banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIK

Kado Istimewa Milad ke-69 Jambi 2026: Menjemput Fajar Kesejahteraan

×

Kado Istimewa Milad ke-69 Jambi 2026: Menjemput Fajar Kesejahteraan

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Oleh: Profesor Mukhtar Latif

A. Pendahuluan: Hilirisasi sebagai Tulang Punggung Transformasi Jambi

Di usia ke-69 Provinsi Jambi pada Januari 2026 ini, kita berdiri pada sebuah titik balik sejarah yang menentukan.

Kelimpahan Sumber Daya Alam (SDA) yang kita miliki tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai komoditas perdagangan mentah yang terjebak dalam “Paradoks Kelimpahan”.

Sebagaimana ditegaskan oleh Sachs (2021), geografi dan teknologi harus berpadu agar kekayaan alam tidak menjadi beban, melainkan modal institusional untuk kemajuan.

​Oleh karena itu, kita harus meneguhkan posisi Hilirisasi SDA sebagai tulang punggung (backbone) pembangunan.

Hilirisasi adalah instrumen krusial untuk memutus rantai ekonomi ekstraktif dan menggantinya dengan ekosistem nilai tambah yang berkelanjutan.

Ketika hilirisasi berjalan, ia akan berfungsi sebagai jantung yang memompa oksigen ke seluruh organ pembangunan: dari penciptaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, hingga peningkatan mutu sumber daya manusia di bidang pendidikan.

Ini adalah upaya membangun kedaulatan ekonomi rakyat yang resilien terhadap guncangan pasar global melalui integrasi ke dalam rantai pasok yang lebih bermartabat (Gereffi, 2023).

​B. Eskalasi Lapangan Kerja dan Pemutusan Rantai Kemiskinan Struktural

Hilirisasi yang berjalan efektif diproyeksikan mampu menjemput 200.000 tenaga kerja baru yang berawal di Jambi pada tahun 2026.

Menurut teori Multiplier Effect yang diperbarui oleh Jomo (2024), diversifikasi ekonomi di wilayah kaya sumber daya alam hanya akan berhasil jika industrialisasi hilir mampu menciptakan keterkaitan kerja yang luas di sektor jasa dan logistik pendukung.

​Dampak langsung dari ketersediaan lapangan kerja formal ini adalah penurunan angka kemiskinan yang ditargetkan mencapai 3%.

Zhang (2023) menekankan bahwa integrasi industri berbasis komoditas lokal adalah cara paling efektif untuk melakukan pengentasan kemiskinan struktural.

Hal ini diperkuat oleh pemikiran Piketty (2021) yang menyatakan bahwa distribusi kekayaan harus dimulai dari penciptaan akses pekerjaan yang layak, bukan sekadar bantuan sosial.

Kesejahteraan harus dirancang melalui sistem yang memungkinkan rakyat terlibat aktif dalam proses produksi manufaktur yang stabil.

​C. Kontribusi Hilirisasi terhadap Eskalasi Mutu Pendidikan

Salah satu poin paling krusial adalah bagaimana hilirisasi SDA berkontribusi langsung pada peningkatan mutu pendidikan.

Terdapat hubungan simbiosis signifikan antara pertumbuhan industri dan kualitas intelektual. Industri hilir memerlukan standar keahlian yang lebih tinggi, seperti operator mesin otomasi dan analis kimia, hingga bidang sosial ekonomi lainnya, sebagai efek bergulirnya hilirisasi yang menggairahkan masyarakat sebagai ekosistem lingkungannya.

Menurut Baldwin (2022), hilirisasi selain akan menuntut angkatan kerja secara langsung untuk memiliki kemampuan yang melampaui tugas rutin agar tidak terdisrupsi oleh robotika, juga akan menjadi peluang baru, bagi ikutan hilirisasi yang berkembang dalam masyarakat.

​Kebutuhan ini memaksa lembaga pendidikan di Jambi untuk merevitalisasi kurikulum secara radikal, baik yang terkait langsung dengan program hilirisasi maupun yang menopang sebagai pendukungnya. Menurut He et al. (2023), daerah yang melakukan transformasi digital pada sektor industrinya secara otomatis akan memicu peningkatan Human Capital Index melalui tuntutan inovasi konstan.

Selain itu, Mazzucato (2021) berargumen bahwa negara atau daerah harus memiliki “misi” besar, seperti hilirisasi untuk mengarahkan investasi pendidikan dan riset agar lebih aplikatif dan berdampak langsung pada kesejahteraan publik.

​D. Teori Kesejahteraan: Pemberdayaan SDA Menjadi Hilirisasi Produktif

Pembangunan Jambi 2026 bersandar pada teori kesejahteraan yang menempatkan pemberdayaan SDA sebagai basis hilirisasi produktif.

Hal ini sejalan dengan konsep “Smart Industrialization” dari Wang (2024), di mana kebijakan industri hijau di negara berkembang harus fokus pada efisiensi sumber daya untuk menciptakan output yang bernilai tinggi namun rendah emisi.

