banner 120x600
banner 120x600
EKBIS

Dialektika Tarhib dan Tahzib: Transformasi Qalb dan Ruh di Gerbang Ramadhan

×

Dialektika Tarhib dan Tahzib: Transformasi Qalb dan Ruh di Gerbang Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Prof. Mukhtar Latif
(Ketua ICMI Orwil Jambi – Ketua MUI bidang PKU)

​A. Pendahuluan
​Ramadhan bukan sekadar interupsi waktu dalam kalender masehi, melainkan sebuah dekonstruksi terhadap pola hidup manusia yang kian mekanistis. Di era digital, manusia modern seringkali mengalami keterasingan eksistensial (existential alienation); mereka terhubung dengan dunia namun terputus dari dirinya sendiri.

Memasuki gerbang Ramadhan tahun ini menuntut kita untuk melakukan rekayasa spiritual melalui dua pintu utama: Tarhib dan Tahzib. Keduanya bukan sekadar istilah seremonial, melainkan mekanisme pemulihan bagi Qalb (hati) dan Ruh yang telah lelah oleh kebisingan algoritma.

Tulisan ini bertujuan membedah relasi filosofis tersebut agar ibadah kita melampaui banalitas ritual dan menyentuh hakikat transformasi diri.

​B. Metafisika Tarhib: Lapangnya Hati Menuju Cahaya

Secara filosofis, Tarhib yang berarti melapangkan, adalah prasyarat bagi masuknya cahaya Ilahiah. Dalam tradisi tasawuf dan psikologi spiritual, hati (Qalb) digambarkan sebagai bejana.

Jika bejana tersebut penuh dengan residu duniawi dan keterikatan digital, maka tidak ada ruang bagi keberkahan Ramadhan. Tarhib adalah proses Kenosis, pengosongan diri dari ego agar Ruh dapat kembali bernapas dalam ruang yang luas.

​Hati yang sempit (dhayyiq) akibat stres digital dan kompetisi sosial tidak akan mampu menangkap esensi Ramadhan. Oleh karena itu, Tarhib berperan melapangkan dimensi batin manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar: 22:

Afaman syaraḥallāhu ṣadrahu lil-islami fahuwa ‘ala nurim mir rabbih.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?”

​Ayat ini menegaskan bahwa syarah (kelapangan) adalah kunci turunnya Nur (cahaya). Dalam konteks ini, 10 filosofi Tarhib Ramadhan berikut menjadi instrumen melapangkan hati:

1. Episteme Kesadaran Ramadhan: Menyadari Ramadhan sebagai subjek yang menyapa esensi kemanusiaan kita (Miller, 2021).

2. Metafisika Keheningan Ramadhan: Menciptakan “hening digital” agar suara nurani terdengar lebih nyaring (Newport, 2021).

3. Fenomenologi Kehadiran Ramadhan: Komitmen menghadirkan batin secara utuh dalam setiap rukuk dan sujud (Tan, 2022).

4. ​Ontologi Rasa Ramadhan: Merasakan lapar sebagai jembatan metafisika menuju empati sosial (VanderWeele, 2022).

5. ​Estetika Spiritual Ramadhan: Menemukan keindahan dalam kesahajaan, jauh dari jebakan visualitas medsos (Koenig, 2023).

6. Etika Keterhubungan Ramadhan: Melapangkan hati untuk memaafkan tanpa syarat di awal bulan suci (Zaki, 2020).

7. ​Logika Prioritas Ramadhan: Mendudukkan wahyu sebagai algoritma tertinggi dalam kehidupan (Pargament, 2021).

8. ​Teodisi Syukur Ramadhan: Menerima keterbatasan raga sebagai pengakuan atas kemutlakan Sang Pencipta (Southwick, 2023).

9. ​Eksistensialisme Ikhlas Ramadhan: Membebaskan niat dari penjara personal branding digital (Twenge, 2023).

10. Kosmologi Waktu Ramadhan: Menyelaraskan ritme biologis dengan waktu-waktu sakral yang ditetapkan Tuhan (Haidt, 2024).

​C. Filosofi Tahzib: Penyucian Ruh Melalui Kurasi Perilaku
​Jika Tarhib bekerja pada aspek kelapangan ruang hati, maka Tahzib bekerja pada aspek penyucian dan perbaikan kualitas Ruh. Tahzib adalah proses aktif menyaring polutan mental yang menghalangi kejernihan jiwa. Di era digital, polutan ini berupa informasi sampah, ghibah visual, dan kecanduan dopamin.

​Tahzib merupakan bentuk regulasi diri (self-regulation) yang sangat ketat. Tanpa penyaringan ini, puasa hanyalah perpindahan waktu makan. Rasulullah SAW memperingatkan hal ini dalam sebuah hadis:

Man lam yada’ qaulaz-zuri wal-‘amala bihi falaisa lillahi ḥajatun fī ay yada’a ta’amahu wa syarabahu.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak peduli (tidak butuh) dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari No. 1903).

​Berikut adalah 10 filosofi Tahzib Ramadhan sebagai upaya penyucian eksistensi:

1.​ Purifikasi Persepsi Ramadhan: Menyaring penglihatan dari konten digital yang mendegradasi moral jiwa (Haidt, 2024).

2. ​Asketisme Digital Ramadhan: Praktik zuhud dari hal-hal tidak bermanfaat (laghwi) di ruang siber (Lembke, 2021).

3. ​Kritik Akal Praktis Ramadhan: Membangun benteng intelektual agar tidak terjebak hoaks dan fitnah (Koenig, 2023).

4. ​Integritas Lisan Ramadhan: Menahan diri dari “perang urat syaraf” di kolom komentar media sosial (Zaki, 2020).

5. Transformasi Hasrat Ramadhan: Mengalihkan energi konsumtif menjadi energi kontemplatif dan berbagi (Lembke, 2021).

6. Reduksi Ego Ramadhan: Menundukkan kesombongan intelektual dan status digital dalam sujud (Twenge, 2023).

7. Keadilan Waktu Ramadhan: Menyeimbangkan hak gawai dengan hak Al-Qur’an secara proporsional (Newport, 2021).

8. ​Kontemplasi Malam Ramadhan: Memanfaatkan keheningan malam untuk dialog intim antara Ruh dan Pencipta (Miller, 2021).

9. ​Otentisitas Diri Ramadhan: Menjadi diri sendiri yang jujur, melepas topeng filter citra buatan (Brackett, 2020).

10. Teleologi Takwa Ramadhan: Mengarahkan seluruh aktivitas digital sebagai sarana menuju Tuhan (VanderWeele, 2022).

​D. Relasi Simbiotik: Hati, Ruh, dan Literasi Spiritual
​Hubungan antara Tarhib, Tahzib, Hati, dan Ruh adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan (integrated system). Hati adalah wadahnya, Tarhib adalah cara melapangkannya. Ruh adalah isinya, dan Tahzib adalah cara memurnikannya. Di era digital, literasi spiritual menjadi jembatan agar hati tidak mudah terdistraksi dan Ruh tidak mudah terpolusi.

​Secara aksiologis, keberhasilan Ramadhan diukur dari sejauh mana “puasa digital” kita berdampak pada ketenangan hati. Individu yang sukses melakukan Tarhib dan Tahzib akan memiliki Qalbun Salim (hati yang selamat), sebuah kondisi psikologis yang stabil, penuh syukur, dan terjaga dari penyakit-penyakit hati modern seperti FOMO (Fear of Missing Out) dan kecemasan berlebih.

​E. Penutup
​Ramadhan adalah undangan suci untuk pulang ke rumah kemanusiaan kita yang paling asli. Melalui dialektika Tarhib yang melapangkan hati dan Tahzib yang menyaring Ruh, kita tidak hanya sekadar menjalankan ritual, melainkan mengalami transformasi eksistensial.

Kita menyaring kebisingan dunia menjadi keheningan makna, dan mengubah distraksi layar menjadi koneksi cahaya. Dengan 20 poin persiapan filosofis ini, diharapkan kita mampu melewati pintu Ramadhan sebagai pribadi yang paripurna (Insan Kamil), yang tuntas dengan egonya dan sepenuhnya berserah kepada kehendak-Nya.

​Referensi:
1. ​Brackett, M. (2020). Permission to Feel. New York: Celadon Books.
2. ​Haidt, J. (2024). The Anxious Generation. New York: Penguin Press.
3. ​Koenig, H. G. (2023). Spirituality and Health Research. Pennsylvania: Templeton Press.
4. ​Lembke, A. (2021). Dopamine Nation. New York: Dutton..
5. ​Miller, L. (2021). The Awakened Brain. New York: Random House.
6. ​Newport, C. (2021). A World Without Email. New York: Portfolio.
7. ​Pargament, K. I. (2021). Spirituality and Mental Health. New York: Routledge.
8. ​Southwick, S. M., & Charney, D. S. (2023). Resilience. Cambridge: Cambridge University Press.
9. ​Twenge, J. M. (2023). Generations. New York: Atria Books.
10. VanderWeele, T. J. (2022). Human Flourishing. Oxford: Oxford University Press.
11. Zaki, J. (2020). The War for Kindness. New York: Crown.

Tinggalkan Balasan