banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIK

10 Persiapan Psikologi Memasuki Gerbang Ramadhan di Era Digital

×

10 Persiapan Psikologi Memasuki Gerbang Ramadhan di Era Digital

Sebarkan artikel ini

Oleh: Prof. Mukhtar Latif
(Ketua ICMI Orwil Jambi – Ketua MUI bidang PKU)

​A. Pendahuluan
​Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan momentum “detoksifikasi” total.

Di era digital, tantangan psikologis kian kompleks, perhatian kita terfragmentasi oleh notifikasi, dan batin seringkali lelah akibat perbandingan sosial di media sosial. Memasuki gerbang Ramadhan kali ini memerlukan kesiapan mental yang lebih taktis agar esensi ketakwaan tidak tergerus oleh distraksi layar.

Kita perlu menyadari bahwa teknologi seringkali menginterupsi dialog intim antara hamba dan Pencipta-Nya.

​B. Ontologi Ramadhan Perspektif Psikologi

Secara ontologis, Ramadhan adalah ruang transendental untuk menemukan kembali jati diri yang otentik.

Pargament (2021) dalam bukunya Spirituality and Mental Health menjelaskan bahwa praktik keagamaan yang terintegrasi berfungsi sebagai sistem koping yang tangguh terhadap stres modern.

Puasa bukan hanya ketiadaan asupan nutrisi, melainkan bentuk regulasi diri (self-regulation) untuk mengembalikan kendali jiwa atas impuls-impuls duniawi yang dipercepat oleh teknologi. Ramadhan mengembalikan eksistensi manusia dari makhluk “digital” menjadi makhluk “spiritual”.

​C. Berpuasa Ramadhan: Perspektif Psikologi Digital
​Menghadapi Ramadhan di tengah kepungan algoritma menuntut kita untuk memiliki “Literasi Spiritual Digital”.

Berikut adalah 10 persiapan psikologis dengan sandaran literatur ilmiah terbaru:

1. Niat sebagai Komitmen Kognitif: Mengatur ulang fokus mental bahwa ponsel adalah alat, bukan tuan. Miller (2021) dalam The Awakened Brain menekankan bahwa niat yang kuat secara neurobiologis mengaktifkan korteks parietal yang mendukung persepsi koneksi spiritual yang lebih dalam.

2.​ Digital Decluttering: Membersihkan daftar following dari konten yang memicu penyakit hati atau iri hati. Haidt (2024) dalam The Anxious Generation menyebutkan bahwa pengurangan stimulasi digital yang berlebihan adalah kunci untuk mengembalikan kesehatan mental.

3. Mindfulness dalam Beribadah: Melatih otak untuk hadir sepenuhnya (present) saat shalat. Tan (2022) dalam Mindfulness-Based Digital Therapy menyarankan penggunaan jeda sadar untuk memutus sirkuit ketergantungan pada layar gawai.

4. Manajemen Dopamin: Mengalihkan kepuasan instan dari media sosial ke kepuasan batin melalui ibadah. Lembke (2021) dalam buku Dopamine Nation menjelaskan bahwa “puasa dopamin” sangat efektif untuk memulihkan keseimbangan homeostasis jiwa.

5. ​Empati Digital: Menahan diri dari komentar negatif atau ghibah digital. Zaki (2020) dalam The War for Kindness menekankan bahwa empati di ruang digital memerlukan usaha kognitif yang lebih besar dan kesadaran penuh.

6. ​Validasi Internal: Berhenti mencari apresiasi manusia melalui unggahan kegiatan ibadah. Twenge (2023) dalam Generations mencatat bahwa ketergantungan pada validasi eksternal digital (likes/comments) merusak harga diri yang otentik.

7. Restorasi Kognitif: Menciptakan ruang tanpa gawai saat sahur dan berbuka. VanderWeele (2022) dalam Human Flourishing menyebutkan bahwa kualitas hubungan tatap muka tanpa distraksi adalah pilar utama kebahagiaan manusia.

8. ​Literasi Emosi: Mengelola rasa lapar bukan sebagai sumber kekesalan, melainkan kesadaran syukur. Brackett (2020) dalam Permission to Feel menjelaskan bahwa melabeli emosi dengan tepat dapat menurunkan reaktivitas stres.

9. Disiplin Batas Digital: Menentukan jam operasional gawai agar tidak mengganggu waktu-waktu mustajab. Newport (2021) dalam A World Without Email menekankan pentingnya batas komunikasi digital untuk menjaga fokus mendalam (deep devotion).

10. ​Resiliensi Spiritual: Menyiapkan mental untuk tetap istiqomah meskipun tren digital terus berubah. Southwick & Charney (2023) dalam Resilience menyatakan bahwa spiritualitas adalah faktor pelindung utama dalam menghadapi tekanan lingkungan.

​Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 183:

Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumus-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la’allakum tattaqūn.

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

​D. Puasa Ramadhan Berdampak di Era Digital: Perspektif Aksiologis

Secara aksiologis, nilai puasa terletak pada transformasi perilaku di ruang siber. Ramadhan hadir sebagai intervensi psikologis untuk memulihkan kesehatan mental (mental well-being).

Puasa digital menciptakan kejernihan berpikir (cognitive clarity). Rasulullah SAW bersabda:

Laisas-shiyamu minal akli was syarabi, innamas shiyamu minal laghwi war rafats.

“Puasa itu bukanlah sebatas menahan diri dari makan dan minum, melainkan puasa itu adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak No. 1570).

​E. Penutup
​Memasuki Ramadhan di era digital bukan berarti memusuhi teknologi, melainkan mendudukkannya kembali sebagai sarana, bukan pusat eksistensi. Dengan 10 persiapan psikologis di atas, kita akan mampu menjalankan ibadah dengan lebih berkualitas, tenang, dan mencapai derajat takwa yang hakiki di tengah riuhnya dunia digital.

​Referensi:
1. Brackett, M. (2020). Permission to Feel: Unlocking the Power of Emotions to Help Our Kids, Ourselves, and Our Society Thrive. New York: Celadon Books.
2. ​Haidt, J. (2024). The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness. New York: Penguin Press.
3. Lembke, A. (2021). Dopamine Nation: Finding Balance in the Age of Indulgence. New York: Dutton.
4. ​Miller, L. (2021). The Awakened Brain: The New Science of Spirituality and Our Quest for an Inspired Life. New York: Random House.
5. Newport, C. (2021). A World Without Email: Reimagining Work in an Age of Communication Overload. New York: Portfolio.
6. Pargament, K. I. (2021). Spirituality and Mental Health: A Handbook for the Helping Professions. New York: Routledge.
7. ​Southwick, S. M., & Charney, D. S. (2023). Resilience: The Science of Mastering Life’s Greatest Challenges (3rd Ed). Cambridge: Cambridge University Press.
8. Tan, C. M. (2022). Mindfulness-Based Digital Therapy. Switzerland: Springer.
9. Twenge, J. M. (2023). Generations: The Real Differences Between Gen Z, Millennials, Gen X, Boomers, and Silents. New York: Atria Books.
10. VanderWeele, T. J. (2022). Human Flourishing: Scientific Insight and Spiritual Wisdom. Oxford: Oxford University Press.
11. ​Zaki, J. (2020). The War for Kindness: Building Empathy in a Fractured World. New York: Crown.

Tinggalkan Balasan