​Pemberdayaan SDA melalui hilirisasi berarti mengubah kekayaan statis menjadi aliran pendapatan dinamis.

Kekayaan alam yang dikelola dengan teknologi dan ilmu pengetahuan akan menghasilkan surplus ekonomi yang berkelanjutan.

Inilah yang oleh Schwab (2021) disebut sebagai Stakeholder Capitalism, di mana SDA dikelola untuk kemaslahatan seluruh pemangku kepentingan. Selain itu, Higgins (2021) menekankan bahwa sistem ekonomi yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika pertumbuhan ekonomi selaras dengan sistem kelestarian lingkungan dan sosial serta pemberdayaan sumber daya manusianya.

​E. Indikator Sejahtera: Perspektif Kapabilitas dan Kebutuhan Dasar

Kesejahteraan rakyat dalam visi ini diukur melalui indikator komprehensif yang diakui oleh para pakar dunia:

1. ​Mutu Pendidikan dan Akses Kesehatan: Mengacu pada pemutakhiran teori kapabilitas oleh Nussbaum (2021), kesejahteraan adalah tentang apa yang manusia “mampu lakukan”. Tanpa kesehatan dan pendidikan yang bermutu, kekayaan alam Jambi tidak akan memberikan kebebasan sejati bagi rakyatnya.

2. ​Lapangan Kerja dan Penurunan Kemiskinan: Rodrik (2024) menyatakan bahwa pekerjaan yang layak adalah pondasi demokrasi dan stabilitas ekonomi. Lapangan kerja dari hilirisasi adalah wujud nyata dari kedaulatan ekonomi rakyat.

3. ​Sarana Prasarana (Sapras) Masyarakat: Penyediaan Sapras yang berkualitas merupakan implementasi pembangunan inklusif. Menurut OECD (2023), investasi pada komoditas berkelanjutan harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur publik yang memudahkan akses ekonomi masyarakat kecil. Hal ini juga didukung oleh Brynjolfsson & McAfee (2021) yang menyatakan bahwa infrastruktur digital dan fisik adalah kunci untuk meraih kemakmuran di era mesin kedua. Untuk mencapai visi ini, Kaplinsky (2022) mengingatkan bahwa agenda aksi harus fokus pada ketahanan lokal agar kesejahteraan tidak mudah goyah oleh volatilitas global.

​F. Penutup: Manifesto Kedaulatan Jambi ke-69
​Tepat di hari jadi yang ke-69 ini, kita merayakan kebangkitan sebuah paradigma baru.

Hilirisasi SDA Jambi yang kita usung adalah tulang punggung yang kokoh, yang di atasnya kita tegakkan pilar-pilar pendidikan unggul, kesehatan prima, dan Sapras yang merata.

Ini adalah kado istimewa dari para pemikir untuk rakyat, bahwa Jambi tidak lagi sekadar menjadi sumber bahan mentah, tetapi menjadi pusat kemajuan yang berdaulat.

Jambi kedepan jangan lagi “capital flight dan SDM flight”, sehingga Jambi kehilangan uangnya dan orang-orang terbaiknya.

Selamat Milad ke-69 Provinsi Jambi. Bakti kita untuk negeri, kedaulatan untuk rakyat!

​Referensi:
1. ​Baldwin, R. (2022). The Globotics Upheaval: Globalization, Robotics, and the Future of Work. Oxford University Press.
2. ​Brynjolfsson, E., & McAfee, A. (2021). The Second Machine Age: Work, Progress, and Prosperity. W. W. Norton.
3. ​Gereffi, G. (2023). Global Value Chains and Development. Cambridge University Press.
4. ​Higgins, K. L. (2021). Economic Growth and Sustainability Systems. Routledge.
5. He, P., et al. (2023). “Digital Transformation and Supply Chain Resilience.” Journal of Cleaner Production (Q1).
6. ​Jomo, K. S. (2024). Economic Diversification in Resource-Rich Economies. Palgrave Macmillan.
7. ​Kaplinsky, R. (2022). Sustainable Futures: An Agenda for Action. Polity Press.
8. ​Mazzucato, M. (2021). Mission Economy: A Moonshot Guide to Changing Capitalism. Penguin Books.
9. ​Nussbaum, M. C. (2021). Creating Capabilities: The Human Development Approach. Belknap Press.
10. OECD. (2023). Perspectives on Global Development 2024. OECD Publishing.
11. ​Piketty, T. (2021). Time for Socialism: Dispatches from a World on Fire. Yale University Press.
12. ​Rodrik, D. (2024). The Globalization Paradox. Oxford University Press (Revised Ed.).
13. ​Sachs, J. D. (2021). The Ages of Globalization. Columbia University Press.
14. ​Schwab, K. (2021). Stakeholder Capitalism. Wiley.
15. Wang, L. (2024). “Industrial Policy and Green Growth.” World Development Journal.

Tinggalkan Balasan