JAMBIDAILY.COM — Hampir enam tahun lamanya ia datang dan pulang dari kantor yang sama. Menjalankan tugas seperti pegawai lainnya, membantu pekerjaan di dinas, dan berharap suatu hari pengabdian itu berujung pada kepastian. Namun harapan itu kini terasa semakin jauh.
HK, seorang tenaga honorer di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Merangin, mengaku kini harus menerima kenyataan pahit tidak lagi bekerja di dinas tersebut. Ia sebelumnya pernah mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) beberapa waktu lalu, namun tidak berhasil lolos dalam seleksi tersebut.
Padahal, namanya telah masuk dalam database tenaga honorer pemerintah sebuah status yang sempat memberi harapan bahwa suatu hari ia bisa diangkat melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Namun kenyataan berkata lain.
Kini HK tidak lagi bekerja di dinas tempatnya mengabdi selama bertahun-tahun. Kesempatan mengikuti seleksi PPPK pun, menurutnya, tidak lagi terbuka.
“Nasib kami honorer yang sudah masuk database tapi ikut seleksi CPNS tidak lulus ini bagaimana? Sekarang saya tidak kerja lagi di PU, padahal sudah masuk database dan hampir enam tahun bekerja di PU,” ujarnya dengan nada kecewa.
Bagi tenaga honorer seperti dirinya, masa-masa bekerja selama ini bukan sekadar rutinitas. Ada harapan yang perlahan tumbuh dari tahun ke tahun harapan bahwa suatu saat pengabdian itu akan berujung pada status yang lebih pasti.
Setiap kali pemerintah membuka seleksi aparatur sipil negara, harapan itu kembali muncul. Namun ketika hasil seleksi diumumkan dan namanya tidak tercantum, harapan itu kembali runtuh.
Yang tersisa kini hanya kenangan bertahun-tahun bekerja di kantor yang sama serta pertanyaan tentang masa depan yang belum jelas arahnya.
Kebijakan penataan tenaga honorer sendiri selama ini diarahkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi bersama Badan Kepegawaian Negara, dengan skema pengangkatan melalui PPPK bagi tenaga non-ASN yang telah terdata.
Namun bagi sebagian honorer di daerah, proses penataan itu belum sepenuhnya menjawab kegelisahan mereka.
Sebab di balik setiap data honorer yang tercatat, ada orang-orang yang telah bertahun-tahun bekerja dengan harapan sederhana: suatu hari pengabdian mereka diakui dan masa depan mereka menjadi lebih pasti.(Nzr)















