JAMBIDAILY — Di tengah hiruk-pikuk pameran Persit Bisa 2026, batik Jambi tampil dengan narasi yang tak sekadar estetika. Lewat tangan Ruslaini Fadli, kain tradisional itu hadir sebagai representasi identitas daerah—tenang, namun tegas menyuarakan asal-usulnya.Tidak ada yang berlebihan dalam pendekatan yang ia bawa. Motif-motif klasik seperti Durian Pecah, Kapal Sanggat, hingga Tampuk Manggis diracik ulang dengan sentuhan kontemporer. Warna-warna alami yang dihasilkan dari bahan seperti kulit soga dan daun mengkudu memperkuat kesan membumi—seolah mengikat kembali batik pada akar ekologisnya.
Bagi Ruslaini, batik bukan sekadar komoditas. Ia adalah medium cerita. Setiap goresan lilin menyimpan filosofi: tentang kemakmuran, perjalanan hidup, hingga kerendahan hati. Narasi itu bahkan dituliskan secara eksplisit melalui label kecil di tiap kain—upaya sederhana agar makna tak hilang di tengah komersialisasi.
Dukungan dari Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIII Kodim 0415/Jambi menjadi salah satu faktor penguat. Pembinaan yang dilakukan—dari pelatihan desain hingga pemasaran digital—mendorong batik Jambi keluar dari ruang lokal menuju pasar yang lebih luas.
Sekitar 30 karya dibawa ke Jakarta. Tidak hanya kain panjang, tetapi juga busana modern seperti outer yang lebih adaptif dengan gaya urban. Sebuah strategi yang tampak sadar: menjaga tradisi tanpa menolak perubahan.
Di balik setiap lembar batik, tersimpan proses panjang yang menuntut ketelatenan. Dari menggambar pola, mencanting, hingga pewarnaan berulang, semuanya dilakukan dengan disiplin tinggi.
Di situlah nilai batik tidak hanya diukur dari hasil akhir, tetapi dari proses yang menjadikannya hidup.Keikutsertaan ini menegaskan satu hal: batik Jambi tidak lagi berdiri di pinggiran. Ia mulai menempatkan diri di panggung nasional—membawa cerita dari tepian Sungai Batanghari menuju ruang-ruang apresiasi yang lebih luas.
Langkahnya mungkin masih bertahap. Namun arah yang dituju terlihat jelas—dari sekadar dikenal, menuju diakui. (Red)














