Oleh : Dr Noviardi Ferzi (Akademisi dan Pengamat Ekonomi Jambi)
Tahun 2026 baru saja dimulai, bahkan kalender masih ditandai warna merah libur awal tahun. Namun optimisme terhadap pasar modal Indonesia sudah terasa sejak hari-hari pertama. Modal optimisme itu bukan lahir dari euforia, melainkan dari fondasi kinerja kuat yang dibangun sepanjang 2025.
Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 22,10 persen hingga menutup tahun di level 8.644,26 mencerminkan ekspansi pasar yang solid sekaligus kepercayaan investor yang tinggi. Namun pada saat yang sama, capaian ini juga menjadi penanda bahwa ruang pertumbuhan ke depan tidak lagi ditopang oleh sentimen semata, melainkan oleh kinerja riil emiten.
Hal ini sejalan dengan lonjakan kapitalisasi pasar yang mencapai Rp15.810 triliun atau tumbuh 28,16 persen secara tahunan, menegaskan semakin strategisnya peran pasar modal dalam menopang pembiayaan ekonomi nasional.
Kedalaman pasar juga semakin nyata. Rasio kapitalisasi pasar terhadap Produk Domestik Bruto yang telah mencapai 71,41 persen menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia telah memasuki fase transisi menuju emerging market yang lebih matang. Pasar tidak lagi berada pada tahap ekspansi awal, tetapi mulai memasuki fase pendalaman yang menuntut stabilitas, tata kelola, dan kualitas pertumbuhan.
Dengan basis tersebut, pertumbuhan IHSG pada 2026 diperkirakan lebih moderat di kisaran 8–12 persen. Proyeksi ini mencerminkan normalisasi yang sehat di tengah stabilisasi kebijakan moneter global dan pertumbuhan ekonomi domestik sekitar 5 persen. Dalam skenario ini, IHSG berpotensi bergerak di rentang 9.300–9.700 pada akhir 2026, dengan motor utama berasal dari pertumbuhan laba emiten, bukan lagi ekspansi valuasi yang agresif.
Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar diproyeksikan menembus Rp17.000–18.000 triliun, dengan rasio market cap terhadap PDB meningkat ke kisaran 73–75 persen.
Angka ini menunjukkan pasar modal tetap atraktif dan tumbuh, meski dengan ritme yang lebih terkendali dan berkualitas. Aktivitas penghimpunan dana juga diperkirakan tetap solid di kisaran Rp230–260 triliun, mencerminkan seleksi emiten yang semakin ketat dan peningkatan kualitas penawaran umum.
Basis investor domestik menjadi penyangga penting optimisme tersebut. Jumlah investor yang telah mencapai 20,2 juta SID pada akhir 2025 diproyeksikan meningkat menjadi 23–24 juta pada 2026. Dominasi investor berusia di bawah 40 tahun memperkuat likuiditas pasar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap arus dana asing, meskipun tantangan literasi dan perlindungan investor tetap perlu diperkuat.
Di pasar obligasi, kinerja positif Indonesia Composite Bond Index sepanjang 2025 mencerminkan stabilitas makro dan kepercayaan investor. Pada 2026, pasar obligasi diperkirakan bergerak lebih defensif dan stabil, berfungsi sebagai jangkar portofolio di tengah potensi volatilitas pasar saham.
Sementara itu, perdagangan karbon mulai menunjukkan peran strategisnya. Meski nilai transaksinya masih relatif kecil, potensi pertumbuhan hingga dua hingga tiga kali lipat pada 2026 menandai terbentuknya kelas aset baru berbasis keberlanjutan yang dapat memperluas ekosistem pasar modal nasional.
Aspek integritas pasar menjadi penentu utama kualitas pertumbuhan ke depan. Penegakan hukum dan sanksi administratif yang dijalankan OJK sepanjang 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar berjalan seiring dengan penguatan tata kelola. Konsistensi pengawasan ini akan menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan investor, khususnya investor institusional jangka panjang.
Dengan seluruh indikator tersebut, optimisme pasar modal Indonesia pada 2026 adalah optimisme yang berbasis data dan struktur.
Jika 2025 adalah tahun akselerasi, maka 2026 adalah tahun pembuktian, apakah pasar modal Indonesia mampu naik kelas sebagai pilar pembiayaan ekonomi nasional yang stabil, berintegritas, dan berkelanjutan. ***














