Antara Kepentingan Politik dan Profesionalisme Birokrasi
Oleh :Nazarman
JAMBI DAILY. COM-Beredar kabar pengunduran diri Sekda Merangin awal September mendatang membuat publik ramai berspekulasi: siapa yang paling layak menggantikan? Jabatan Sekda tidak sekadar posisi birokrasi tertinggi di daerah, tetapi juga persimpangan antara kepentingan politik dan kebutuhan teknokratis. Empat nama kini mencuat sebagai kandidat kuat: Zulhipni, Sukoso, Mashuri, dan Andrie Fransusman.
Zulhipni
Kepala Dinas PUPR Merangin ini punya modal politik besar. Ia berasal dari Sungai Manau, daerah yang sama dengan Bupati. Kedekatan ini makin solid dengan posisi adik kandungnya sebagai ketua partai pendukung Bupati saat pilkada. Dari sisi “chemistry politik”, Zulhipni jelas unggul. Namun, sorotan publik terhadap kinerja Dinas PUPR, terutama proyek-proyek yang sering bermasalah, bisa menjadi batu sandungan serius.
Sukoso
Nama Kepala Dinas Parpora ini muncul sebagai figur representatif. Sukoso dinilai mampu menjadi perwakilan tokoh Jawa di Merangin, sebuah aspek politik identitas yang tidak bisa diabaikan di level lokal. Namun, pertanyaan muncul: apakah pengalaman birokrasi yang ia miliki cukup kuat untuk mengendalikan koordinasi lintas OPD dalam skala besar?
Mashuri
Birokrat senior dan asli putra Luhak 16 ini kini menjabat Kepala BPKAD Merangin. Mashuri punya keunggulan ganda: kompetensi teknokrat yang paham anggaran sekaligus kedekatan emosional dengan Bupati, bahkan dengan Gubernur Jambi yang berasal dari daerah yang sama. Kombinasi ini membuat publik menilai Mashuri memiliki “tiket emas” untuk meraih kursi Sekda.
Andrie Fransusman, S.STP
Kepala DPMD Merangin sekaligus mantan Camat Bangko ini dikenal sebagai pekerja keras, berprestasi, dan kompeten. Rekam jejaknya menunjukkan kapasitas mumpuni dalam memimpin birokrasi. Sayangnya, posisinya yang relatif jauh dari hiruk pikuk politik bisa menjadi kelemahan. Dalam kontestasi jabatan Sekda yang sarat intrik dan kepentingan, ketiadaan “mesin politik” bisa mengurangi peluangnya, meskipun secara profesional ia sangat layak.
Menimbang Arah Pilihan
Kini bola ada di tangan Bupati. Apakah Sekda baru akan dipilih berdasarkan profesionalisme dan kapabilitas birokrasi, atau lebih pada pertimbangan politik dan representasi?
Jika yang diutamakan adalah loyalitas politik, Zulhipni bisa melaju kencang. Bila pertimbangannya representasi identitas, Sukoso bisa menjadi pilihan kompromi. Namun, bila Bupati ingin menegaskan arah teknokratis, maka Mashuri dan Andrie adalah figur yang paling logis.
Apapun hasil akhirnya, publik berharap Sekda yang baru bukan sekadar hasil tarik-menarik politik, melainkan sosok yang mampu menggerakkan birokrasi Merangin ke arah lebih solid, efisien, dan berorientasi pada pelayanan publik.(*)















