banner 120x600
banner 120x600
RAGAM

Sehelai Batik, Seribu Harapan: Perjuangan Ibu PERSIT Menggerakkan Ekonomi Jambi

×

Sehelai Batik, Seribu Harapan: Perjuangan Ibu PERSIT Menggerakkan Ekonomi Jambi

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

JAMBIDAILY.COM-Di balik selembar kain batik, tersimpan cerita panjang tentang budaya, ketekunan, dan harapan.

Batik Jambi bukan sekadar kain bermotif indah, melainkan identitas budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Lebih dari itu, batik kini menjelma menjadi penggerak ekonomi, khususnya melalui peran pelaku UMKM yang terus menjaga warisan leluhur tetap hidup.

Batik Jambi dikenal dengan ciri khas motif yang sarat makna dan filosofi. Motif seperti Angso Duo, Durian Pecah, hingga Batanghari menggambarkan kekayaan alam serta kearifan lokal masyarakat Melayu Jambi.

Penggunaan pewarna alami dari kayu sepang dan kayu ramelang semakin mempertegas keunikan batik Jambi dibandingkan batik dari daerah lain di Indonesia.

Sejarah mencatat, batik Jambi telah ada sejak abad ke-7 pada masa Kesultanan Melayu Jambi.

Dahulu, batik hanya digunakan oleh kalangan bangsawan sebagai simbol status sosial.

Namun seiring waktu, batik berkembang menjadi milik seluruh lapisan masyarakat.

Meski sempat mengalami kemunduran pada masa penjajahan Belanda, semangat untuk menghidupkan kembali batik Jambi bangkit pada era 1980-an melalui pembinaan pemerintah kepada masyarakat.

Kini, geliat batik Jambi kembali terasa, terutama di kawasan Seberang Kota Jambi yang dikenal sebagai sentra produksi batik. Di sinilah para pengrajin, sebagian besar ibu rumah tangga, berjuang menggerakkan ekonomi keluarga melalui usaha kreatif berbasis budaya.

Salah satu sosok inspiratif tersebut adalah Ruslaini, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIII Kodim 0415/Jambi. Perjalanannya dalam dunia batik dimulai sejak awal tahun 1990-an. Berawal dari melihat sang ibunda membatik, ia mulai belajar secara sederhana dengan membuat sapu tangan. Ketekunan dan kesabarannya membuahkan hasil.

Dari sekadar mencoba, ia kemudian mampu membatik pada kain yang lebih besar seperti selendang hingga berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Perjalanan Ruslaini menjadi bukti bahwa keterampilan tradisional dapat menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.

Melalui usaha batik, ia tidak hanya membantu perekonomian keluarga, tetapi juga turut melestarikan budaya daerah.

Peran ini menjadi semakin penting di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus nilai-nilai tradisional.

Pengembangan batik Jambi sebagai penunjang ekonomi tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan, baik oleh masyarakat maupun pemerintah.

Sentra kerajinan di Seberang Kota Jambi menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif yang terus berkembang.

Para pengrajin juga mulai melakukan diversifikasi produk, tidak hanya berupa kain, tetapi juga pakaian jadi, aksesoris, hingga dekorasi rumah.

Selain itu, promosi melalui pameran dan event budaya turut membuka peluang pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini memberikan harapan besar bahwa batik Jambi mampu bersaing di pasar global tanpa kehilangan jati dirinya.

Peran perempuan, khususnya anggota Persit, menjadi bagian penting dalam penguatan ekonomi berbasis keluarga dan budaya. Dengan semangat kemandirian, mereka mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus penjaga warisan budaya bangsa.

Batik Jambi bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Di tangan para pengrajin seperti Ruslaini, batik terus hidup, berkembang, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sehelai batik bukan sekadar kain, melainkan simbol perjuangan, identitas, dan harapan untuk kesejahteraan yang lebih baik. (Red)

Profil Diri :
Nama : Ruslaini
Anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIII Kodim 0415 Koorcab Rem 042 PD XX/Tuanku Imam Bonjol
Istri dari : Serda M. Fadli
Jabatan : Babinsa
Kesatuan : Kodim 0415/Jambi.

Tinggalkan Balasan