banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIK

Meraih Kemenangan Sejati: Kembali Fitrah & La’alakum Tattaqun

×

Meraih Kemenangan Sejati: Kembali Fitrah & La’alakum Tattaqun

Sebarkan artikel ini

Oleh: Prof. Mukhtar Latif

(Ketua MUI bidang PKU – Ketua ICMI Orwil Jambi)

A. Pendahuluan

​Kemenangan dalam diskursus Islam sering kali terjebak pada euforia lahiriah semata. Namun, jika kita menyelami Kimiya-yi Sa’adat (Kimia Kebahagiaan) karya Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111), kemenangan sejati adalah keberhasilan jiwa melepaskan diri dari belenggu al-nafs al-ammarah (nafsu yang memerintah pada keburukan). Secara teologis, kemenangan adalah pencapaian al-falah, sebuah kondisi di mana seorang hamba berhasil menyelaraskan kehendak bebasnya dengan kehendak Ilahi. Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Qutb (1906-1966) dalam Ma’alim fi al-Tariq, eksistensi manusia adalah perjuangan untuk memerdekakan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan mutlak kepada Allah semata. Kemenangan Idul Fitri, dengan demikian, bukanlah sebuah titik henti, melainkan momentum akselerasi ruhani untuk mencapai kesucian yang fitri.

​Hal ini sejalan dengan firman-Nya, QS. Al-Syams ayat 9:

“Qad aflaha man zakkāhā.” (Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu).

Kemenangan ini menuntut transformasi total dari insan madani menuju insan kamil, sebuah proses panjang yang dimulai dari meja makan Ramadhan hingga ke kedalaman palung hati yang paling sunyi. Tanpa penyucian jiwa, hari raya hanyalah pergantian pakaian, bukan pergantian keadaan.

B. Kisah Sedih Sufi yang Gagal dan Menyesal Tidak Meraih Kemenangan

​Dalam kitab Minhajul ‘Abidin, Imam Al-Ghazali memaparkan sebuah narasi yang sangat emosional tentang seorang ‘abid (ahli ibadah) yang menghabiskan puluhan tahun dalam sujud dan puasa. Di malam Idul Fitri, ketika orang-orang bertakbir dengan penuh kegembiraan, sufi ini justru ditemukan bersimpuh di sudut masjid dengan tangis yang menyayat hati. Ia tidak meratapi kemiskinannya, melainkan meratapi tiga kerugian besar yang menghancurkan seluruh bangunan ibadahnya:

1. ​Kerugian Pertama: Al-’Amal bila Rūh (Amal Tanpa Ruh). Ia menyadari bahwa selama ini ia hanya “berolahraga” saat salat dan “berdiet” saat puasa. Hatinya tidak pernah benar-benar hadir (hudhūr) di hadapan-Nya. Ia merasa seperti membawa sebuah kotak perhiasan yang indah di hadapan raja, namun saat dibuka, kotak itu kosong melompong. Ia telah kehilangan substansi dari ibadah itu sendiri.

2. ​Kerugian Kedua: Al-Ghurur bi al-Thā’ah (Tertipu oleh Ketaatan). Ia merasa bangga dengan banyaknya zikir yang diucapkannya, namun lidahnya yang basah dengan zikir itu pula yang kering saat harus memaafkan saudaranya. Ia merasa lebih mulia dari orang yang tertidur, padahal kesombongan itu telah menghanguskan seluruh pahalanya seperti api memakan kayu bakar.

3. Kerugian Ketiga: Fawātu al-Qabūl (Kehilangan Penerimaan). Ketakutan terbesarnya adalah kenyataan bahwa Allah berpaling darinya. Ia membayangkan bagaimana seluruh sujudnya dilemparkan kembali ke wajahnya karena ada setitik riya’ di sudut batinnya.

​Dalam keputusasaan itu, ia teringat akan sebuah Hadis Qudsi yang sangat menggetarkan jiwa:

“Ana Aghna al-syurakā’i ‘ani al-syirk, man ‘amila ‘amalan asyraka fīhi ma’ī ghayrī, taraktuhu wa syirkahu.”” (Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amal lalu dia menyekutukan Aku dengan selain Aku dalam amal tersebut, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya itu.” (HR. Muslim).

