Tidak semua orang mau mendengar cerita kita, masalah kita. Tapi dia dengan tenang menghadapi ku, menasehati, terus menguatkan agar berpikir ke depan. Dia tak pernah capek menghadapi aku yang terkadang hilang timbul, terkadang ada kabar, terkadang begitu lama aku tak berkabar kepadanya. Tapi mengapa selama aku mengenalnya, selalu saja beberapa pria yang akan menjalin hubungan pacar pada akhirnya putus karena cemburu padanya.

Aku suka heran, kenapa harus cemburu dengan abang? Mereka sudah aku jelaskan berulang kali, bahwa di kota ini aku sendirian jauh dari kota kelahiran, jauh dari orang tua dan saudara ku. Hanya ada teman-teman perempuan yang peduli aku, dan abang ini. Dia menjadi tempat ku berkeluh kesah, tempat ku bertanya, dia paham betul bagaimana menghadapi aku! Menenangkan aku, lewat kata-kata. Kata-kata yang dia lontarkan, menjadi upaya terbaiknya meredakan, mencairkan suasana pikiran ku yang tak menentu. Kenapa harus cemburu dengan abang? Kami bahkan sangat jarang berjumpa, sangat jarang bercerita secara langsung, hanya melalui alat komunikasi! Kalian semua aneh. Oh ya, aku tidak boleh menyalahkan mereka, aku yang salah.

(berpikir) rasanya tidak salah, berteman dengan siapapun, di kota ini aku jauh dari keluarga, teman sekolah ku dulu, jauh dari teman sepermainan ku dan wajar juga jika aku dekat selain perempuan. Iya lelaki, tetapi kan sama abang ini aku tidak ada hubungan spesial, dia bagaikan abang untuk tempat ku berlindung, kalian saja yang tidak memahami, otak kalian yang rusak bangsat!!! (marah lalu mengenang masa lalu) Setelah melewati masa sekolah SMP yang rumit, Dulu aku punya teman, saat bersekolah setelah di kelas dua menengah atas atau SMA, namanya sebut saja Lena. Kami bersahabat, aku mendapat keluarga baru, dapat keluarga lain. Kami berdua bersahabat sangat dekat, luar dalam kami saling mengenal dan yang paling aku ingat, kami jualan Es Teh di pasar (tiba-tiba sedih) aku tak sanggup melanjutkan cerita ini.

 

KEMBALI TERDENGAR SUARA TANGISAN BAYI

Bayi siapa yang terus menangis di telinga ku!? bayi siapa? Diamkan dia, tolong diamkan dia, aku muak sudah mendengarnya! Kesalahan apa yang aku lakukan? Hukuman apa yang sedang aku terima atas tangis bayi itu? Aku terlahir dengan tangis yang tak diinginkan bahkan sejak dari kandungan, ya aku anak kedua dari empat bersaudara. Saat dewasa cerita mengejutkan aku ketahui akhirnya, saat ibu hamil, dia di vonis dokter menderita sipilis. Dia harus konsumsi obat yang tentunya pasti bakal berefek samping buat janin. Sampai-sampai saat lahir, perawat jijik melihat aku. Aku gerah, aku aku sakit hati saat ibu menceritakannya berulang-ulang.

BACA JUGA:  Pergelaran Teater Tonggak 'Lesung Luci' Menjadi Penutup Temu Teater Jambi 2022

Aku sungguh sakit hati, sakit hati ku semakin membesar, aku telah mendapati luka luar dalam, luka setelah bahkan sebelum aku lahir atas apa yang dijalani ibu. Tuhan andaikan aku bisa gantiin posisi Ibu! Ibu cerita panjang lebar tapi karena aku tak sanggup, aku selalu bilang “Sudah Ibu, aku tak sanggup!” dan itu sekilas seperti aku menyalahkan ibu, walaupun di dalam hati ku sadar ibu adalah korban dan aku juga korban. Aku selalu hentikan pembicaraan sambil marah “Sudah ibu!” Padahal aku yang tidak sanggup dengar cerita itu, aku menyagi mu ibu.

Ibu cerita karena aku juga yang menyebabkannya, Aku punya masalah dengan gigi, dokter bilang itu sejak dari masa kandungan. Lantas sejak itu aku korek-korek dari ibu gimana ceritanya aku sejak dalam kandungan? Tapi yang aku dapat cerita yang aku sendiri tidak mau bahkan tidak sanggup menerimanya.

