15 Juli 2024

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Cerpen Yanto bule “Kembang Telon”

4 min read

ilustrasi

Bagiku, Hari kamis pada setiap bulanya menjadi hari spesial, sebab di hari itu pasti ibuku selalu membuat bubur merah putih, lengkap dengan jajan pasar yang di beli ibuku, dan yang membuat makin spesial adalah di tengah tengah takir bubur merah putih yang di letakan di dalam tampah besar, selalu di sediakan kembang telon, atau kembang tiga jenis yang semuanya beraroma wangi.

Pas pukul 17.00 wib, ibuku usai sholat ashar pasti bersimpuh di kamar sembari berdoa, dan namaku pasti di sebutkan agar hidupku sukses, dan bermanfaat untuk orang banyak, selain itu doa ibuku yang terus di panjatkan agar aku tetap Sholeh serta patuh pada kedua orangtuanya.

Tiba habis sholat isya, bubur merah putih yang di buat dari beras dan kemudian di kasih gula merah, lalu di bagikan kepada adiku yang masih duduk di bangku SD.

” Ambilah bubur ini dan makan bareng dua adikmu ya nak”
“Baik Bu,” bergegas aku segera ambil tiga takir bubur dari tujuh takir yang buat ibuku, sambil berlari kecil aku masuk ke dalam kamar adiku.

Bergegas,aku bangunkan adiku yang lagi baring sambil belajar di kamarnya, ku buatkan sendok dari daun pisang untuk mempermudah makan bubur.

” Bubur dari mana kak”ujar Sahid adiku penuh rasa polos.
” Bubur yang buat ibu, makanlah, biar enak pake sendok ini ya” ucapku sambil menyodorkan daun pisang yang sudah ku lipat.
Dengan lahap dua takir bubur gurih dan manis, di habiskan adiku, daun bekas buburnya lalu di buang ke tempat sampah dekat rumah.

Kenangan kebersamaan ayah dan ibu, Yang tak pernah lupa membuat bubur merah putih untuk kami berdua, tidak ku temukan lagi, hanya kamar bisu dan kosong yang tertinggal di rumah peninggalan ayah dan ibuku yang tersisa.

Riuhnya adiku tak lagi ku dengar, saat ibuku pulang dari pasar sekedar belanja kebutuhan keluarga, bahkan suara serak ayah yang terlalu banyak merokok, tak lagi dapat ku dengarkan.

Belum lagi , saat ayah pasti akan marah jika nilai sekolahku jauh menurun, bahkan kemarahan ayah akan memuncak jika kami tidak mau pergi mengaji di rumah guru ngajiku haji Hanan, dengan tongkat saktinya ayah pasti langsung m mengacungkan ke arah kami setiap menjelang magrib, agar kami berdua segera berbenah untuk mandi dan pergi mengaji.

Ini tahun ke empat, setelah ayah dan ibuku meninggalkan kami berdua ,kembali ke haribaan Tuhan.

Ku gandeng tangan adiku menelusuri jalan menuju makam desa, di tangan kanan ku bawa bunga setaman serta air putih di dalam botol, untuk menyiram dan menaburi makam ayah dan ibuku usai kami berkirim doa.

Air bening di sudut mataku, mengalir tak terasa doa doa terkirim untuk keduanya, bunga setaman dan air ku siramkan di atas makam dan pusara ayah serta ibu,isakan lirih adiku Sahid terdengar lirih sembari berdoa dan memanggil nama ayah dan ibuku.

Perlahan ku usap bahu adiku, untuk menguatkan hatinya agar tidak lagi sedih, sebab kehilangan panutan dan kasih sayang ayah dan ibuku, perlahan aku ajak pulang adiku dengan menyusuri jalan setapak yang berada di makam desaku .

” Dik, kita tidak pernah lagi merasakan manis dan gurihnya bubur merah putih buatan ibu”
” Meskipun kita di tinggalkan hanya berdua, namun suri tauladan yang di tinggalkan ayah dan ibu menjadi contoh kita berdua, untuk hidup rukun dan menjaga martabat keluarga kita”
” Benar kak, kadang Sahid masih rindu petuah ayah saat mengajari pelajaran dari sekolah, teguhkan pada pendirian agar tidak mudah goyah saat di terpa masalah”
” Itulah petuah ayah untuk kita dik, jangan lupa doakan mereka agar terus mendapatkan pengampunan di sana dan di tempatkan di syurgaNYA”

Kini waktunya aku kembali ke pekerjaanku di kota, Walaupun terasa berat meninggalkan rumah penuh kenangan yang di tinggalkan ayah dan ibuku, tetapi aku harus melanjutkan kehidupan untuk membiayai adiku.

Tak terasa bahwa apa yang di ajarkan dan di contohkan ibuku, agar di setiap bulan di hari neptu kelahiran, ibuku selalu membuatkan bubur merah putih, ternyata sebagai penanda bahwa kelahiranku sangat di nantikan, selain itu dengan bubur merah putih di harapkan aku lebih kuat, dan sukses dalam kehidupanku.

Alunan suara orang mengaji, memenuhi rumah ayah dan ibuku, hari ini bukan menjadi hari kesedihanku, tapi alunan suara orang mengaji bersama sama mendoakan kelahiran anaku, tak lupa pula ku buatkan bubur merah putih,serta kembang telon yang di letakan di atas tampah besar, sebagai simbol rasa syukurku atas doa doa yang di kabulkan Tuhan oleh ibuku pada saat diriku kecil dulu.

Tangis kencang terdengar dari suara anakku, Badannya sehat,matanya sangat bening ,alisnya melengkung dan bulu matanya lentik mirip dengan ibuku.

Sanggar imaji, Pamenang 13 Oktober 2023

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 29 = 30