​Betapa pedih perasaan seorang hamba ketika ia menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang menyembah Tuhan, melainkan sedang menyembah “pencitraan” dirinya sendiri di mata manusia. Penyesalan ini menjadi cermin bagi kita semua: apakah takbir yang kita kumandangkan adalah ungkapan kemenangan, ataukah sekadar upaya menutupi kekalahan telak di hadapan nafsu kita sendiri?C. Makna Kemenangan Menurut Mufasirin dan Para Sufi

​Para ahli tafsir dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azhim karya Ibnu Katsir (1301-1373) menekankan bahwa kemenangan sejati (al-fauz al-’azhim) senantiasa dikaitkan dengan keselamatan dari api neraka dan keridaan Allah. ​QS. Ali Imran ayat 185:

“Faman zuhziha ‘anin-nāri wa udkhilal-jannata faqad fāza.

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh, ia telah menang.”

​Bagi mufasirin, kemenangan bersifat eskatologis, hasilnya terlihat nyata di akhirat. Namun, secara lebih esoteris, dalam Sirr al-Asrar, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (1077-1166) memaknai kemenangan sebagai “kematian” ego sebelum kematian fisik (mutu qabla an tamutu). Menang berarti hati tidak lagi menoleh kepada selain Allah (ghayrullah). Kemenangan adalah ketika seorang hamba merasakan halawat al-iman (manisnya iman) yang melampaui segala kenikmatan indrawi. Bagi kaum sufi, kemenangan adalah sebuah “pembukaan” (al-fath) di mana tabir antara hamba dan Sang Khalik mulai tersingkap, memungkinkan jiwa untuk memandang kebenaran tanpa hijab.

D. ‘Idul Fitri: Makna dan Hakikat

​Hakikat ‘Idul Fitri adalah al-ruju’ ila al-ashl (kembali ke asal-usul kejadian yang suci). Namun, dalam kitab Al-Ghunyah, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani menyebutkan bahwa para kekasih Allah menyambut Idul Fitri dengan tiga macam “jeritan” batin:

1. ​Sarkhatul Firāq (Jeritan Perpisahan): Tangisan pilu karena berpisah dengan atmosfer rahmah dan maghfirah khusus di bulan Ramadhan. Mereka merasa kehilangan tamu agung yang membawa keberkahan berlipat ganda. Bagi mereka, berlalunya Ramadhan adalah hilangnya musim semi ruhani

2. Sarkhatul Khawf (Jeritan Ketakutan): Sebagaimana ditulis Imam Al-Qushayri (986-1072) dalam Al-Risalah, kaum sufi selalu berada di antara khawf (takut) dan raja’ (harap). Mereka menjerit karena tidak tahu apakah amalnya maqbul (diterima) atau justru mardud (tertolak) karena adanya noda-noda batin yang tidak disadari.

3. ​Sarkhatul Taqshīr (Jeritan Kelalaian): Penyesalan atas waktu-waktu yang tidak digunakan untuk muraqabah (merasa diawasi Tuhan) secara intensif. Sebagaimana firman Allah: ​QS. Al-Mu’minun ayat 60.

“Wallażīna yu’tūna mā ātau wa qulūbuhum wajilah.”

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka).”

4. ​Sufi besar Imam Al-Qushayri menjelaskan bahwa rasa takut ini bukanlah tanda keputusasaan, melainkan tanda hidupnya iman dalam jiwa yang benar-benar mendambakan kedekatan dengan Allah.

E. Kemenangan Sejati: Derajat La’allakum Tattaqun

1. ​Capaian tertinggi dari seluruh rangkaian ibadah adalah ketakwaan yang integratif. Syeikh Mutawalli al-Sya’rawi (1911-1998) dalam tafsirnya menjelaskan takwa sebagai benteng pelindung batin (al-wiqāyah). Terdapat 5 ciri kemenangan derajat ini.

​2. Al-Wara’: Kehati-hatian yang sangat dalam setiap tindakan agar tidak terjerumus pada hal yang syubhat (meragukan) apalagi yang haram. Ini adalah filter pertama dalam kehidupan pasca-Ramadhan.

3. Al-Shabr al-Jamil: Kesabaran yang indah dalam menghadapi dinamika kehidupan tanpa mengeluh kepada makhluk. Sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menerima takdir.

4. ​Al-Tawakkul: Penyerahan diri total setelah melakukan ikhtiar maksimal (badzlul juhdi). Seorang yang menang tidak lagi cemas akan rezekinya karena ia tahu Sang Pemberi Rezeki tidak pernah tidur.

5. ​Al-Ikhlāsh: Melakukan segala sesuatu murni demi Wajhullah (Wajah Allah), tanpa sedikit pun mengharap pujian atau pengakuan dari manusia.

6. Al-Dzikr al-Daim: Hati yang senantiasa tersambung dengan Tuhan (hudhurul qalb) meski raga sedang sibuk dengan urusan duniawi yang bising.