Setelah 3 sampai 4 tahun dengar celotehan ibu yang saat hamil, aku sadar ini adalah karma. Waktu aku lahir entah berapa bulan usia ku, aku dititipkan ke nenek dan kakek. Tidak hanya aku tapi juga kakak, saat masuk ke taman kanak-kanak aku sama Ibu dan Ayah, sedangkan Kakak tetap sama kakek dan nenek. Barulah saat sekolah dasar kami tinggal bersama Orang tua. Aku masuk sekolah dasar bersamaan dengan kakak, situasi berjalan lancar. Ya lancar, menurut penilaian dan seingat aku. Ibu dan Ayah bekerja, aku bersama kakak dititipkan ke orang tapi kelakuan kami mencuri dan kakak mengajari aku caranya. Aku tidak mau menyalahkan kakak, karena bagi aku dia adalah kakak perempuan terbaik yang pernah ada, cara dia mengajari anak-anaknya, cara dia mengancamku. Dia adalah kakak terbaik yang pernah kumiliki dan aku sangat mencintainya.

Dari kecil aku tidak mendapatkan masa kecil yang penuh canda dan tawa, acapkali aku mendapat sesuatu, mendapat hukuman dari Ayah di luar nalar anak seumur ku saat itu. Aku ingat betul merasakan sendiri di lorong makan saos, duduk di depan teras rumah tidak pakai baju, jalan keliling komplek tidak pakai baju. Kalau tidak bisa selesaikan tugas dari sekolah ataupun tugas yang dia kasih, neraka kecil bagi aku dan kakak, terpaksa kami alami. Aku disuruh sundut rokok ke kakak ku atau sebaliknya. Pernah suatu saat lupa mematikan listrik mesin air, pulang dari bermain sampai di rumah, tangan aku ditempelin ke mesin air yang panas sampai melepuh (sembari sedih dan menangis).

Lalu aku tanpa sengaja, karena sedang bermain-main melangkahi perut ibu ku yang sedang hamil, aku hanyalah anak-anak tidak mengerti, hanyalah anak-anak yang tidak memahami itu salah. Lantas dia marah, aku dihukum kepala dibawah mirip orang sedang push up namun kaki keatas kayak stand up sampai darah mengalir dari hidung aku. Sampai sekarang aku mendapati akibat itu semua, aku kira sinusitis tapi gara-gara perlakuan dia belasan tahun lalu (berteriak) Aku salah apa! Sedikit kesalahan saja buat kami terluka batin, (marah) haruskah aku berkata kasar atas trauma sepanjang hidup ku, berkata makian pada dia yang aku sebut Ayah! (sembari menunduk) Aku malu akan apa yang terjadi sama keluarga ku. Aku tidak boleh menyalahkan mereka, akulah yang salah, kenapa aku terlahir ke dunia!

BACA JUGA:  L E M A R I (Sketsa) V

Belasan tahun aku lepas obat karena dukungan orang-orang disekeliling ku, orang-orang yang mengenal, orang lain, orang asing. Mereka seperti pohon akulah daunnya, mereka bukan keluarga ku, bukan saudara ku ketika aku coba menjauh? Aku tidak bisa mengontrol diri ku. Sementara untuk pulang ke rumah, trauma itu menjadi paling menakutkan (menghadap cermin) Kalau ini adalah karma, kenapa dulu engkau tega menghamili perempuan itu, perempuan lemah, perempuan yang juga terlahir tidak sempurna, perempuan yang harusnya kau lindungi. Dia bukan istri mu, engkau telah berbuat dosa! kenapa karma itu, dosa itu harus ku reguk saat ini, harus ke telan seumur hidup ku. Aku bagai daun yang gugur ke bumi sebelum mengering

(sembari menunjuk) Taukah engkau Aku sakit, sakit yang aku rasakan sejak aku terlahir. Tapi engkau selalu bilang penyakit ini dibuat-buat sendiri! Siapa yang mau sakit, siapa yang mau bergugur seperti daun kering. Engkau adalah pohon ku, mengapa menjadi angin? Siapa yang mau punya penyakit mental! (menangis)

 

SUARA TANGISAN BAYI

(melihat ke setiap cermin sembari berlari-lari) Ayah, aku anak mu! Aku anak mu! Aku anak mu! Aku anak mu! (ketakutan sembari melihat cermin) Sampai kapanpun aku ini adalah anak mu, mengalir darah mu di tubuh ku, aku dititipkan Tuhan kepada mu. Takkan pernah daun jatuh ke bumi menyimpan dendam pada angin yang bertiup. dengarkan aku, Aku ingin Pulang!

 

FADE OUT

 

T A M A T

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :