Oleh: Nazarman
Tiga hari antrean mengular. Tiga hari kepanikan belum reda. Di depan kantor-kantor layanan Bank 9 Jambi, nasabah berdiri dengan satu tujuan: menarik uang mereka sebelum terlambat. Ini bukan sekadar reaksi spontan. Ini adalah sinyal keras bahwa kepercayaan sedang retak.
Isu pembobolan dana tidak bisa diperlakukan sebagai kasus kriminal biasa. Dalam dunia perbankan, satu celah kecil bisa melahirkan badai besar. Bank hidup dari trust. Begitu publik meragukan keamanan dana, stabilitas bisa terguncang bukan karena angka-angka di neraca, tetapi karena psikologi massa.
Pertanyaan mendasarnya: seberapa serius pembobolan itu? Berapa nilai kerugiannya? Apakah berdampak pada likuiditas? Atau justru yang lebih berbahaya adalah kegagalan manajemen dalam berkomunikasi?
Diam adalah kesalahan fatal dalam krisis kepercayaan. Ketika informasi resmi lambat, ruang publik akan diisi rumor. Dan rumor dalam sektor perbankan adalah api.
Di titik ini, manajemen tidak cukup hanya berkata “bank dalam kondisi aman”. Publik berhak atas data.
Transparansi bukan pilihan, melainkan kewajiban. Jika sistem pengawasan internal jebol, itu berarti ada problem tata kelola. Jika fraud bisa terjadi, maka ada pengendalian yang lemah. Bank daerah bukan lembaga privat biasa. Ia mengelola dana masyarakat dan seringkali juga dana pemerintah daerah. Standarnya harus lebih tinggi.
Peran Otoritas Jasa Keuangan tidak boleh setengah hati. Pernyataan normatif tidak cukup. Publik membutuhkan kepastian tentang tingkat kesehatan bank. Demikian pula jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan harus ditegaskan secara konkret agar tidak ada spekulasi liar.
Yang perlu diingat, kolaps sebuah bank sering kali bukan dimulai dari kerugian, tetapi dari hilangnya kepercayaan.
Rush money adalah efek domino. Jika tidak ditangani cepat dan terbuka, kepanikan bisa menciptakan krisis yang sebenarnya bisa dicegah.
Editorial ini tidak bermaksud memperkeruh suasana. Justru sebaliknya. Kepanikan publik adalah alarm keras bagi manajemen dan regulator untuk bertindak tegas dan transparan. Jangan tunggu antrean makin panjang. Jangan tunggu kepercayaan benar-benar runtuh.
Karena ketika kepercayaan hancur, yang dipulihkan bukan hanya sistem keuangan, tetapi reputasi yang mungkin tak pernah kembali utuh.***