Kemenangan puncak dari semuanya, adalah “la’alakum tattaqun. Rasulullah menegaskan letak inti dari kemenangan ini, HR. Muslim.

“Attaqwā hāhunā (wayusyīru ilā shadrih). “Takwa itu ada di sini (seraya menunjuk ke dadanya tiga kali).”

​F. Merawat Kemenangan Idul Fitri

​Dalam Al-Risalah al-Qushayriyyah, dijelaskan bahwa merawat spiritualitas memerlukan strategi yang sistematis agar api iman tidak padam tertiup angin duniawi:

1. ​Mujahadatun Nafs: Melakukan peperangan berkelanjutan melawan kecenderungan negatif jiwa. Kemenangan akan sirna jika disiplin diri (riyadhah) dihentikan begitu saja setelah Syawal tiba.

2. ​Mushahabatun Shālihīn: Sebagaimana ditekankan Ibnu ‘Atha’illah (1259-1309) dalam Al-Hikam, “Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu menuju Allah.” Lingkungan yang saleh adalah pelindung karakter fitrah.

3. ​Al-Muhasabah al-Layliyyah: Melakukan evaluasi diri secara jujur setiap malam. Mengutip Imam Al-Ghazali, “Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi.​ HR. Al-Bukhari.

“Ahabbal a’māli ilallāhi adwamuhā wa in qalla. “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu (istiqamah) meskipun sedikit.”

​G. Karakter Kembali Fitrah

1. ​Seseorang yang berhasil meraih kembali al-fitrah (potensi suci) menurut Ibnu Arabi (1165-1240) dalam Fusus al-Hikam akan memancarkan lima karakter utama:

2. ​Al-Nuraniyyah: Batinnya memancarkan cahaya ketenangan yang berdampak pada keteduhan sikap lahiriah. Pandangannya penuh dengan cahaya Allah (bi nūrillāh).

3. Al-Rahmah: Menjadi sumber kasih sayang bagi alam semesta, tidak lagi memiliki ruang di hatinya untuk menyimpan kebencian atau dendam pada sesama makhluk.

4. Al-Istiqāmah: Teguh dalam prinsip kebenaran meskipun badai godaan duniawi menerpa. Ia laksana gunung yang kokoh di tengah badai.

5. Al-Salāmah: Memiliki hati yang selamat (qalbun salim) dari penyakit-penyakit ruhani seperti sombong, kikir, dan merasa paling benar.

6. ​Al-’Ubudiyyah: Menyadari sepenuhnya posisi sebagai hamba yang fakir dan mutlak membutuhkan pertolongan Sang Pencipta di setiap tarikan napasnya.

firman Allah mengenai kesucian asal manusia, QS. Ar-Rum ayat 30

“Fiṭratallāhillaṭī faṭaran-nasa ‘alaiha. (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.

H. Penutup

1. ​Kemenangan bukanlah sebuah trofi yang statis, melainkan sebuah kondisi dinamis yang harus diperjuangkan setiap waktu. Seperti yang dikatakan oleh Syeikh Said Ramadan al-Buthi (1929-2013) dalam Fiqh al-Sirah, tujuan dari seluruh rangkaian syariat adalah tazkiyatun nufus (pembersihan jiwa). Kemenangan sejati adalah saat kita mampu mempertahankan karakter “Ramadhan” di luar bulan Ramadhan.

2. ​Rasulullah mengingatkan kita untuk tetap waspada hingga akhir hayat: ​HR. Al-Bukhari.

“Innamal a’mālu bil khawātīm. “Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada akhirnya (penutupnya).

3. Idul Fitri bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan garis start yang baru untuk membuktikan bahwa puasa kita telah melahirkan jiwa yang baru—jiwa yang bertaqwa, jiwa yang fitri, dan jiwa yang senantiasa rindu pada Tuhannya.

++++++++++

​Referensi:

1 ​Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin & Minhajul ‘Abidin & Kimiya-yi Sa’adat.

2. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-’Azhim.

3. ​Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam.

4. ​Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq & Sirr al-Asrar.

5. ​Imam Al-Qushayri, Al-Risalah al-Qushayriyyah.

6. ​Sayyid Qutb, Ma’alim fi al-Tariq & Fi Zhilal al-Qur’an.

7. ​Syeikh Mutawalli al-Sya’rawi, Tafsir al-Sya’rawi.

8. ​Syeikh Said Ramadan al-Buthi, Fiqh al-Sirah & Kubra al-Yaqiniyyat.

9. ​Ibnu Arabi, Fusus al-Hikam.

10. ​Imam Al-Nawawi, Riyadhus Shalihin.

Tinggalkan Balasan